Studi Filsafat Ilmu di Program Doktor MPI UIN KHAS Jember
Saya tidak menyangka bahwa ketika melanjutkan studi di Program doktor S3 jurusan Manajemen Pendidikan Islam di Universitas Islam KH. Ahmad Shiddiq Jember (UIN KHAS) akan ...

Ruang Menulis untuk Indonesia
Kopi TIMES adalah ruang kolaboratif bagi siapa saja yang ingin menyuarakan ide, pengalaman, dan pemikiran kepada publik luas. Di sini, tulisan lahir dari beragam latar belakang: akademisi, mahasiswa, guru, santri, profesional, pelaku UMKM, pegiat komunitas, aktivis, birokrat, politisi, seniman, hingga warga biasa yang peduli pada isu di sekitarnya.
PROBOLINGGO – Saya tidak menyangka bahwa ketika melanjutkan studi di Program doktor S3 jurusan Manajemen Pendidikan Islam di Universitas Islam KH. Ahmad Shiddiq Jember (UIN KHAS) akan bersinggungan kembali dengan filsafat. Bedanya ketika di S1 dan S2 belajar filsafat secara umum dengan buku berjudul pengantar filsafat.
Nah, di S3 sekarang, studi filsafat lebih dispesifikkan lagi dengan istilah filsafat ilmu atau filsafat ilmu pengetahuan. Setidaknya, dalam perkuliahan ini, paradigma berpikir kita menjadi lebih luas lagi. Mengenal ilmu dan pendidikan bukan hanya sebatas definitif saja, melainkan mengenal ilmu dan pendidikan dalam tinjauan filosofis yang sangat mendalam.
Tentunya, kecenderungan ketika mendengar sepintas kata filsafat, seolah kita sudah alergi. Padahal itu penting. Maka dari itu, seorang tokoh bernama Gus Dzofir Zuhri, Ketua Sekolah Tinggi Filsafat al-Farabi, Malang. Ingin menggiring persepsi yang selama ini terbangun dalam benak khalayak yang menyatakan bahwa filsafat itu rumit dan seterusnya kepada sebuah arah atau paradigma baru bahwa filsafat itu menyenangkan.
Dalam pengantarnya terhadap buku terbarunya yang berjudul Filsafat Untuk Pemalas, Gus Dzofir mengungkapkan Banyak orang mencoba belajar filsafat, tetapi hanya sedikit yang mau mencoba berfilsafat ke dalam dirinya sendiri. Melalui buku FIlsafat Untuk Pemalas ini, dan mulai sekarang, tinggalkan cara berfilsafat yang sudah kuno dan kedaluwarsa. Jauhi filsafat yang serius dan bikin kita cepat tua.
Pendek kata, kalianlah Kaum Rebahan yang sebenarnya sangat dimanja oleh filsafat. Filsafat tak hanya rancang-bangun tentang kebenaran, tetapi juga (jangan lupa) kebahagiaan, agar kita tetap santuy menjalani hidup: aku berpikir, maka aku happy.
Gus Dzofir, sebenarnya ingin menggiring persepsi lama menuju pola pikir yang baru bahwa berfilsafat itu bisa dilakukan oleh siapa saja, dan filsafat itu bukan hanya untuk kalangan elit atau akademisi kampus saja, melainkan ia juga menyentuh seluruh lapisan di dunia ini bahkan para pemalas.
Dengan pernyataan itu, saya semakin tertarik dalam dunia filsafat. Terlebih filsafat ilmu yang memang menjadi mata kuliah saya di bangku kuliah UIN KHAS Jember. Filsafat ilmu pengetahuan dianggap bagian penting dan dipandang sangat perlu untuk dipelajari oleh mahasiswa karena pengetahuan ini berkaitan erat dengan budaya keilmuan yang menjadi bagian dari kehidupan seorang mahasiswa.
karena itu ada perguruan tinggi yang mulai memperkenalkan filsafat sejak strata 1 (S1), ada yang baru di ajarkan di strata 2 (S2) dan melanjutkannya ke strata 3 (S3).
Filsafat Ilmu di kelas S3 UIN KHAS diampu oleh Prof. Dr. M. Dahlan, M.Ag, seorang dosen yang kulture kesantrian masih sangat melekat dalam diri dan lakunya.
Pada tahun lalu, beliau baru saja dinobatkan sebagai Guru Besar UIN KHAS bidang ushul fiqh. Tak heran, dalam perkuliahan filsafat ilmu beliau sering membawakan teks dan narasi-narasi dalam ilmu ushul fiqh. Yang kedua ilmu tersebut merupakan ilmu yang sama-sama membutuhkan nadzor (pemikiran atau perenungan).
Kelas ini bisa dibilang cukup melelahkan dan menguras pikiran. Pasalnya beberapa literatur penunjang yang disodorkan oleh Prof. Dahlan semuanya berbahasa Inggris salah satu bahasa yang menurut saya pribadi cukup sulit.
Setidaknya dalam tulisan ini saya contohkan enam literatur penunjang mata kuliah filsafat ilmu seperti: Prolegomena to the Metaphysic of Islam: An Exposition of the Fundamental Elements of the Worldview of Islam karya Syed Muhammad Naquib al-Attas, An Introduction to Islamic Cosmological Doctrines karya Seyyed Hossein Nasr, The Structure of Scientific Revolutions karya Thomas S. Kuhn, The Philosophical Foundations of Early German Romanticism karya Manfred Frank, Falsification and the Methodology of Scientific Research Programme karya Imre Lakatos, dan Comjuctures and Refutations: The Growth of Scientific Knowledge karya Karl R. Popper. Itu hanya sebagian saja, masih banyak literatur lain yang berkaitan dengan filsafat ilmu.
Kesan saya pada semester pertama perkuliahan di Program Doktor/S3 MPI UIN KHAS Jember adalah sangat menarik sebab mata kuliah dan para dosen yang keren. Kelas ini juga menjadi sangat menarik karena di dalamnya saya bisa berdialektika dengan banyak mahasiswa dari berbagai latar belakang dan rata-rata semuanya adalah para praktisi pendidikan dari lembaga yang berbeda-beda. Wal hasil, kelas ini sangat hidup.
***
*) Oleh : Alfan Jamil (Dosen Kajian Fiqh Ulama Nusantara di Ma'had Aly Nurul Jadid dan pengajar di PP. Darul Lughah Wal Karomah Kraksaan)
*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi timesindonesia.co.id
**) Kopi TIMES atau rubrik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]
**) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim apabila tidak sesuai dengan kaidah dan filosofi TIMES Indonesia.
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


