Kopi TIMES

Ketergantungan Game Online, Salah Siapa?

Senin, 30 Oktober 2023 - 12:57 | 27.84k
Dr. Kukuh Santoso, M.Pd, Dosen Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Islam Malang (UNISMA).
Dr. Kukuh Santoso, M.Pd, Dosen Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Islam Malang (UNISMA).

TIMESINDONESIA, MALANG – Kecanduan game online memiliki dampak yang besar seperti anak malas belajar, gangguan kesehatan dan banyaknya keluhan orang tua akan biaya yang dihabiskan untuk game online.  Bagaimana dengan anak yang terlanjur ketergantungan game online?

Lagi-lagi membahas teknologi, sebelum merambah perdagangan online, registrasi online, dan kegiatan lain yang serba online, game sudah ada membarengi hadirnya teknologi di kehidupan masyarakat.

Hanya game sederhana yang ada di hp jaman dahulu, semenjak berkembangnya android dan system pada perangkat elektronik semakin canggih, game bertransformasi menjadi game online. Game online merupakan aplikasi permainan yang dapat dioperasikan di perangkat elektronik (hp, computer, laptop) dan membutuhkan saluran internet untuk mengoperasikannya serta sifatnya yang berbayar.

Namun, karena game online memiliki system yang sangat menarik untuk dimainkan dibandingkan dengan game offline sehingga siapapun yang memainkan game online merasa senang dan tertantang untuk mendapatkan reward-reward yang ada di dalamnya.

Ketergantungan bermain game online sangat berbahaya khususnya bagi anak-anak. Menurut pendapat medis yang dikutip dari artikel halodoc kecanduan game online bisa berdampak pada gangguan otak dan psikososial. Bagi orang awam bisa memperhatikan tanda-tanda pengaruh ketergantungan game online yang terjadi pada anak seperti:

1.      Tidak peduli dengan orang dan lingkungan disekitarnya

Ketika anak sudah terfokus pada layar monitor tidak akan memperhatikan keadaan sekitar, alhasil tumbuh menjadi anak yang cuek dengan kondisi lingkungan sekitar.

2.      Kurang pergaulan secara langsung

Karena kecanduan bermain game online, anak lebih merasa senang dan lebih memilih berdiam diri di rumah untuk bermain game sehingga anak kurang beraktivitas dan berinteraksi secara langsung dengan teman-teman sebayanya.

3.      Teridikasi melakukan top up aplikasi game online.

Ketika anak sudah mencoba melakukan top up atau isi ulang saldo untuk bermain game online, patut diwasapadai menjadi tanda-tanda anak kecanduan, hal ini memungkinkan anak untuk melakukan menipuan terlebih kepada orang tua, meminta uang terus menerus dengan berbagai alasan. Yang dikhawatirkan anak akan melakukan penipuan kepada orang lain demi mendapatkan kesempatan top up game online.

INFORMASI SEPUTAR UNISMA DAPAT MENGUNJUNGI www.unisma.ac.id

Kemudian ketika sudah terjadi ketergantungan game online pada anak siapakah yang salah? Apa memang anak yang tidak bisa mengendalikan dirinya untuk bermain game online? atau kebijakan orang tua yang terlalu membebaskan anak bermain gadget? Ketika sudah terjadi hal tersebut perlu dianalisis apa saja factor-faktor yang melatarbelakangi sang anak bisa bermain game tanpa batas.

Untuk anak seusia SD yang sudah ketergantungan game online apalagi mencapai tahap top up, bisa dipastikan bahwa perhatian orang tua terhadap penggunaan gadget oleh anak kurang. Apabila orang tua mengeluh akan kebiasaan sang anak, maka perlu dipertanyakan balik kepada orang tua ”Mengapa anda (orangtua) mengizinkan anak bermain gadget tanpa batas waktu dan tanpa pegawasan secara langsung?” “Lalu mengapa anda (orang tua) juga dengan mudah memberikan uang kepada anak tanpa ditanyakan untuk apa uang tersebut?”.

Dalam fenomena seperti ini seharusnya orang tua lebih aware terhadap pembatasan penggunaan gadget dan bermain game online pada anak. Sebenarnya untuk usia anak-anak bukan waktunya untuk bermain online, pertama karena sifat game online yang berbayar, kedua dalam game online banyak tampilan-tampilan yang tidak untuk dikonsumsi anak-anak.

Tidak semua orang tua melek teknologi, masih banyak orang tua yang gaptek, bagaimana? Bagi orang tua yang gaptek, bisa menerapkan jadwal penggunaan gadget dan pemakaian gadget dengan dampingan orang tua, karena meskipun orang tua gaptek namun sebagai manusia pasti tau mana tampilan-tampilan yang layak dan tidak layak untuk anak-anak.

Untuk remaja tingkat SMP ke atas, dimana orang tua tidak lagi bisa mengawasi kegiatan anak 24/7 karena berbagai hal, seperti anak harus kost karena sekolah diluar daerah, kegiatan sekolah fullday, dan diusia remaja anak mulai merasa memiliki privasi. Saat mereka kecanduan game online, maka yang tidak benaar dalam hal ini adalah dari diri anak itu sendiri dimana mereka belum bisa mengendalikan dirinya sendiri dalam penggunaan gadget untuk game online.

Oleh karena itu melatih manajemen diri pada anak sejak dini sangat berpengaruh pada hasil tumbuh kembang anak. Apabila orang tua sadar akan pentingnya mengawasi, mendampingi, dan mendidik segala aktivitas anak sejak dini, maka anak akan terbiasa hidup teratur. Sebaliknya, ketika orang tua kurang memiliki kesadaran untuk mendampingi semua aktivitas anak dan memberikan kebebasan secara merial kepada anak. Maka anak tidak terbiasa dengan kehidupan yang teratur dan berpotensi memiliki kehidupan yang tidak terarah.

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.

Advertisement



Editor : Dhina Chahyanti
Publisher : Rochmat Shobirin

TERBARU

Togamas - togamas.com

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES