Kopi TIMES

Seni Menavigasi Ketidakpastian 

Senin, 06 November 2023 - 18:43 | 1.12m
Wahyu Widiantoro, M.A, Staf Pengajar Psikologi UP45 (Universitas Proklamasi 45)
Wahyu Widiantoro, M.A, Staf Pengajar Psikologi UP45 (Universitas Proklamasi 45)

TIMESINDONESIA, YOGYAKARTA – Ketidakpastian (uncertainty) tentang kejadian di masa depan dapat menimbulkan kekhawatiran, kecemasan, ketakutan, ketidakmampuan untuk melakukan antisipasi bahkan ketidakberdayaan. 

Individu menghadapi berbagai sumber ketidakpastian dari eksternal lingkungan. Seperti situasi akibat pandemi, konflik kepentingan politik serta yang dipicu oleh revolusi di bidang teknologi dalam beberapa tahun terakhir ini. 

Tema menarik sebagai diskusi bisnis dan perilaku organisasi pun membahas volatility, uncertainty, complexity dan ambiguity (VUCA), yang menggambarkan era disrupsi. 

Sumber ketidakpastian juga dapat berasal dari internal individu. Seperti persepsi subjektif individu terhadap ketidakmampuan memprediksi konsekuensi yang akan terjadi. Pada situasi yang tidak pasti, akan ada individu yang mampu mengatasi dan ada pula individu yang tidak mampu mengatasi.

Ketidakmampuan seorang individu dalam menghadapi ketidakpastian disebut sebagai intoleransi terhadap ketidakpastian (Intolerance of uncertainty). 

Hasil penelitian McEvoy dan Mahoney, (2011), mengungkap bahwa individu yang tidak toleran terhadap ketidakpastian cenderung mempersepsikannya sebagai stres dan kemudian merespon negatif pada emosional, kognitif, dan tingkat perilaku.

Individu hidup di dunia yang penuh dengan ketidakpastian. Situasi yang bermanfaat untuk menunjukkan kewaspadaan yang berlebihan terhadap ketidakpastian dan selalu bersiap menghadapi hasil negatif. 

Ketidakpastian berimplikasi pada kecemasan karena berdampak terhadap keadaan emosi. Ketidakpastian yang menimbulkan emosi negatif cenderung mengarahkan individu melakukan perenungan mempertanyakan kegagalan maupun kejadian di masa lalu yang akhirnya mempengaruhi perasaan dan pemikirannya saat ini (Ruminasi). 

Hasil penelitian Erickson, Michelle, Newman, & Tingey, (2020), memaparkan bahwa ruminasi dapat berakibat pada perasaan tidak nyaman secara mendalam (disforia), cemas, dan yang paling buruk keinginan bunuh diri.

Terdapat usaha nyata yang harus dilakukan dan secara sadar menjalani proses sehingga mampu memahami bahwa perubahan merupakan suatu hal yang memang seharusnya terjadi. Ketangguhan individu dalam beradaptasi dengan situasi ketidakpastian mempengaruhi kemampuan individu untuk dapat menghadapi kecemasan. 

Seperti yang diuraikan dalam sebuah jurnal psikologi positif oleh Maddi, (2006), bahwa pribadi yang tangguh berupaya untuk terus tumbuh dan berkembang di dalam hidup, dengan terus berjalan maju ke depan meskipun kondisi tidak pasti yang dapat menimbulkan kecemasan dan stress. 

Ketangguhan (hardiness) merupakan persepsi individu tentang diri mereka pada tiga dimensi, yaitu komitmen atas apa yang dikerjakan, kontrol akan situasi dan lingkungan, serta tantangan yang dihadapi (Maddi & Khoshaba, 1994).

Kesadaran tentang bagaimana segala sesuatu berjalan seiring berjalannya waktu dan kesediaan untuk menyadari (mindfulness) keadaan sekarang dapat memberikan rasa keseimbangan suasana hati terhadap perbedaan antara realitas dan harapan. 

Berdasarkan sebuah studi literatur, salah satu faktor yang berperan penting dalam menghadapi kondisi pemicu tekanan psikologis (stress) dengan cara yang lebih sehat dan efektif. Sehingga individu memiliki kemampuan beradaptasi dan bangkit saat menghadapi situasi sulit (resiliensi) adalah sikap welas diri (self-compassion). 

Sesuai dengan hasil penelitian Neff (2007), bahwa seseorang dengan self-compassion yang tinggi memiliki resiliensi yang baik ketika menghadapi tuntutan dan situasi yang menekan.

Adanya ketangguhan diri akan membangun sikap optimisme bahwa permasalahan hidup dapat diselesaikan dan memiliki ketenangan dalam menghadapi situasi sulit. Kemampuan welas diri sebagai upaya penerimaan terhadap keadaan sulit yang sedang dialami. 

Keterbukaan individu mengenai kondisi pada kenyataan saat ini dan mengijinkan dirinya untuk merasakan emosi serta pikiran secara sadar tanpa adanya kecenderungan untuk membesar-besarkan penderitaan.

Penting untuk menggunakan gaya berpikir yang lebih bernuansa mempertimbangkan berbagai perspektif dibandingkan pilihan hitam dan putih. Bersikap terbuka terhadap cara berpikir baru. 

Butuh integrasi pengetahuan, pengalaman, dan pemahaman mendalam, serta toleransi terhadap ketidakpastian yang sedang dihadapi. Kecerdasan, kerendahan hati intelektual, dan introspeksi yang tinggi juga berkontribusi dalam upaya menavigasi ketidakpastian. 

***

*) Oleh : Wahyu Widiantoro, M.A, Staf Pengajar Psikologi UP45 (Universitas Proklamasi 45)

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi timesindonesia.co.id

*) Kopi TIMES atau rubrik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

*) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]

*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim apabila tidak sesuai dengan kaidah dan filosofi TIMES Indonesia.

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.

Advertisement



Editor : Hainorrahman
Publisher : Rochmat Shobirin

TERBARU

Togamas - togamas.com

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES