
TIMESINDONESIA, MALANG – Cara pandang terhadap gunung Kawi sebagai suatu Kawasan menjadi penting untuk diperhatikan. Gunung Kawi sebagai suatu Kawasan perlu dipandang sebagai rangkaian entitas yang tumbuh dan berkembang dengan segala potensi yang dimiliki. Kawasan lereng gunung Kawi bila di tinjau dari sudut kabupaten Malang bagian selatan setidaknya meliputi 4 kecamatan, mulai dari kecamatan Kromengan, Wonosari, Ngajum hingga Wagir.
Pada Kawasan ini tersaji beraneka ragam potensi baik itu sumber daya alam, potensi kebudayaan, dan potensi Sejarah. Ketiga potensi ini tersebar ke beberapa desa yang menjadi penyangga peradaban lereng gunung Kawi.
Advertisement
Melalui berbagai kegiatan penelitian dan program pengabdian masyarakat seperti KKN Tematik, UNIRA Malang menemukan berbagai potensi yang melimpah ruah di kawasan lereng Kawi tersebut. Mahasiswa KKN Tematik UNIRA Malang atas nama Helina Suciwati, Wahyu Ahmad Muzaidin dan Deni Ardiansyah yang pernah melaksanakan KKN T di desa-desa lereng gunung Kawi mencatat berbagai temuan yang menarik diantaranya secara kesejarahan gunung Kawi tidak bisa lepas dari cerita topeng Panji, berbagai jejak arkeologis seperti candi pasar dan situs Batu Tulis, kesenian tari topeng, kuda lumping, kesenian Reog dan kesenian lainnya, serta potensi kekayaan sumber daya alam seperti Ubi jalar atau menurut penyebutan warga lokal yakni Telo gunung Kawi, kopi Robusta dan Arabika, bunga Mawar dan Bambu lokal yang nyaris merata di semua desa.
Menurut Helina, melihat lereng gunung Kawi harus ecara utuh, dan tidak bisa parsial seperti terbawa stereotip bahwa Kawi merupakan tempat mencari pesugihan. Padahal, lanjut dia, Kawi memiliki beraneka ragam potensi seperti keindahan alam dan potensi kebudayaan yang sangat menarik bila terus di dorong oleh berbagai pihak atau stakeholder Pentehelix yang ada.
Ia dan teman-teman KKN tematik dari kampusnya mengusung tema ketahanan pangan untuk penyelenggaraan KKN pada periode 2022-2023, hal tersebut karena kawasan lereng gunung Kawi menyimpan banyak potensi yang bila dapat dikelola dengan baik maka akan dapat menciptakan suatu mekanisme kultural kedaulatan pangan ditingkat warga lokal.
Terdapat satu buku yang ingin mengangkat potensi lereng Kawi yakni buku berjudul Balesari: Desa Budaya di lereng gunung Kawi yang ditulis oleh Muhammad Imron, Dafis Ubaidillah dan Zainal Abidin yang mengungkapkan berbagai temuan potensi kekayaan yang di miliki dari salah satu desa yang berada di lereng Gunung Kawi.
Desa Balesari ini merupakan tempat dimana Kraton Gunung Kawi berada, suatu tempat religi yang sering digunakan oleh banyak orang untuk menempuh laku ritual dalam upaya mendekatkan diri dengan penciptanya. Meskipun secara ringkas, buku ini juga mengulas kisah perjalanan spiritual Eyang Djugo dan Raden Mas Iman Soedjono.
Buku kajian multi disiplin ilmu ini mengungkap fakta bahwa kekayaan potensi yang di miliki Desa Balesari tidak hanya berhenti pada temuan-temuan hasil penyelenggaraan KKN Tematik saja, namun lebih dari itu desa ini juga memiliki potensi sumber mata air yang sangat menarik. Dikatakan menarik karena beberapa sumber mata air yang ada masih di sakralkan dan menurut penulis buku tersebut bahwa sakralisasi yang ada merupakan bagian dari cara kerja kebudayaan dalam membangun area konservasi atau penjagaan terhadap sumber-sumber mata air yang ada dari potensi kerusakan eksternal. Sumber mata air tersebut diantaranya sumber Panguripan (Kahuripan), sumber air Jodo, sumber air wedhus, sumber Tulung, coban Baong dan lain-lain.
Melihat Gunung Kawi dari satu sudut pandang saja semisal Kawi sebagai tempat mencari pesugihan, tidaklah tepat bahkan cenderung kurang bijak. Kawasan lereng Gunung Kawi menyimpan banyak potensi yang bila diangkat ke permukaan sesungguhnya dapat berdampak kepada peningkatan kesejahteraan masyarakat setempat.
Bisa dicontohkan potensi yang dimiliki oleh desa-desa penyangga Gunung Kawi seperti Desa Jambuwer yang berada di kecamatan Kromengan. Desa ini memiliki potensi kesenian tari topeng, kerajinan (seni ukir) membuat topeng panji, hingga potensi kopi robusta dengan berbagai kelompok petani kopi yang telah memiliki standar ideal dalam pengelolaan ataupun pengolahan kopi pasca panin.
Terkait kopi, Prawoto Indarto penulis Buku Absolute Coffe bahkan menjelaskan bahwa Malang merupakan Ibu Kandung kopi khususnya kopi Robusta di Indonesia, dan kopi tersebut diantaranya di tanam di lereng gunung Kawi sejak era Kolonial.
Tidak hanya Desa Jambuwer dan Balesari, satu lagi desa yang tidak kalah menarik dengan aneka potensi yang dimiliki yaitu desa Sumberdem. Desa di lereng Gunung Kawi ini memiliki konsep kampung tematik yakni kampung Kopi, kampung Rosella, kampung KRPL (Kawasan Rumah pangan Lestari), kampung Toga dan kampung Ternak. Produk kopi yang dihasilkan dari kampung tersebut misalnya telah cukup beragam mulai dari kopi robusta, excelsa, liberica hingga arabika. Bahkan selain tiga desa ini, pasti masih banyak desa-desa lainnya yang memiliki keunggulan potensi.
Desa-desa di kawasan lereng Gunung Kawi ini memang memiliki ciri khas potensi yang cenderung mirip sebagai kesatuan kawasan. Bentang alam yang ada disatukan oleh tanaman kopi, bambu, Ubi dan di ikat dalam sabuk kebudayaan yang cenderung sama yakni tari topeng panji dan aneka kesenian lainnya.
Kedepan, pembangunan berbasis kawasan menjadi penting untuk diperhatikan untuk menyatu-padukan berbagai potensi yang ada. Bahkan pada satu titik perlu strategi pemajuan kebudayaan yang mengkoneksikan desa-desa di kawasan lereng gunung kawi ini, semisal dengan konsep experiential tourism atau setidaknya mendorong agar desa-desa yang ada dalam kawasan tersebut untuk segera memiliki Dokumen Pemajuan Kebudayaan Desa sehingga pada gilirannya akan muncul peraturan-peraturan desa yang mendukung terhadap gerakan pemajuan kebudayaan di level desa yang berfokus pada peningkatan kesejahteraan. Bukankah ini lebih penting dari pada terjebak pada isu pesugihan yang belum tentu nyata adanya? (*)
*) Oleh : Muhammad Imron, Kepala LPPM Universitas Islam Raden Rahmat Malang
*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi timesindonesia.co.id
*) Kopi TIMES atau rubrik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
*) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]
*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim apabila tidak sesuai dengan kaidah dan filosofi TIMES Indonesia.
**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.
Editor | : Wahyu Nurdiyanto |
Publisher | : Ahmad Rizki Mubarok |