Kopi TIMES

Penyebab FOMO Terhadap Kesehatan Mental

Rabu, 22 November 2023 - 17:13 | 31.34k
Maria Restiana Wele, Mahasiswa Universitas Tribhuwana Tunggadewi Malang.
Maria Restiana Wele, Mahasiswa Universitas Tribhuwana Tunggadewi Malang.

TIMESINDONESIA, MALANG – FOMO atau “Feat Of Missing Out” adalah kecemasan atau ketakutan yang muncul saat seseorang merasa bahwa mereka melewatkan pengalaman sosial atau kehidupan yang menarik yang dialami orang lain. Dalam era digital saat ini, FOMO telah menjadi fenomena yang umum terutama karena penggunaan sosial media yang luas.

Berdasarkan studi tahun 2013 yang terbit pada jurnal Computer in Human Behavior, orang-orang dengan tingkat FOMO yang tinggi merasa kurang terhubung dengan kehidupan sehari-hari. Salah satu penyebab munculnya FOMO adalah perbandingan sosial. Melalui media sosial, seseorang dapat melihat kehidupan orang lain yang tampak sempurna, bahagia, dan penuh prestasi. 

Hal ini dapat membuat seseorang merasa kurang puas dengan kehidupan mereka sendiri dan merasa tertinggal dalam mencapai kesuksesan atau kebahagiaan. Mereka mungkin merasa cemas bahwa tidak berpartisipasi dalam kegiatan yang menarik atau tidak memiliki hubungan yang kuat dengan orang lain. 

Selain itu, kehadiran media sosial juga memicu rasa takut kehilangan informasi atau berita terkini. Penggunaan media sosial sering kali merasa perlu untuk memeriksa feed mereka agar tidak melewatkan sesuatu yang penting atau menarik. Kehadiran notifikasi atau update reguler membuat seseorang merasa sulit untuk melepaskan diri dari penggunaan media sosial, dan ini dapat mengganggu keseimbangan hidup dan kesehatan mental. 

Dampak FOMO terhadap kesehatan mental juga signifikan. Rasa cemas dan ketidakpuasan terkait yang dengan FOMO dapat menyebabkan stres berkepanjangan. Seseorang yang terus menerus merasa tertinggal atau tidak memadai dapat mengalami depresi, kecemasan, atau masalah tidur. Mereka juga mungkin mengalami perasaan rendah diri dan kurangnya kepercayaan diri. 

Selain itu juga, FOMO dapat memengaruhi hubungan sosial seseorang. Seseorang yang terlalu fokus pada apa yang terjadi di dunia maya dapat mengabaikan hubungan dan interaksi nyata yang lebih berarti. Mereka mungkin merasa sulit untuk benar-benar dalam percakapan atau kegiatan sosial, karena pikiran mereka selalu tertuju pada apa yang mungkin mereka lewatkan di dunia maya. 

Seperti yang dilansir VeryWellMind, perasaan FOMO ini dapat terjadi pada semua gender dan umur. Seseorang yang mengalami FOMO memiliki tingkat kepuasan hidup yang lebih rendah karena terus membandingkan hidupnya dengan orang lain. Kemudian timbul pertanyaan apakah kita termasuk yang mengalami perasaan FOMO?

Untuk mengatasi FOMO, penting untuk menyadari dan mengenali perasaan-perasaan ini. Mengembangkan keseimbangan antara pengunaan media sosial dan kehidupan nyata adalah langka awal yang baik. Mengatur waktu khusus untuk media sosial dan menetapkan batas penggunaan dapat membantu mengurangi rasa cemas dan tekanan yang terkait dengan FOMO. 

Selain itu, menfokuskan pada kehidupan dan kebahagiaan pribadi, tanpa membandingkannya dengan orang lain. Juga penting untuk menjaga kesehatan mental yang baik. 

Sebagai penutup, FOMO adalah fenomena yang umum dalam era digital saat ini. Perbandingan sosial dan kebutuhan untuk terus memilih informasi terkini adalah penyebab utama munculnya FOMO. Sehingga berdampak terhadap kesehatan mental, stres, depresi, dan masalah hubungan sosial lainnya. 

Oleh karena itu, penting untuk mengenali FOMO dan mengambil langkah-langkah untuk mengatasi dan menjaga kesehatan mental yang baik. 

***

*) Oleh: Maria Restiana Wele, Mahasiswa Universitas Tribhuwana Tunggadewi Malang.

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi timesindonesia.co.id

*) Kopi TIMES atau rubrik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

*) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]

*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim apabila tidak sesuai dengan kaidah dan filosofi TIMES Indonesia.

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.

Advertisement



Editor : Hainorrahman
Publisher : Rochmat Shobirin

TERBARU

Togamas - togamas.com

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES