Kopi TIMES

Urgensi Boikot Produk Israel Dari Prespektif Ekonomi Islam

Rabu, 08 November 2023 - 16:41 | 64.18k
Muhammad Nafis S.H,. M.H, Dosen Program Studi Hukum Keluarga Islam, Fakultas Agama Islam (FAI), Universitas Islam Malang (UNISMA).
Muhammad Nafis S.H,. M.H, Dosen Program Studi Hukum Keluarga Islam, Fakultas Agama Islam (FAI), Universitas Islam Malang (UNISMA).

TIMESINDONESIA, MALANG – Sejak awal bulan oktober 2023 atau tepatnya saat Hamas menyerang Negara isrel, ledakan perang dan bahkan penganiayaan terhadap warga Negara Palaestina semakinj massif.

Bahkan ada banyak sekali korban yang berjatuhan, yang lebih mengerikan juga semua korban tersebut mayoritas adalah ibu dan anak kecil. Bahkan beberapa pengamat dan pejabat pemerintahan menegaskan setiap 10 menit ada satu anak kecil yang gugur dalam tragedy kali ini. Dengan alasan serangan balasan Israel menggempur semua daerah jalur gaza hingga rata dengan tanah, ada banyak sekali korban yang juga masih belum ditemukan akibat berada dalam reruntuhan bangunan.

Respon dunia terus berdatangan untuk mengakhir perang tersebut, mulai dari kalangan lintas agama, budaya dan berbagai organisasi islam. Namun perang tetaplah perang, saat ini tindakan Israel mungkin tidak bisa dibenarkan sebab ada banyak rakyat sipil yang menjadi korban, atau bisa dikatakan juga bahwa saat ini tragedy tersbut tidak bisa lagi disebut dengan perang melainkan suatu penjajahan.

Lantas apa yang kita bisa lakukan sebagai umat islam Indonesia yang mungkin memiliki jarak terlampau jauh dari Palestina. Selain terus memanjatkan doa demi keselamatan umat manusia di Negara tersebut namapkya seruan untuk boikot bisa menjadi pilihan lain. Meski tidak terlalu massif, namun gerakan ini memiliki nilai tersendiri sebagai bentuk dukungan terkait keadilan bagi semua manusia.

INFORMASI SEPUTAR UNISMA DAPAT MENGUNJUNGI www.unisma.ac.id

Namun masih banyak yang meragukan apakah keputusan boikot terhadap produk turunan dan kerja sama Israel ini bisa berdampak banyak? Atau mungkin masih ada yang beralasan meski adanya gerakan boikot berbagai produk tersebut tidak langsung bangkrut. Untuk meliahat lebih jauh, ada beberapa prespektif dari pandangan ekonomi islam dari gerakan tersebut.

Perlu diapahami juga ada beberapa pengamat yang menilai bahwa tragedi ini pasti memiliki unsur ekonomi dan politik. Dari segi politik tentu agar Amerika sebagai actor penting menjadi makin kuat mencengkramkan kuku kekuasaannya pada beberapa Negara dia asia timur hingga timur tengah seperti Palestina, sehingga tragedi tersebut menjadi bagian untuk memperkuat rencana mereka tersebut.

Sedangkan dari segi ekonomi Amerika ingin mengembalikan kebijakan politik di atas segalanya karena sebelum tragedi tersebut kebijakan ekonomi lebih dikedepankan akibat pengaruh globalisasi dunia yang makin pesat. Alasan ini juga diperkuat dengan pendapat Prof. Klose Shawp ketua Asosiasi Ekonomi Internasional dalam acara Muktamar Asosiasi Ekonomi Internasional di India pada tanggal 3 Desember 2001 yang mengatakan, bahwa dengan tragedi tersebut telah menjadikan posisi pemerintah menjadi berpengaruh dalam menjalankan kebijakan politiknya, yang sebelumnya kebijakan ekonomi lebih diprioritaskan dari kebijakan politik.

Ada semboyan yang sangat familier bahwa “Setiap satu dollar yang kamu pergunakan untuk membeli produk mereka adalah sama dengan memberikan mereka satu peluru untuk membunuh satu orang Islam”.

Dalam beberapa penelitian salah satunya Kamaluddin, Imam. "Urgensi Jihad Masa Kini Dalam Perspektif Islam." Ijtihad 13.2 (2019) menjelaskan bahwa makna semboyan tersebut adalah Jihad dengan mempergunakan harta/ekonomi yang telah dicontohkan oleh para sahabat ketika perang fi Sabilillah melawan kaum kafir Quraisy, dimana Umar ra menumbangkan separuh hartanya dan Abu Bakar ra menyumbangkan seluruh hartanya untuk kepentingan Jihad fi Sabilillah. Ketika Abu Bakar ra ditanya, ”Apakah yang akan engkau tinggalkan untuk keluargamu? Maka Abu Bakar ra menjawab, ”Aku tinggalkan bagi keluargaku Allah dan RasulNya. Hal serupa juga dilakukan oleh para sahabat lainnya.

Dari penjelasan yang ada ini maka dapat disimpulkan bahwa urgensi gerakan Jihad adalah untuk membebaskan umat Islam dari keterpurukannya saat ini. Jihad tidak hanya dengan agersi militer tetapi bisa juga dengan Jihad politik, ekonomi dan boikot. Selain itu pentingnya pemahaman yang komprehensif tentang Jihad dan perbedaannya dengan terorisme, sehingga tidak terjadi kesalapahaman di masyarakat baik di Indonesia maupun dunia. Gerakan Jihad adalah gerakan pembebasan diri dari cengkraman kebatilan dan untuk menegakkan kebenaran di muka bumi. Meski tidak terlampau berpengaruh atau bahkan produk yang hendak diboikot masih bisa eksis dan berkembang nyatanya hal tersebut memiliki acuan tersendiri dalam setiap diri umat islam sebagai bukti nyata dalam membantu sesame umat muslim yang tertindas. ***

INFORMASI SEPUTAR UNISMA DAPAT MENGUNJUNGI www.unisma.ac.id

*) Penulis: Muhammad Nafis S.H,. M.H, Dosen Program Studi Hukum Keluarga Islam, Fakultas Agama Islam (FAI), Universitas Islam Malang (UNISMA).

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi timesindonesia.co.id

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.

Advertisement



Editor : Dhina Chahyanti
Publisher : Rochmat Shobirin

TERBARU

Togamas - togamas.com

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES