Kopi TIMES

Jejak Sejarah Umbul Senjoyo: Area Olah Spiritual Jaka Tingkir

Rabu, 08 November 2023 - 09:27 | 75.44k
Laila Miftahur Rohmah, Mahasiswa Universitas Negeri Semarang.
Laila Miftahur Rohmah, Mahasiswa Universitas Negeri Semarang.

TIMESINDONESIA, SEMARANG – Menapaki jejak sejarah umbul Senjoyo tempat petirtaan pada era kepemimpinan Sanjaya, raja di Medang. Umbul Senjoyo merupakan tempat mata air dalam satu kesatuan yang terdiri dari sumber air, kolam alami, dan sungai. 

Umbul Senjoyo, secara Geografis terdapat di Desa Tegalwatonn, Kecamatan Tengaran, Kabupaten Semarang. Termasuk kedalam Kawasan Kota Salatiga Jawa Tengah. 

Dilihat dari lingkungan yang asri, Air di Umbul Senjoyo ini sangat jernih, kemudian dimanfaatkan oleh masyarakat maupun pemerintah daerah kota semarang untuk dijadikan PDAM yang berguna untuk masyarakat sekitar dalam kegiatan sehari-hari. 

Selain itu Umbul Senjaya merupakan salah satu destinasi wisata yang sangat indah dan murah. Tak heran baik wisatawan lokal maupun mancanegara memadati area ini.  

Menurut Sejarahnya Senjoyo berasal dari kata “Sanjaya”. Sanjaya adalah nama Raja kerajaan Mataram Kuno yang melanjutkan eksistensi kerajaan Kalingga. Terdapat bukti bahwa terjadi mobilitas di area ini melalui prasasti Canggal, yang bertuliskan tentang pendirian sebuah lingga dan pembangunan candi untuk memuja Siwa di Gunung Wukir, Jawa Tengah. Kedu yang berada di tengah antara Salatiga dan Prambanan. 

Setelah ditelisik memang benar terdapat petirtaan atau bangunan candi sampai Kampung Kuna disekitar Umbul Senjoyo. Penggunanaan kata Senjoyo ini dimulai era setelah Sanjaya atau pada masa Mrawantipura. Hal ini dilakukan untuk penghormatan kepada Ratu Sanjaya. 

Selanjutnya pada era Prabu Hadiwijaya tahun 1549 sampai 1582, Prabu Hadiwijaya atau dikenal dengan Jaka tingkir seorang pemuda dari keturunan Ki Kebo Kenongo atau Ki Ageng Pengging dari Boyolali. Singkat cerita Kedua orang tua Jaka Tingkir Meninggal dan di asuhlah oleh Nyi Ageng Tingkir yang berasal dari Desa Tingkir, Salatiga. 

Joko Tingkir tumbuh menjadi pemuda yang tangguh dan pemberani. Suatu ketika Jaka tingkir datang ke Sendang Senjaya untuk melakukan olah spiritual yaitu dengan “Laku Kungkum” hingga mendapat ajian “Lembu sekilan” atau dapat menghilang dan melebar jarak jika dipukul musuh melalui kontak fisik. 

Melalui Kesaktian tersebut Jaka Tingkir mendapatkan Jabatan menjadi seorang panglima perang di kerajaan Demak. Kemudian berkat kegigihanya Jaka Tingkir mampu memindahkan Kerajaan Demak ke Padjang. 

Kesaktian Jaka Tingkir ini juga dapat dilihat. Ia dapat mengecilkan debit air dengan cara membuat subal dari potongan rambutnya. Karena jika tidak disubal debit air yang besar akan membentuk danau diarea tersebut. 

Hingga saat ini dipercaya oleh sebagian orang bahwa melakukan ritual “kungkum” di Senjoyo dapat mendatangkan suatu keberkahan karena sumber mata air yang mengalir merupakan hasil dari tapa Jaka Tingkir. 

Salah satu seorang pengunjung bernama Susanto (28), Warga kedungringin, Kab. Semarang menuturkan bahwa Umbul Senjoyo merupakan tempat yang sakral dan diyakini oleh sebagian orang dapat mendatangkan berkah jika seseorang melakukan tirakat di tempat tersebut. 

“Sejarah Umbul Senjoyo ada kaitannya dengan kehidupan spiritual Jaka Tingkir. Sehingga memiliki kekuataan gaib yang dipercaya dapat mendatangkan berkah bagi orang yang melakukan ritual Kungkum di malam hari“.

Saat ini selain sebagai kegiatan spiritual, Senjoyo merupakan kolam pemandian yang jernih dan nampak ikan-ikan yang cantik. Hal ini merupakan salah satu daya tarik wisatawan untuk mengunjungi Senjoyo. Selain itu terdapat spot foto alami yang memukau. 

“menurut saya Umbul Senjoyo merupakan salah satu rekomendasi destinasi wisata yang cocok untuk dikunjungi, karena disini kita dapat berendam, berenang bersama ikan-ikan yang cantik. Selain itu karena keindahannya kita dapat berfoto-foto yang dapat diupload di sosial media.” Kata seorang wisatawan bernama Devi (26) asal Susukan, Kab. Semarang. 

Selain itu, masyarakat disekitar Umbul Senjoyo kini dapat meningkatkan ekonomi, yaitu masyarakat dapat berdagang di area Umbul Senjoyo. Baik berupa makanan, minuman maupun oleh-oleh yang dapat menarik wisatawan untuk membelinya. 

Mengingat area ini sangat bermanfaat sebagai sumber kehidupan karena mata air Senjoyo tidak pernah habis maupun mengering bahkan pada saat kemarau tiba. Maka kita harus tetap menjaga dan melestarikan umbul Senjaya. Selain itu area ini juga dapat digunakan untuk transfer nilai-nilai kehidupan jika dapat dimaknai dengan benar. 

***

*) Oleh: Laila Miftahur Rohmah, Mahasiswa Universitas Negeri Semarang.

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi timesindonesia.co.id

*) Kopi TIMES atau rubrik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

*) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]

*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim apabila tidak sesuai dengan kaidah dan filosofi TIMES Indonesia.

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.

Advertisement



Editor : Hainorrahman
Publisher : Rochmat Shobirin

TERBARU

Togamas - togamas.com

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES