Gen Z dan Tren Politik Masa Kini
Setiap menjelang tahun politik, generasi muda selalu menjadi atensi politisi untuk meraup suara. Hal ini terjadi karena jumlah milenial dan generasi Z di Indonesia mendominasi hak pilih dalam pemilu 2024.

Ruang Menulis untuk Indonesia
Kopi TIMES adalah ruang kolaboratif bagi siapa saja yang ingin menyuarakan ide, pengalaman, dan pemikiran kepada publik luas. Di sini, tulisan lahir dari beragam latar belakang: akademisi, mahasiswa, guru, santri, profesional, pelaku UMKM, pegiat komunitas, aktivis, birokrat, politisi, seniman, hingga warga biasa yang peduli pada isu di sekitarnya.
JAKARTA – Setiap menjelang tahun politik, generasi muda selalu menjadi atensi politisi untuk meraup suara. Hal ini terjadi karena jumlah milenial dan generasi Z di Indonesia mendominasi hak pilih dalam pemilu 2024.
Tetapi banyak politisi yang belum sepenuhnya memahami karakter dan sikap politik Gen Z. Lalu bagaimana sebetulnya karakter dan sikap politik Gen Z dan bagaimana korelasinya dengan tren politik masa kini?
Posisi Strategis Gen Z
Merujuk dari Daftar Pemilih Tetap (DPT) yang dirilis Komisi Pemilihan Umum (KPU), ada 113 juta pemilih atau 56,45 persen dari kelompok milenial dan Gen Z. Jika dirinci, milenial sebanyak 66,8 juta sementara Gen Z sebesar 46,8 juta.
Selain daripada itu, antusiasme terhadap pesta demokrasi di kalangan Gen Z mengalami peningkatan. Mengutip dari hasil survei Litbang kompas periode 25 Januari dan 4 Februari 2023 juga merekam antusiasme Gen Z pada Pemilu 2024.
Dari 1.202 responden di 38 provinsi yang disurvei, mayoritas atau 67,8 persen responden menyatakan akan menggunakan hak pilihnya. Baik untuk memilih calon presiden (capres), parpol, maupun calon anggota legislatif (caleg).
Posisi strategis Gen Z ini menjadi rebutan bagi politisi dalam mengaktualisasikan kepentingan politiknya. Sehingga seluruh cara dilakukan untuk memperoleh suara.
Berbeda dari tahun politik sebelumnya, atensi dan kepedulian Gen Z terhadap situasi politik terus mengalami peningkatan. Misalnya mengutip dari Hasil survei CSIS itu menyatakan karakter calon pemimpin di 2024 di mata anak muda mengalami perubahan dibanding 2019 lalu.
Karakter figur politik yang paling banyak diminati adalah pemimpin jujur dan tidak korupsi. Kesadaran bahwa variable ini sangat penting, menunjukkan bahwa Gen Z punya kesadaran dan sikap politik yang jelas. Hal positif ini sangat penting di akomodasi dengan melibatkan mereka dalam banyak program dan kegiatan politik.
Aspirasi Gen Z
Beranjak dari kepedulian dan kesadaran Gen Z yang terus meningkat. Namun, agaknya mereka punya fundamental isu tersendiri. Berkaca dari tren politik di belahan dunia, menunjukan bahwa isu hak asasi manusia dan kesejahteraan ekonomi merupakan isu utama yang menjadi perhatian.
Misalnya Survei Center for Generational Kinetics (2016) menggarisbawahi generasi Z di AS dapat dikatakan “liberal dalam hal hak asasi individu, tetapi konservatif secara finansial”. Hal senada juga terjadi di inggris. Penelitian Komisi Eropa (2013) menemukan bahwa Konektivitas digital telah membentuk generasi Z di Inggris untuk merasa sebagai warga global yang harus peduli terhadap isu internasional. Terutama yang berdampak secara regional, seperti terorisme dan krisis pengungsi di Eropa.
Tren aspirasi politik di Indonesia juga menunjukkan hasil yang sama. Bahwa hak asasi manusia dan kesejahteraan ekonomi merupakan hal penting yang harus menjadi program utama para pemimpin negara.
Aspirasi ini sangat penting didengar oleh para calon presiden maupun calon legislatif pada pemilu 2024. Sehingga posisi strategis Gen Z tidak hanya menjadi kepentingan elektoral semata, tetapi aspirasinya menjadi dasar dalam program dan kebijakan pemerintah.
Sejauh ini pendekatan para politisi kepada anak muda masih sangat konservatif. Selain itu tidak ada program unggulan yang spesifik memihak pada Gen Z hari ini. Sehingga posisi strategis dan aspirasi Gen Z hanya menjadi alat dan bualan politik saja.
Social Media Effect
Seperti yang kita ketahui Bersama, bahwa Gen Z telah merubah wajah politik di Indonesia. Jika kita amati pada tahun-tahun sebelumnya, nuansa politik di ruang public kita sangat mencekam dan banyak menimbulkan segregasi sosial. Tetapi belakangan ini wajah politik kita menjadi lebih cair, dan cenderung lebih humanis.
Hal ini merupakan kekuatan utama yang harus di pelihara. Guna menjaga stabilitas dan penetrasi politik. Aspirasi dan pandangan politik Gen Z tidak lepas dari cara mereka memperoleh informasi.
Berdasar data dari Alvara Research, tipikal Generasi Z menuntut kehadiran internet nyaris di sepanjang kesehariannya. Ketergantungan mereka terhadap internet bahkan menyentuh angka 93,9 persen atau biasa disebut sebagai mobile generation.
Dengan banyaknya Gen Z yang menjadikan internet maupun social media sebagai sumber informasi utama. Maka pola komunikasi dan pendekatan yang digunakan harus lebih dinamis.
Harus diingat bahwa social media adalah ruang hampa yang menyimpan informasi tak terbatas. Meski demikian, konektivitas ini juga menciptakan kontradiksi.
Pada satu sisi, generasi Z terlihat lebih cepat dan tanggap untuk terjun ke masyarakat. Namun disisi lain, konektivitas digital mengisolasi mereka dalam ruang politik yang partisan.
Ada kecenderungan melihat dunia secara terpolarisasi dan mengakibatkan diskoneksi sosial dalam dunia nyata. Tren social politik semacam ini sangat penting untuk diperhatikan, sehingga edukasi politik dan skrutinisasi informasi harus terus dilakukan.
Berbagai situasi dan tren politik masa kini ini, semestinya menjadi perhatian utama oleh para pemangku kebijakan publik dan para politisi. Baik capres-cawapres (eksekutif) maupun calon legislatif. Karena itu, seharusnya semua politisi harus mulai berbenah diri dengan beradaptasi terhadap politik digital dengan menggalang aspirasi dan membangun kesadaran politik anak muda.
Melalui hal ini semua pihak punya porsi dan ruang ekspresi politik yang setara antar generasi. Sehingga keterlibatan Gen Z tidak hanya menjadi objek politik tetapi menjadi subjek politik yang ikut andil dalam menyongsong peradaban politik di Indonesia.
***
*) Oleh : Taufikur Rohman (Co Chairman Navigator Muda Indonesia)
*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi timesindonesia.co.id
*) Kopi TIMES atau rubrik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
*) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]
*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim apabila tidak sesuai dengan kaidah dan filosofi TIMES Indonesia.
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


