Kopi TIMES

Revolusi Mental

Sabtu, 25 November 2023 - 17:05 | 33.06k
Suyudi, Founder Sekolah Alam Bengawan Solo dan Pendiri PKBM Taruna Teladan.
Suyudi, Founder Sekolah Alam Bengawan Solo dan Pendiri PKBM Taruna Teladan.

TIMESINDONESIA, JAKARTA – Krisis identitas sebagai bangsa yang besar, ini ditandai dengan hilangnya kewibawaan orang tua, tokoh masyarakat, lembaga agama bahkan negara. Sehingga timbul permasalahan mental dan kepribadian. 

Kegoncangan tata nilai yang berpengaruh terhadap nilai lama dan tertarik dengan tata nilai baru yang datang dari luar (Barat–Arab) yang membawa kebimbangan dan ketidakpastian. Tata nilai lama dianggap tidak sesuai dengan perkembangan zaman. Tata nilai baru belum bisa memberikan pegangan yang mantap, sehingga mengakibatkan krisis moralitas.

Kultur bangsa kita berupa etika, pandangan hidup, norma, adat istiadat harus ditumbuhkan kembali. Nilai moralitas yang kerangka pemikiran tidak hanya melakukan pembentukan kepribadian dan budaya bangsa Indonesia. Lebih dari itu, sebagai bentuk kerinduan untuk berbuat baik bukan untuk diri sendiri, tetapi sebagai manusia secara utuh.

Untuk mencapai wujud bentuk manusia Indonesia, yaitu manusia Pancasila butuh proses yang disebut “Pendidikan” yang terencana, terprogram, terlaksana dengan baik, efesien, efektif dan relevan. Hasil produk pendidikan selama ini lebih banyak menghasilkan manusia “pokil”. Ini menandakan bahwasannya pendidikan kita selama ini gagal menjadikan sebagai alat pembangunan sumber daya manusia. 

Kita gagal mencetak generasi yang berkarakter, generasi yang bermental instan, yang terjangkiti mental block. Nalar kritis tidak terbangun, gagal menghadirkan produktifitas di usia baligh, luntur jiwa nasionalisme, serta merebaknya faham radikalisme, dan lain-lain.

Berdasarkan rangking dari UNDP, IPM Indonesia selalu mengalami penurunan (109-112) tahun 2019 meskipun anggaran pendidikan ditambah. Oleh Program Internasional Study Assessment (PISA) tahun 2015 Indonesia menempati urutan 40 dari 40 negara yang diteliti, tahun 2019 diurutan 73 dari 78 negara. 

Hal ini menandakan jika kualitas pendidikan kita buruk. Hal ini juga telah diakui oleh pemimpin kita, lewat Twitter pribadi nya Bapak Jokowi menyebut buruknya karakter kita disebabkan oleh buruknya pengelolaan pendidikan.

Sementara, membangun bangsa yang kuat tangguh serta disegani dimata dunia Bung Karno berpesan melalui “Trisakti” yaitu berdikari di bidang ekonomi, berdaulat di bidang politik dan berkepribadian budaya bangsa Indonesia. Lebih jauh beliau berpesan kepada seluruh bangsa Indonesia, jika kamu menjadi orang Kristen janganlah kamu jadi orang  Romawi, jika kamu menjadi muslim janganlah amu jadi orang Arab. 

Kedua pesan tersebut lebih kepada himbauan atau ajakan. Secara detail teknik beliau tidak memberikan langkah-langkah atau caranya, sehingga butuh konsep atau langkah seperti apa yang harus dan perlu dikerjakan.

Muchtar Lubis seorang wartawan sekaligus budayawan, menulis tentang manusia Indonesia. Dimana beliau memberikan catatan tentang 6 hal yang hingga saat ini kekurangan untuk mencapai wujud manusia Indonesia. Ke enam kekurangan tersebut:

Pertama, adanya kontradiksi antara asumsi moral budaya Pancasila dengan kenyataan di masyarakat. Kedua, sikap hidup yang penuh dengan kemunafikan. Ketiga, sikap neo feodalisme. Keempat, lemahnya kreatifitas. Kelima, etos kerja rendah, dan Keenam, mulai sirnanya budaya malu.

Tujuan Pendidikan Nasional Indonesia adalah mencerdaskan dan memajukan kebudayaan. Ciri-ciri ini ada di Pendidikan Taman Siswa. Bahkan jika berkaca pada jiwa neo feodalisme, maka penanggalan oleh status sosialnya nya bukti nyata dengan berganti nama Ki Hajar Dewantara.

Dasar hukum atas pelaksanaan pendidikan kita saat ini adalah UU no. 20 tahun 2003. Pada pasal 1 pendidikan dimaknai sebagai upaya sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dalam proses pembelajaran, agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya. Hal ini berbeda dengan apa yang disampaikan oleh Ki Hajar Dewantara bahwa pendidikan adalah proses pembudayaan. Hal ini yang memicu terjadinya mal praktek di dunia pendidikan kita selama ini. 

Pada pasal 36 kurikulum di sebut sebagai sekumpulan mata pelajaran. Sehingga nilai yang dijadikan patokan atas suksesnya pembelajaran. Ini yang menjadikan pendidikan kita hanya mengajarkan anak didik untuk sukses di sekolah saja sementara didalam kehidupan kurang diajarkan.

Ketidak pahaman insan pendidikan mengartikan kata belajar membuat praktek persekolahan kita hanya dimaknai baca tulis, atau bahkan hanya diartikan mencari ilmu. Ketidak pahaman istilah pendidikan, sekolah, kurikulum dan belajar oleh pemerintahan dan DPR terlihat dengan tidak mampunya penyusunan kurikulum yang berkesinambungan dari PAUD hingga SLA. Sementara kalau kita sepakat bahwa kualitas SDM haruslah disusun berdasarkan kebutuhan anak di sekolah, mulai dari usia 2 tahun hingga 18 tahun.

Seseorang akan menjadi manusia yang hebat dan tangguh hanya bisa dicapai dengan kualitas pribadi si anak itu sendiri, bukan seperti orang meniup balon yang bisa besar dari faktor luar. Ini yang bisa menjadikan praktek persekolahan kita tidak sejalan dengan kehendak pendidikan. Bahkan mengarah menjadi obyek semata seperti menjadi pasar.

Ki Hajar Dewantara menyebut bahwa pendidikan itu adalah usaha kebudayaan yang bermaksud memberi bimbingan dalam hidup tumbuhnya jiwa raga anak agar dalam kodrat pribadinya serta pengaruh lingkungannya mereka mendapat kemajuan lahir batin menuju ke adab kemanusiaan. Dalam praktek nya beliau berpesan utamanya di pendidikan usia dasar (PAUD–SD) agar pembelajaran menggunakan budaya setempat termasuk dengan bahasa ibu. Serta jangan membedakan baik itu jenis kelamin maupun ras dan agama. 

Pemerintah menjadikan hari lahir Ki Hajar Dewantara tanggal 2 Mei sebagai hari Pendidikan Nasional bahkan beliau disebut sebagai bapak pendidikan di Indonesia, namun dalam prakteknya tidak memakai konsep beliau. Ini namanya munafik. Jika sesuatu itu dikerjakan oleh orang yang bukan aslinya pastilah bermasalah. Pada saat itu siapa yang lebih ahli di bidang pendidikan.

Melacak kehidupan beliau, ternyata beliau diangkat sebagai Mentri Pengajaran hanya kurang dari 3 bulan. Hal ini menarik untuk dibahas. Dengan praktek pembelajaran dengan budaya jawa, ini dianggap tidak sejalan dengan semangat saat itu, yaitu semangat persatuan yaitu dianggap javasentris. 

Pendidikan khususnya di tingkat dasar (2–13 tahun) jangan membedakan, oleh banyak kelompok kanan hal ini tidak sejalan bahkan dianggap mengesampingkan agama. Sementara Ki Hajar Dewantara beranggapan jika diusia dini anak seyogyanya ditumbuhkan rasa kemanusiaannya, berbeda dalam kebenaran itu sangat dibolehkan sementara dalam nilai kebaikan haruslah sama. 

Jika dimasa kecil, anak telah ditanamkan tentang nilai kebenaran yang tumbuh adalah generasi yang tidak bisa menghargai perbedaan bahkan cenderung menghasilkan generasi radikal.

Jika kita berbicara tentang nilai-nilai universal dan rasa nasionalisme sepertinya inilah yang kita butuhkan saat ini. Persatuan berangkat dari perbedaan atau kebhinekaan bukan menyeragamkan. Sementara dari sisi universalitas inilah cara yang perlu dibangun sejak dini. Jika kita meragukan tentang keimanan seseorang, bukankah Suwardi Suryaningrat adalah seorang santri yang rela meninggalakan status ningratnya.

Setelah kita cermati bahwasannya Taman Siswa adalah konsep pendidikan yang jauh lebih maju dari pada pendidikan yang dibilang dari barat. Jika kita bandingkan Taman Siswa yang mulai tumbuh tahun 1926, maka lebih dari 50 tahun majunya jika dibandingkan dengan 4 pilar pendidikan yang dikembangkan oleh UNESCO. 

Jika kita mengacu pada pidato Jackma di Forum OECD (PISA) yang ia sampaikan di Paris 2013 maka jelaslah bahwasannya Indoneisa lebih maju. Pesan Jackma tentang ajakan agar pendidikan di seluruh dunia mengarah pada proses belajar yang menyertakan hati (roso) karena pikiran bisa diganti dengan mesin, sementara hati tak tergantikan, bahkan oleh alat secanggih apapun.

Untuk itu tidak sepantasnya kita rendah diri terhadap bangsa lain (Barat). Oleh karena itu mari kita perbaiki dan sempurnakan pendidikan Indonesia. Revolusi mental sebagai tonggak untuk kembali ke jati diri sebagai Negara yang Besar. Bersama Sekolah Alam Bengawan Solo kita wujudkan Revolusi Mental.

***

*) Oleh: Suyudi, Founder Sekolah Alam Bengawan Solo dan Pendiri PKBM Taruna Teladan.

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi timesindonesia.co.id

*) Kopi TIMES atau rubrik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

*) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]

*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim apabila tidak sesuai dengan kaidah dan filosofi TIMES Indonesia.

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.

Advertisement



Editor : Hainorrahman
Publisher : Rochmat Shobirin

TERBARU

Togamas - togamas.com

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES