Advertisement
Kopi TIMES

Positive Parenting Solution: Mendidik Anak Menuju Kedewasaan Yang Baik

Anak merupakan karunia dari Allah SWT yang dititipkan kepada kedua orang tua untuk dijaga, diasuh, dididik dan dilindungi. Namun dibeberapa kondisi kadang anak sering men ...

TIMES Indonesia,
Positive Parenting Solution: Mendidik Anak Menuju Kedewasaan Yang Baik
Chearen Asta Triyana Ningrum, Mahasiswa Institut Agama Islam Darussalam Blokagung Banyuwangi.
A-AA+

Ruang Menulis untuk Indonesia

Kopi TIMES adalah ruang kolaboratif bagi siapa saja yang ingin menyuarakan ide, pengalaman, dan pemikiran kepada publik luas. Di sini, tulisan lahir dari beragam latar belakang: akademisi, mahasiswa, guru, santri, profesional, pelaku UMKM, pegiat komunitas, aktivis, birokrat, politisi, seniman, hingga warga biasa yang peduli pada isu di sekitarnya.

BANYUWANGI Anak merupakan karunia dari Allah SWT yang dititipkan kepada kedua orang tua untuk dijaga, diasuh, dididik dan dilindungi. Namun dibeberapa kondisi kadang anak sering mendapatkan atau sering mengalami perlakuan yang seharusnya tidak mereka terima dalam arti adalah tindak kekerasan. Hingga kini kekerasan pada anak menjadi salah satu kasus yang memerlukan perhatian lebih. 

Kasus kekerasan terhadap anak masih sering ditemukan dalam berbagai bentuk, seperti kekerasan fisik, kekerasan emosional dan kekerasan seksual, sungguh miris. Dari beberapa bentuk kekerasan pada anak tentunya akan mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangannya secara kognitif maupun emosional. Berikut adalah penjelasan lengkap mengenai dampak kekerasan pada anak.

Advertisement

Pertama Penurunan Fungsi Otak, ketika struktur dan perkembangan oak anak terganggu. Mereka akan merasa kesulitan berkonsentrasi dan tidak bisa fokus di sekolah, dalam jangka yang panjang hal ini tentunya akan mempengaruhi penurunan prestasi akademik anak. Dampak kekerasan pada usia dini bias saja berlangsung hingga mereka dewasa dan memicu terjadinya demensia.

Kedua, Kesulitan Mengendalikan Emosi, mereka sering merasakan emosi secara berlebihan, misalnya menjadi lebih mudah marah dan sering merasa ketakutan tanpa penyebab. Dampak kekerasan ini bias dirasakan hingga anak beranjak    dewasa dan mempengaruhi perilaku sehari-hari, bahkan memicu trust issue. Pada akhirnya mereka sulit memaafkan orang lain ataupun diri sendiri dan tidak mampu berkegiatan secara optimal.

Ketiga, enggan bersosialisasi, dampak kekerasan verbal maupun nonverbal seperti pukulan, tamparan maupun cacian dapat menyebabkan anak tumbuh menjadi pribadi yang selalu was-was dan tidak bias percaya kepada orang lain. Alhasil, sang anak menjadi kesulitan membangun hubungan atau berinteraksi dengan orang lain. Hal ini juga memicu terjadinya kegagalan dalam membangun hubungan asmara dan keluarga di masa depan.

Keempat Mengalami Gangguan Mental, ketika anak mendapatkan kekerasan aspek psikologis cukup mendalam. Akan menimbulkan trauma yang berkepanjangan dapat berujung menjadi serangan panik hingga depresi, hal ini juga bisa menimbulkan pikiran-pikiran serta perilaku negatif, seperti penyalahgunaan narkoba, alkohol, hingga penyimpangan seksual.

Kelima, terdorong Melakukan Kekerasan yang Sama, dampak kekerasan orang tua terhadap anak salah satunya bisa mendorong mereka melakukan hal yang serupa di masa depan. Hal ini disebabkan karena anak cenderung tidak menyadari bahwa apa yang mereka terima itu salah, ia mengganggap bahwa itu adalah tindakan yang wajar dan normal. Semakin beranjak dewasa, anak tumbuh dengan mencontoh apa yang orang tuanya lakukan dan memiliki kecenderungan untuk melakukan tindak kekerasan yang sama kepada anaknya di kemudian hari.

Advertisement

Nah, ternyata masih banyak orang tua yang memiliki anggapan bahwa kekerasan yang dilakukan kepada anak adalah tindakan yang wajar. Karena apa? Karena mereka menganggap bahwa kekerasan itu akan membuat anak menjadi lebih mandiri dan lebih disiplin agar sang anak patuh terhadap apa yang orang tua perintahkan. Padahal apa yang dilakukan meraka itu adalah hal yang salah, masih banyak cara yang bisa dilakukan agar sang anak bisa disiplin dan mandiri sesuai apa yang diinginkan orang tua pada umumnya seperti di masa dewasanya kelak, tapi justru kekerasan itu akan membuat anak akan semakin tidak terkendali.

Kedewasaan seseorang ditentukan dari Pendidikan dan pengalamannya, tak ada batasan usia agar seseorang menjadi dewasa. Anak-anak juga bisa diajarkan menjadi dewasa sejak dini. Berikut beberapa cara mengajarkan anak menjadi dewasa dengan baik tanpa kekerasan.
Dengan cara minta anak melakukan pekerjaan. Setelah memperhitungkan usianya, orang tua bisa meminta anak untuk melakukan pekerjaan dan dibayar, seperti menyuruh anak melakukan pekerjaan rumah dan memberikan bayaran ketika anak sudah selesai melakukannya. Anak-anak lebih cenderung menyadari nilai uang dan bekerja keras hanya ketika merasakannya langsung.

Lalu dengan cara menjaga hubungan keluarga. Anak-anak mencapai kedewasaan sosial ketika melihat melihat orang tuanya mempertahankan kedekatan dengan keluarga dan teman-temannya, mengajarkan anak bagaimana berhubungan sosial dan memahami nilai keluarga dalam kehidupan bisa menjadi cara pertama mendekatkan tersebut.

Selanjutnya biarkan anak anda gagal. Tak ada guru yang lebih baik daripada kegagalan, biarkan sang anak mendapat pelajaran dan pengalaman dari kegagalan. Ketika anak berada di ambang kegagalan mungkin sebagai orang tua memiliki rasa ingin membantu atau ingin ikut campur, tetapi lebih baik tahan diri untuk tidak melakukannya jika itu tidak terlalu serius dan biarkan anak gagal dan bangkit lagi, berikan sang anak peluang untuk membuat keputusan sendiri.

Dan yang terakhir bisa orang tua lakukan adalah perlakukan anak seperti orang dewasa, maksudnya seperti apa? Yaitu dengan menghormati apa yang anak-anak katakan, mendengarkan dan menanggapi seperti yang orang tua lakukan dengan orang dewasa lainnya, tidak peduli seberapa dewasa anak-anak terdengar.

Itulah informasi mengenai dampak kekerasan dan bagaimana cara mengatasi pertumbuhan dan perkembangan pada anak dengan baik tanpa adanya kekerasan. Informasi ini tidak hanya bagi orang tua saja, tetapi hal ini juga penting dipahami oleh pasangan baru yang ingin mewujudkan kehidupan keluarga sehat dan harmonis sesuai yang diimpikan.

***

*) Oleh: Chearen Asta Triyana Ningrum, Mahasiswa Institut Agama Islam Darussalam Blokagung Banyuwangi.

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi timesindonesia.co.id

**) Kopi TIMES atau rubrik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]

**) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim apabila tidak sesuai dengan kaidah dan filosofi TIMES Indonesia.

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia