Kopi TIMES

Merefleksikan Hari Pahlawan Jelang Pesta Demokrasi

Jumat, 10 November 2023 - 08:45 | 30.83k
Mirza Azkia Muhammad Adiba, S.Sos.,M.Sos (Dosen Prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam STAIMAS Wonogiri).
Mirza Azkia Muhammad Adiba, S.Sos.,M.Sos (Dosen Prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam STAIMAS Wonogiri).

TIMESINDONESIA, WONOGIRI – Peringatan Hari Pahlawan tahun ini bersamaan dengan hiruk pikuk perpolitikan Indonesia. Tiga pasangan Bacapres dan Bacawapres sudah mendeklarasikan diri. Anis Baswedan dengan Muhaimin Iskandar, Ganjar Pranowo dengan Mahfud MD, dan ketiga adalah Prabowo Subianto dengan Gibran Rakabuming Raka.

Bulan November merupakan salah satu bulan bersejarah bagi rakyat Indonesia, terutama bagi warga Kota Surabaya. Peristiwa 10 November 1945 terjadi pertempuran antara tentara Indonesia dengan tentara Inggris dan Belanda. Dalam catatan sejarah, peristiwa ini berlangsung selama 2 minggu atau baru berakhir pada 28 November 1945.

Dalam pertempuran ini sebanyak 6000 sampai 15.000 orang gugur. Oleh karena itu, 10 November ditetapkan sebagai Hari Pahlawan melalui keppres No 316 Tahun 1959.

Mendefinisikan arti “pahlawan” saat ini jelas berbeda. Pastinya banyak mengalami perluasan arti. Saat ini Pahlawan bukan berarti sedang melawan penjajah, tapi melawan siapa saja yang sedang berusaha memecah belah bangsa ini.

Momentum Demokrasi

Pesta demokrasi lima tahunan sudah terlihat, memaknai kembali arti kepahlawanan tentu diperlukan bagi seluruh kontestan politik. Baik di kalangan calon legislatif, bupati, walikota, gubernur, hingga presiden. Indonesia sudah melakukan pesta demokrasi di tahun 2004, 2009, 2014, 2019, dan selanjutnya akan dilaksanakan bulan Februari tahun 2024.

Momen kepahlawanan tentu saja sangat dibutuhkan, seluruh masyarakat Indonesia harus menjadi pahlawan untuk mensukseskan pesta ini. Tentunya dengan cara positif dan menjauhkan dari hal-hal negatif yang akan merugikan bagi bangsa Indonesia. Pesta demokrasi ini, harusnya menjadi pemersatu bangsa Indonesia agar lebih baik lagi.  

Ada berbagai cara untuk menjadi pahlawan dalam pesta demokrasi untuk membangun Indonesia sebagai negara demokrasi. Di antaranya adalah ikut berpartisipasi untuk menyalurkan hak dan demokrasi sebagai rakyat Indonesia. 

Tidak menyebarkan berita bohong terhadap kontestan juga bagian dari menciptakan demokrasi yang sehat. Selanjutnya, mengawal prinsip Luber Jurdil (Langsung, umum, bebas, rahasia, jujur, dan adil).  

Tokoh penting dalam peringatan Hari Pahlawan, Bung Tomo, dalam sebuah pernyataan mengungkapkan “Ini adalah waktu untuk berpikir “Berkawan” bukan “Berlawan”. Pesan ini tentunya menjadi refleksi bersama. Jangan ada lagi istilah yang mengkategorikan kalangan tertentu, menyerang satu sama lain, dan hal lain yang bisa makin memecah bangsa Indonesia.

Presiden pertama Indonesia, Ir. Soekarno, secara jelas pernah berkata, “Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tapi perjuanganmu lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri.” Sebuah pernyataan sederhana, namun sangat mendalam. Sangat patut untuk dijadikan bahan renungan bagi siapa saja.

Mempelopori Keteladanan

Sejauh ini belum ada keteladanan pahlawan dalam bidang demokrasi. Mungkin setiap orang mempunyai panutan masing-masing dalam berdemokrasi. Dalam urusan berdemokrasi, Indonesia sebenarnya bisa belajar dari negara lain yang sudah terlebih dahulu dan sukses dalam menjalankan sistem demokrasi. 

Politikus yang mencalonkan diri juga harus mampu menjadi teladan bagi seluruh rakyat Indonesia, kepercayaan publik terhadap eksekutif maupun legislative harus terjaga untuk memperkuat sistem demokrasi negara Indonesia. Tidak hanya itu, KPU, Bawaslu juga harus menjadi contoh baik dalam menjalankan pemilihan umum yang baik dan benar.

Dalam Islam yang diajarkan oleh Rasulullah, untuk menjadi teladan yang baik, seperti memberi keteladanan dengan memikirkan dan mendengarkan rakyat, juga semua kebijakan yang dibuat harus memberi maslahat bagi semua. Rasulullah juga gemar melakukan musyawarah dengan sahabat, dan sering mengambil keputusan dengan pendapat para sahabat.

Selain nilai-nilai tersebut. Sebelum diangkat menjadi nabi, Rasulullah juga sudah mengajarkan nilai kejujuran, kebebasan, kesetaraan dan keberagaman. 

***

*) Oleh : Mirza Azkia Muhammad Adiba, S.Sos.,M.Sos (Dosen Prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam STAIMAS Wonogiri).

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi timesindonesia.co.id

*) Kopi TIMES atau rubrik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

*) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]

*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim apabila tidak sesuai dengan kaidah dan filosofi TIMES Indonesia.

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.

Advertisement



Editor : Hainorrahman
Publisher : Rochmat Shobirin

TERBARU

Togamas - togamas.com

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES