Kopi TIMES

Kesehatan Mental Peserta Didik di Palestina

Rabu, 29 November 2023 - 14:53 | 77.06k
Arum Kusuma, Mahasiswa Program Studi Pendidikan Matematika di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa.
Arum Kusuma, Mahasiswa Program Studi Pendidikan Matematika di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa.

TIMESINDONESIA, JAKARTA – Kesehatan mental siswa di Palestina saat ini sangat memprihatinkan akibat serangan Israel yang terus-menerus. Banyak siswa yang mengalami trauma dan depresi akibat kehilangan orang tua, kakak, atau adik, serta kehilangan hak untuk hidup dan berkembang dengan baik, serta dapat belajar dengan baik. 

Mengutip Databoks, penelitian yang dilakukan oleh Save the Children, sebuah organisasi internasional yang berfokus pada hak anak, pada tahun 2022 menunjukkan sekitar 77% anak-anak di Gaza merasa sedih dan depresi, 78% merasa berduka, 84% merasa ketakutan, 81% merasa tegang, dan 80% merasa cemas. 

Gejala-gejala ini menunjukkan adanya gangguan stres pascatrauma (PTSD) yang dapat mempengaruhi perkembangan otak, kemampuan belajar, dan hubungan sosial anak-anak. Selain itu, BBC News pada 2021 menuliskan bahwa lebih dari setengah anak-anak di Gaza mengatakan mereka pernah berpikir untuk bunuh diri dan tiga dari lima anak di antaranya melakukan tindakan menyakiti diri sendiri. 

Serangan Israel ke Palestina, khususnya di wilayah gaza selama tahun-tahun juga menyebabkan banyaknya fasilitas kesehatan dan sekolah yang rusak atau hancur akibat pengeboman, sehingga menyulitkan siswa untuk mendapatkan layanan medis dan pendidikan yang memadai. Selain itu, banyak siswa yang hidup dalam kemiskinan dan kekurangan makanan, air bersih, dan listrik, yang juga berdampak pada kesehatan fisik dan mental mereka.

Masalah Psikologis Anak-Anak Palestina

Menurut Welsh Joint Education Committee, terdapat beberapa faktor yang memengaruhi kondisi mental seseorang, yaitu: Pengalaman masa lalu (kanak-kanak), latar belakang lingkungan, pola asuh, dan derivasi sosial. 

Faktor-faktor ini dapat berdampak positif atau negatif pada kesejahteraan psikologis seseorang, tergantung pada jenis dan intensitas pengalaman yang dialami. 

Dalam konteks Palestina, faktor-faktor ini cenderung berdampak negatif, karena banyak siswa yang mengalami pengalaman masa lalu yang traumatis, latar belakang lingkungan yang tidak aman dan tidak kondusif, pola asuh yang kurang mendukung dan memberdayakan, serta derivasi sosial yang tinggi akibat diskriminasi dan marginalisasi oleh Israel. 

Hal ini menyebabkan banyak siswa di Palestina mengalami gangguan kesehatan mental, seperti stres, depresi, kecemasan, PTSD, dan bahkan bunuh diri. Oleh karena itu, perlu adanya intervensi yang tepat dan efektif untuk mengatasi masalah kesehatan mental siswa di Palestina, dengan memperhatikan faktor-faktor yang memengaruhinya. Menurut Republika Online, kondisi politik dan sosial yang dialami orang-orang Palestina di bawah pendudukan Israel telah membuat bekas luka di kesejahteraan psikologis warga sipil. 

Palestina menderita gangguan kesehatan mental tertinggi di Timur Tengah, dengan lebih dari 40 persen orang Palestina menderita depresi klini, tertinggi di dunia. Menurut Tribunnews, serangan Israel di Jalur Gaza telah merusak 50 sekolah dalam seminggu terakhir. Menurut Kompas, serangan udara dan penembakan artileri Israel menghancurkan 53 sekolah di Gaza. Menurut Detikinet, serangan Israel terhadap Palestina telah merusak sistem pendidikan tinggi Gaza dan membutuhkan waktu bertahun-tahun bahkan beberapa generasi untuk memperbaikinya. 

BBC News Indonesia menulis bahwa anak-anak di Gaza yang selamat dari serangan Israel mengalami trauma dan depresi. Banyak dari mereka kehilangan orang tua, kakak, atau adik, dan kembali ke kehidupan normal sangat sulit. Sebagian dari mereka membutuhkan bantuan seperti konseling serta terapi.

Program Pendidikan sambil Bermain

Dalam kondisi seperti ini, penting bagi pemerintah dan masyarakat internasional untuk memberikan dukungan psikologis kepada siswa Palestina. Dukungan ini dapat berupa konseling, terapi, dan program-program lain yang dapat membantu siswa mengatasi trauma dan depresi. Menurut Xinhua dikutip dari Antara News, seorang pemuda Palestina bernama Mohammed al-Amasi bersama lima rekannya yang merupakan relawan dari organisasi non-pemerintah Palestinian Youth for Peace and Development meluncurkan program pendidikan sambil bermain untuk menghadirkan tawa dan permainan bagi anak-anak pengungsi di Gaza.

Mereka mengunjungi sekolah-sekolah yang menjadi pusat pengungsian di Gaza, dan menyelenggarakan kegiatan-kegiatan tersebut secara gratis untuk anak-anak pengungsi. Mereka juga memberikan bantuan berupa buku, alat tulis, mainan, dan peralatan lain yang dibutuhkan oleh anak-anak.

Program pendidikan sambil bermain adalah salah satu bentuk dukungan psikologis yang dapat diberikan kepada anak-anak penyintas konflik, khususnya di Gaza. Program ini menggabungkan kegiatan belajar dengan kegiatan bermain yang menyenangkan dan menarik, sehingga anak-anak dapat belajar sambil bersenang-senang. Program ini juga dapat membantu anak-anak mengembangkan keterampilan sosial, emosional, dan kognitif mereka, serta meningkatkan rasa percaya diri dan kreativitas mereka.

Beberapa contoh kegiatan yang dilakukan dalam program pendidikan sambil bermain adalah menggambar, mendongeng, dan bernyanyi. Anak-anak dapat mengekspresikan perasaan, pikiran, dan imajinasi mereka melalui gambar. Mereka juga dapat belajar tentang warna, bentuk, dan pola. Menggambar dapat membantu anak-anak mengurangi stres, meningkatkan fokus, dan melatih koordinasi mata dan tangan.

Selain itu, mendengarkan atau menceritakan kisah-kisah yang menarik, menghibur, atau menginspirasi. Mereka juga dapat belajar tentang budaya, sejarah, dan nilai-nilai yang baik. Mendongeng dapat membantu anak-anak meningkatkan kosa kata, kemampuan berbicara, dan daya ingat. 

Untuk meredakan kondisi traumatis anak-anak serta memenuhi hak dan kebutuhan belajar mereka, dapat dilakukan dengan menyanyikan lagu-lagu yang menyenangkan, mengharukan, atau bermakna. Mereka juga dapat belajar tentang musik, ritme, dan nada. Bernyanyi dapat membantu anak-anak mengurangi kecemasan, meningkatkan suasana hati, dan melatih pernapasan dan suara.

Pentingnya Aksi Nyata dari Masyarakat Internasional

Dalam kondisi politik dan sosial yang tidak stabil seperti di Palestina, kesehatan mental siswa menjadi sangat penting. Oleh karena itu, pemerintah dan masyarakat internasional harus memberikan dukungan psikologis kepada siswa Palestina, serta memperjuangkan hak pendidikan yang layak bagi mereka. Dengan demikian, siswa Palestina dapat hidup dan berkembang dengan baik, serta memiliki harapan dan impian untuk masa depan yang lebih baik. 

Program-program seperti pendidikan sambil bermain adalah salah satu contoh nyata dari upaya-upaya yang dapat dilakukan untuk membantu siswa Palestina mengatasi kesulitan dan tantangan yang mereka hadapi. Program-program ini juga dapat menunjukkan kepada dunia bahwa siswa Palestina adalah anak-anak yang cerdas, kreatif, dan berbakat, yang layak mendapatkan kesempatan dan perlakuan yang sama dengan anak-anak lain di seluruh dunia.

***

*) Oleh : Arum Kusuma, Mahasiswa Program Studi Pendidikan Matematika di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa.

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi timesindonesia.co.id

*) Kopi TIMES atau rubrik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

*) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]

*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim apabila tidak sesuai dengan kaidah dan filosofi TIMES Indonesia.

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.

Advertisement



Editor : Hainorrahman
Publisher : Rochmat Shobirin

TERBARU

Togamas - togamas.com

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES