Kopi TIMES

Mencintai Indonesia dengan Gemar Membaca

Rabu, 23 Agustus 2023 - 14:23 | 87.30k
Muhammad Najihul Huda, M.Pd; Dosen Universitas Darul 'Ulum Jombang.
Muhammad Najihul Huda, M.Pd; Dosen Universitas Darul 'Ulum Jombang.

TIMESINDONESIA, JOMBANG – Budaya membaca masyarakat Indonesia sangat terbilang rendah. Hal ini bisa dilihat dari hasil survei yang dilakukan Program for International Student Assessment (PISA) yang di rilis Organization for Economic Co-operation and Development (OECD) pada 2019, Indonesia menempati peringkat ke 62 dari 70 negara, atau merupakan 10 negara terbawah yang memiliki tingkat literasi rendah.

Kondisi ini harus menjadi perhatian bersama semua kalangan. Karena tingkat minat membaca memiliki pengaruh yang kuat terhadap kemajuan bangsa. Membaca dapat mempengaruhi mental, inovasi dan perilaku masyarakat. Banyaknya kabar hoax dikarenakan kemalasan membaca sangat tinggi.

Advertisement

Jika menggunakan analisa sederhana, bukti dari rendahnya minat baca bangsa Indonesia bisa dilihat dari fenomena penonton youtube. Youtuber Indonesia kini sangat diuntungkan, sampai-sampai beberapa penulis buku beralih menjadi konten kreator. Selain itu beberapa waktu lalu beredar berita beberapa toko buku memilih untuk tutup. Kondisi ini sedikit menunjukkan bahwa ketertarikan masyarakat terhadap buku sudah mulai memudar.

Pada dasarnya sudah menjadi rahasia umum bahwa membaca buku dapat membuka jendela dunia.  Gemar membaca (reading society) menjadi kunci untuk berdaptasi dengan perkembangan global. Apa jadinya ketika berharap menjadi orang yang berwawasan namun aktivitas membaca masih sebuah keisengan buat kita. Sebagai bangsa yang besar, Indonesia harus mampu mengembangkan budaya literasi dan memiliki kecakapan hidup.

Jika meneropong ke zaman kejayaan islam dimasa dinasti Abbasiyah, dikarenakan budaya membaca sangat tinggi. Adanya perpustakaan Baitul Hikmah yang mengoleksi berbagai macam kitab menjadi bukti bahwa kebiasaan membaca tidak bisa dipandang remeh. Sehingga melahirkan ilmuan-ilmuan muslim seperti Al-Khawarizmi, Ibnu Rusyd, Ibnu Sina dan lain sebagainya.

Nenek moyang bangsa Indonesia adalah orang-orang berbudaya baca dan tulis yang kuat. Buktinya adalah nenek moyang bangsa Indonesia memiliki lebih dari 100 aksara. Ini menjadikan yang tertinggi di dunia.

Para tokoh proklamasi seperti Ir. Soekarno, Moh. Hatta, Sutan Syahrir, Ki Hadjar Dewantara yang memiliki gagasan cemerlang dikenal dengan kekuatan bacaannnya. Buku-buku yang dihasilkan juga sangatlah banyak.

Dalam dunia pesantren bisa kita lihat bagaimana kealiman para Kiyai. Hal ini merupakan buah dari kegigihan dalam proses pembelajaran di pondok pesantren. Metode yang dilakukan salah satunya sorogan dimana santri membaca kitab didepan kiyai. Serta bandongan dimana kiyai membaca kitab kuning, santri memberikan makna. Aktivitas ini tidak terlepas dari budaya membaca.

Semakin seseorang memiliki minat baca yang tinggi, maka berbagai pengetahuan dan masukan akan ia terima dengan baik dan berdampak positif tidak hanya bagi dirinya tetapi juga lingkungan di sekitarnya. Karena dengan menumbuhkan minat baca, seseorang mampu mengolah, mensistematisasikan, dan mengemas bacaan menjadi hal yang berguna.

Dimomen kemerdekaan Indonesia yang ke 78th ini, para pemuda bisa menjadi pejuang dalam menumbuhkan minat baca. Sebagai bentuk cinta terhadap Bangsa Indonesia. Peningkatan minat baca akan memberikan pengaruh yang besar terhadap kemampuan inovasi individu. Karena, inovasi merupakan sebuah kunci untuk mengantarkan kemajuan bangsa.

Perkembangan teknologi memang sangatlah memberikan perubahan yang sangat pesat. Membaca saat ini tidak harus menggunakan buku, telah banyak media bacaan yang bisa memberikan informasi dan dorongan inovasi. Ada e-book, jurnal ilmiah ataupun platform online yang bisa diakses dengan gratis melalui gadget. Langkah ini untuk menjadikan generasi saat ini sebagai penerus yang bisa tetap cemerlang dimasa mendatang.

Sebagai kalangan yang berada di akar rumput, selayaknya kita mengkampanyekan gemar membaca. Kesampingkan kampanye pemilu, karena itu adalah tugas politisi. Bisa dimulai dari diri sendiri dengan menjadwalkan satu hari satu buku, atau satu jurnal. Ataupun upayakan dalam sehari ada waktu untuk membaca hal yang berguna. Bukan hanya gemar membaca status WA, apalagi kecanduan bermain game online.

Bangsa ini butuh para pemuda, pemuda yang gemar membaca. Tantangan kedepan sangat berat. Jika tidak, bangsa ini akan mengalami kemunduran. Buktikan bahwa kita mencintai Bangsa Indonesia dengan gemar membaca.

***

*) Oleh : Muhammad Najihul Huda, M.Pd; Dosen Universitas Darul 'Ulum Jombang.

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi timesindonesia.co.id

*) Kopi TIMES atau rubrik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

*) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]

*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim apabila tidak sesuai dengan kaidah dan filosofi TIMES Indonesia.

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.



Editor : Hainor Rahman
Publisher : Rochmat Shobirin

Konten promosi pada widget ini bukan konten yang diproduksi oleh redaksi TIMES Indonesia. Tidak ada aktivitas jurnalistik dalam pembuatan konten ini.

TERBARU

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES