Kopi TIMES

Revolusi Pendidikan Leadership di Sekolah Guna Mencetak Pemimpin Muda

Selasa, 14 November 2023 - 10:09 | 24.85k
Muhammad Nafis S.H,. M.H, Dosen Program Studi Hukum Keluarga Islam, Fakultas Agama Islam (FAI), Universitas Islam Malang (UNISMA).
Muhammad Nafis S.H,. M.H, Dosen Program Studi Hukum Keluarga Islam, Fakultas Agama Islam (FAI), Universitas Islam Malang (UNISMA).

TIMESINDONESIA, MALANG – Perubahan dan pergeseran akses globalisasi begitu pesat dengan disertai teknologi semakin canggih dalam bentuk masuknya era industri 4.0. Oleh karena itu, rancangan kurikulum dalam pendidikan tentu sangat wajib hukumnya untuk berbenah serta juga menyesuaikan. Apalagi perkembangan dunia bisnis, pendidikan, sosial, politik, dan budaya harus mengikuti perkembangan teknologi dan informasi.

Transformasi perubahan strategis pada industri 4.0 ini sangat berpengaruh dengan karakter manusia dalam dunia kerja, sehingga skill yang dilakukan juga cepat mengalami sebuah perubahan (Kemenristekdikti, 2018: 45). Sehingga tidak mengherankan jika tantangan pada kondisi dunia saat ini tentu berhubungan dengan dipersiapkannya generasi penerus yang berkualitas dengan kemampuan untuk mengikuti perkembangan zaman yang terus mengalami perubahan dan kemajuan seperti saat ini.

Perkembangan industri berkembang dengan sangat cepat, sehingga banyak sekali persaingan dalam dunia kerja dengan semua akses perkembangan teknologi dan informasi tersebut. Masyarakat Indonesia sudah seharusnya bisa menggunakan teknologi atau bahkan bisa beradaptasi dengan baik terkait semua perubahan tersebut, oleh sebab itulah maka revolusi dalam mengubah kurikulum dengan tingkat acuan sekolah menjadi pertimbangan penting.

Menghadapi revolusi era industri yang ke 4.0, maka harus proses pembenahan sumber daya manusia (SDM) dengan memperbaiki kurikulum dalam dunia pendidikan menjadi solusi paling mutakhir dan berdaya saing lebih maksimal. Pelajar sebagai generasi masa depan bangsa wajib berkembang secara maksimal dalam berbagai bidang. Perkembangan yang semakin pesat ini maka harus menggunakan cara-cara yang baru agar tidak tertinggal jauh, karena di revolusi indutri yang ke 4.0 ini mampu menciptakn lapangan pekerjaan dengan ide dan gagasan yang baru. Hal ini tentunya bisa dilakukan dengan cara membentuk karakter pemimpin.

INFORMASI SEPUTAR UNISMA DAPAT MENGUNJUNGI www.unisma.ac.id

Saat ini sebuah kuantitas bukanlah suatu hal yang utama dalam dalam pencapaian kesuksesan didunia pendidikan, namun sebuah kualitas pelajarlah yang menentukan sebuah keberhasilan dengan ide dan gagasan yang dapat diimplementasikan dengan baik.kesuksesan masyarakat Indonesia ditentukan oleh para pelajar yang memiliki kualitas yang tinggi yang dapat menjawab segala tantangan yang ada pada era revolusi industri. Oleh karena itu sumber daya manusia harus terus ditingkatkan agar dapat menciptakan sumber daya yang kreatif dan inovatif.

Implementasi revolusi pendidikan melalui karakteristik pemimpin bisa dilakukan dengan berbagai cara. Gura saat ini memiliki tanggung jawab ganda guna membentuk karakteristik siswa yang bisa menjadi pemimpin dengan harapan bisa berkembang dan menguasia segala jenis bidang pada masa depan. Setidaknya ada 3 cara dalam jurnal Feri Tirtoni yang berjudul “INTERNALISASI MODEL PENDIDIKAN KARAKTER MELALUI LEADERSHIP SOSIAL PRENEUR PADA PENDIDIKAN DASAR UNTUK MENUJU REVOLUSI INDUSTRI 4.0”.

Mekanisme pertama dengan program penguatan karakter kebangsaan bisa ditanamkan pendidik melalui kegiatan keaktifan upacara bendera setiap hari senin. Pada hakikatnya upacara bendera merupakan cerminan dan nilainilai budaya bangsa yang menjadi salah satu pancaran peradaban bangsa. Dari kegiatan inilah bangsa Indonesia bersikap hormat dan rela berkorban kepada jasa-jasa para pahlawan yang telah memperebutkan kemerdekaan saat ini.

Kedua, Pola pembinaan karakter anak bisa melalui kegiatan ekstrakulikuler. Kegiatan ekstrakulikuler ini merupakan kegiatan tambahan yang ada di luar jam sekolah yang berfungsi untuk membentuk skill melalui berbagai macam kegiatan serta menyalurkan bakat siswa, meningkatkan ketrampilan. seperti pramuka, pengembangan ilmu pengetahuan, kerohanian, olahraga, dan seni. Kegiatan ekstrakulikuler ini juga bisa membentuk karakter siswa supaya menjadi manusia yang berperilaku terpuji dalam membina kepribadian generasi penerus bangsa.

Dan yang terakhir tentunya dengan penguatan asa keagamaan. Sebab pada abad 21 telah berlangsung dengan ciri utama yang terjadi era revolusi yang cepat dan menyebabkan perubahan mendasar dalam proses politis, gaya hidup, dan harapan dihampir seluruh negara. Kondisi demikian membuat agama menempati posisi strategis untuk menghindari masyarakat yang salah arah, keterasingan kaum muda serta menjauhkan diri dari berbagai perilaku aomik. Karena karakter atau jati diri bangsa Indonesia sangat penting untuk membangun rasa solidaritas bersama dan memperkuat rasa persatuan di dalam mengahadapi era revolusi dalam kontes sosial, budaya, politik, dan ekonomi pada saat ini.

Semua akumulasi implementasi 3 nilai ini menjadi kunci utama bagi Indonesia untuk memiliki calon pemimpin masa depan yang berkualitas dan berdaya saing. Hasilnya kesempatan untuk memaksimalkan bonus demografi dengan mayoritas penduduk muda bisa terealisasikan secara sempurna. 

INFORMASI SEPUTAR UNISMA DAPAT MENGUNJUNGI www.unisma.ac.id

*) Penulis: Muhammad Nafis S.H,. M.H, Dosen Program Studi Hukum Keluarga Islam, Fakultas Agama Islam (FAI), Universitas Islam Malang (UNISMA).

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi timesindonesia.co.id

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.

Advertisement



Editor : Dhina Chahyanti
Publisher : Rochmat Shobirin

TERBARU

Togamas - togamas.com

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES