Kopi TIMES

Refleksi Hari Sumpah Pemuda: Pemuda Pemimpin Masa Depan

Senin, 30 Oktober 2023 - 06:29 | 29.35k
Salman Akif Faylasuf: Alumni PP Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo. Sekarang Nyantri di PP Nurul Jadid Paiton Probolinggo.
Salman Akif Faylasuf: Alumni PP Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo. Sekarang Nyantri di PP Nurul Jadid Paiton Probolinggo.

TIMESINDONESIA, PROBOLINGGO – “Beri aku 10 pemuda, niscaya akan aku guncangkan dunia”. Bung Karno

Jika kita merenung dan merefleksikan kalimat pidato Bung Karno, maka sejatinya jumlah besar saja tidaklah cukup untuk bisa membawa bangsa ini menjadi bangsa yang maju dan diperhitungkan di dunia. Tak perlu menunggu bonus demografi untuk bisa memberikan kehormatan yang layak bagi bangsa dan negaranya. Dengan pemuda dan pemudi yang berkualitas akan dapat mewujudkannya.

Peran pemuda dalam kepemimpinan sangatlah besar dan penting. Bagaimana tidak, pemuda adalah individu yang bila dilihat secara fisik sedang mengalami perkembangan dan secara psikis sedang mengalami perkembangan emosional. Sehingga pemuda merupakan sumberdaya manusia pembangunan saat ini dan masa datang.

Dalam hal kepemimpinan, pemuda masih belum mempunyai mental yang kuat. Namun tak sedikit pula pemuda yang sukses dalam menjalankan amanah sebagai pemimpin. Misalnya Umar ibn Abd Al-Aziz yang menjadi gubernur Madinah pada usia yang belum genap 24 tahun. Kemudian setelah enam tahun menjadi seorang khalifah Bani Umayyah.

Faktor yang melatarbelakangi kesuksesan Umar adalah rasa adil dan amanah yang diterapkan dalam kebijakannya. Di antaranya kebijakan yang dilakukan Umar dalam bidang politik adalah memecat para pejabat yang zalim dengan mengganti terhadap pejabat baru yang dapat berlaku adil dan benar, walaupun bukan dari golongan Umayyah sendiri. 

Bahkan, menghapuskan hak-hak istimewa yang diberikan kepada keluarganya. Umar tidak pilih kasih terhadap semua rakyatnya.

Misalnya, dalam penarikan pajak, Khalifah Umar Ibn Abdul Aziz telah menekankan bahwa pajak harus dikumpulkan dengan adil. Dan dalam pengambilannya, haruslah bersikap lemah lembut tanpa adanya tindak kekerasan. Juga jangan sampai melebihi kemampuan orang yang dibebani.

Tak hanya itu, Umar melakukan pembersihan dikalangan keluarga Bani Umayyah. Tanah-tanah atau harta lain yang pernah diberikan kepada orang tertentu di masukan ke dalam Baitul Mal. Terhadap para gubernur dan pejabat yang bertindak sewenang-wenang. Ia tidak ragu-ragu untuk mengambil tindakan tegas. Ia juga memecat Yazid bin Abi Muslim (Gubernur Irak) dan Assaqafi dari jabatannya sebab pemungutan pajak di Mesir.

Selain dia dari kalangan Bani Umayyah karena merupakan menantu dari Khalifah sebelumnya. Ia dikenal juga sebagai sosok pemimpin yang bijaksana, adil, jujur, sederhana, alim, wara’ dan tawadlu’ serta zuhud.

Contoh lain kesuksesan pemuda dalam memimpin adalah pada diri Sultan al-Fatih. Ia adalah putra dari Sultan Murad II yang merupakan raja keenam Daulah Utsmaniyah yang hidup di masa setelah Sultan Salahuddin al Ayyubi (pahlawan perang Salib). Ia memerintah Daulah Utsmaniyah dalam usia kurang lebih 22 tahun setelah Sultan Murrad II wafat.

Lebih dari itu, ia mempunyai kepribadian yang cemerlang. Kekuatan dan keadilan telah tercermin dalam pribadinya sebagaimana ia sangat unggul dalam segala bidang ilmu. Ia mengikuti jejak ayahnya dalam memperoleh beberapa kemenangan. Kepribadiannya sangat mencerminkan seorang pemimpin yang luar biasa dari segi salehnya dan keilmuannya yang tinggi. 

Pemimpin Masa Depan

Kita tahu, bahwa generasi muda adalah pemimpin masa depan. Seperti ungkapan bahwa “masa depan bangsa terletak pada genggaman generasi pemuda”. Artinya, baik buruk suatu umat atau bangsa tergantung pada pemudanya. Yusuf Qardawi mengatakan “apa bila ingi melihat suatu negara di masa depan, maka lihatlah para pemudanya hari ini.”

Ungkapan ini menjadi standarisasi dan barometer dalam pembinaan dan pendidikan generasi muda, untuk melanjutkan perjuangan dan menjadi pilar kebangkitan. Dengan kata lain, generasi muda di tuntut untuk mendidik dirinya menjadi generasi muda yang memiliki jiwa kepemimpinan.

Tentu tidak diragukan lagi bahwa banyak peran pemuda bagi bangsa ini. Sejarah telah mencatat bagaimana Sultan Syahrir berperan besar dalam sejarah kemerdekaan bangsa Indonesia. Bagaimana Mark Zukerberg, Lary Page dan Sergey Brein yang begitu memiliki peranan besar dalam merubah peradaban dunia. 

Demikian pula kisah Ibrahim yang berani memberontak dan bertindak revolusioner untuk memperbaiki tatanan sistem masyarakat yang sudah rusak.

Kisah Ashabul Kahfi adalah bukti nyata bahwa pemuda selalu punya peran dalam merubah kondisi suatu bangsa yang tertindas oleh kesewenang-wenangan penguasa. 

Selain itu, para Nabi dan Rasul adalah contoh teladan peran pemuda dalam merubah suatu bangsa. Seperti yang dikatakan Michael H. Hart seorang penulis Barat terkenal dalam bukunya “The 100 a Ranking of The Most Influential Persons in History” menuliskan bahwa Nabi Muhammad sebagai pemimpin yang paling berpengaruh di dunia.

Di dalam al-Quran banyak sekali ayat-ayat yang menyinggung tentang kepemimpinan. Misalnya adalah surah An-Nisa’ ayat 58 yang artinya “Sungguh, Allah menyuruhmu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia hendaknya kamu menetapkannya dengan adil. Sungguh, Allah sebaik-baik yang memberi pengajaran kepadamu. Sungguh, Allah Maha Mendengar, Maha Melihat.” 

Ayat ini memerintahkan tentang kewajiban memegang amanat dan memberikan amanat kepada orang-orang yang pantas (ahli). Pada kenyataanya, banyak sekali bermuculan generasi muda yang memegang peran penting berbagai sektor. Terutama dalam hal kepemimpinan. Dengan demikian, harus di yakini bahwa pemuda layak menjadi pemimpin.

Pengikut Jejak Nabi

Generasi pertama pengikut Rasulullah Saw, kebanyakan dari kalangan pemuda. Bahkan sebagian masih anak-anak. Mereka mendapatkan transfer pemikiran (thaqafah) Islam dari Rasulullah Saw. Misalnya Ali bin Abi Thalib dan Zubaer bin Awwam (8 tahun), Thalhah (11 tahun), Al-Arqam (12 tahun ), Abdullah bin Mas’ud (14 tahun), Saad bin Abi Waqqas (17 tahun), Ja’far bin Abi Thalib (18 tahun), Zaid bin Haritsah (20 tahun), Ustman (20 tahun), Mushab bin Umair (24 tahun), Umar bin Khattab (24 tahun) dan generasi lainnya.

Akhirnya, dari pemuda-pemuda inilah terbentuk cikal-bakal generasi terbaik yang berhasil membongkar stagnasi pemikiran, kebodohan adat jahiliyah yang telah mengakar di Jazirah Arab. Sehingga menjadikan Jazirah Arab sebagai pusat peradaban dunia dan berhasil menempatkan umat Islam di posisi puncak peradaban selama berabad-abad lamanya.

Selain itu, jika menelisik sejarah Indonesia sendiri mempunyai banyak pahlawan yang pada masa mudanya sudah menjadi pemimpin. Misalnya seperti Hamengkubawana IX dinobatkan sebagai Raja pada usia 28 Tahun pada maret 1940. Sutomo dengan kawan-kawannya yang berusia 20-25 Tahun mendirikan Budiutomo.

Tak bisa dipungkiri bahwa peran pemuda semakin hari semakin berkembang dalam masa modernisasi ini. Hampir setiap sektor dalam dimensi kehidupan menyertakan kontribusi dan peran para pemuda-pemudi. Begitu juga dalam hal kepemimpinan, baik dalam skala kecil seperti pemimpin organisasi, usaha, perusahaan, dan lainnya. 

Tentunya, perubahan dan kesempatan emas yang baik bagi para pemuda-pemudi. Selain diberikan kepercayaan sebagai mimpin, nantinya pemuda akan banyak tahu dan berpengalaman dalam hal bergerak. Karena gerakan pemuda memanglah sangat dibutuhkan di Era Milenial ini. 

Disinilah peran-peran pemuda dibutuhkan. Namun demikian, pemuda bukan hanya sekedar menjadi perubahan. Akan tetapi harus menjadi kekuatan sebuah kebijkan jika nantinya beberapa sektor dan kuasa ada di tangan pemuda. 

Layaknya Rasulullah Saw yang mampu mengemban amanat tepat pada Umur 25 tahun. Tentunya, sifat yang wajib ditanamkan oleh pemuda adalah Siddiq, Amanah, Tabliq dan Fathanah.

***

*) Oleh: Salman Akif Faylasuf: Alumni PP Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo. Sekarang  Nyantri di PP Nurul Jadid Paiton Probolinggo.

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi timesindonesia.co.id

**) Kopi TIMES atau rubrik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]

**) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim apabila tidak sesuai dengan kaidah dan filosofi TIMES Indonesia.

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.

Advertisement



Editor : Hainorrahman
Publisher : Rochmat Shobirin

TERBARU

Togamas - togamas.com

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES