Kopi TIMES

Dampak Ekonomi Akibat Konflik Israel-Gaza

Selasa, 12 Desember 2023 - 07:49 | 32.03k
Fajar Nur Roudhotul Jannah, Mahasiswa Hubungan Internasional Universitas Padjadjaran.
Fajar Nur Roudhotul Jannah, Mahasiswa Hubungan Internasional Universitas Padjadjaran.

TIMESINDONESIA, BANDUNG – Konflik antara Israel dan Hamas yang sebelumnya dalam situasi gencatan senjata kembali pecah pada tanggal 7 Oktober kemarin. Konflik ini sendiri sejatinya telah berlangsung dari tahun 1948 ketika suku Arab Palestina menolak diberlakukannya Resolusi PBB Nomor 181 pada tahun 1947 mengenai pembagian wilayah di Palestina untuk bangsa Yahudi dan Arab Palestina. Semenjak itu, konflik antara Palestina dan Israel semakin meningkat dan melibatkan berbagai elemen termasuk isu wilayah, agama, sejarah, politik, bahkan ekonomi. 

Di ketahui juga bahwa ketegangan di antara kedua negara ini kembali meningkat selama 78 bulan atau sekitar hampir 7 tahun kebelakang. Konflik yang berkepanjangan ini dinilai berpotensi mengganggu perekonomian dunia dan bahkan dapat menyebabkan resesi jika terdapat lebih banyak negara yang ikut terlibat di dalamnya. 

Risiko ini adalah nyata, karena serangan Israel yang membombardir wilayah Gaza dan sekitarnya telah merenggut ratusan bahkan ribuan korban jiwa. Atas dasar tersebut, terdapat kekhawatiran bahwa milisi dari Lebanon dan Suriah yang mendukung Hamas akan bergabung dalam pertempuran tersebut. Eskalasi yang lebih tajam juga dapat membawa Israel ke dalam konflik langsung dengan Iran sebagai pemasok senjata dan uang ke Hamas. Dalam skenario tersebut, Bloomberg Economics (13/10) memperkirakan harga minyak bisa melonjak hingga $150 per barel dan pertumbuhan global turun menjadi 1,7% sebuah resesi yang akan mengurangi kegiatan produksi dunia sebesar $1 triliun.

Konflik yang terjadi di wilayah Timur Tengah ini tentu dapat menimbulkan guncangan di seluruh dunia karena kawasan tersebut merupakan pemasok energi vital dan juga jalur pelayaran utama. Sebagai contoh, perang Arab-Israel yang terjadi pada tahun 1973, mampu menyebabkan embargo minyak dan stagflasi ekonomi industri selama bertahun-tahun. Pasca meredanya konflik antara Rusia-Ukraina, perekonomian dunia belum sepenuhnya pulih. 

Kondisi perekonomian global saat ini masih di dalam posisi yang rentan, terlebih pemulihan ekonomi pasca pandemi juga berlangsung lambat. Sehingga saat ini, seluruh negara sedang berusaha memulihkan perekonomian nasional di tengah serangan inflasi global. Namun, perang yang kembali terjadi di wilayah penghasil energi dapat memicu menjaminya angka inflasi akibat terganggunya pasokan energi ke seluruh dunia. 

Dari perspektif ekonomi global, energi merupakan isu jangka pendek yang paling penting. Harga minyak sendiri telah meningkat ketika serangan terhadap Israel terjadi, dan perkembangan ini meningkatkan kemungkinan gangguan pasokan terutama jika krisis ini melibatkan Iran atau jika berdampak pada aktivitas produksi di Irak dan menimbulkan kekhawatiran di pasar global. Harga minyak saat ini juga telah meningkat sekitar $5 per barel sejak awal konflik. Guncangan pasokan minyak akan berdampak buruk pada aktivitas perekonomian di negara-negara pengimpor energi dan perekonomian global secara umum. IMF juga memperkirakan bahwa kenaikan harga minyak sebesar 10% dapat membebani pertumbuhan global sebesar 0,15%. 

Sejumlah importir minyak di negara-negara berkembang, seperti Pakistan, sudah menghadapi prospek ekonomi yang menantang. Gangguan terhadap pasokan gas juga mungkin terjadi ada beberapa iklim produksi di ladang Tamar Israel, dan kita telah melihat tekanan yang meningkat pada harga gas Eropa. Meningkatnya ketegangan di Timur Tengah juga dapat berdampak pada pasokan gas Eropa dari negara-negara di kawasan tersebut. Selain dampak negatif terhadap guncangan harga energi dan aktivitas perekonomian, hal ini juga berdampak pada meningkatnya tugas bank sentral di seluruh dunia dalam upaya mengembalikan inflasi kembali ke batas normal. Perkiraan IMF menunjukkan bahwa kenaikan harga minyak global sebesar 10% dapat meningkatkan inflasi global sebesar 0,4%.

Dengan proyeksi yang telah dijelaskan sebelumnya, konflik antara Israel dan Palestina dikhawatirkan akan melibatkan negara-negara lainnya untuk tergabung ke dalam proxy war. Hal ini tentu tidak akan bagus, karena akan mengakibatkan efek global apabila terdapat banyak pihak atau negara-negara penting yang terlibat ke dalam. Kekhawatiran mengenai meningkatnya ketegangan geopolitik ini tentu juga akan berdampak buruk pada sentimen risiko global, di mana akan memberikan tekanan lebih lanjut pada harga dolar di pasaran. Pengetatan kondisi keuangan global yang terjadi dapat berdampak buruk pada negara-negara yang memiliki kerentanan eksternal. Di antara negara-negara tersebut, terdapat beberapa negara emerging market dan negara berkembang yang sudah menghadapi masalah utang luar negeri dan hilangnya kepercayaan investor internasional.

Dengan meningkatnya harga mata uang dollar secara global, hal ini akan membuat negara-negara berkembang di seluruh dunia memasuki fase resesi yang semakin dalam. Terlebih dengan krisis pangan akibat negara-negara penghasil pagan cenderung menahan produksinya untuk kepentingan dalam negeri pasca pandemi dan perang Rusia-Ukraina. Kebijakan ini tentu berdampak pada suplai pangan dunia yang semakin terbatas, hingga menyebabkan harga pangan melambung tinggi. Kedua faktor tersebut yang kemudian membuat situasi dunia saat ini menjadi genting karena kesulitan ekonomi yang melanda hampir banyak negara. Apabila konflik Israel dan Palestina ini berlanjut, maka kekhawatiran terhadap krisis energi dan gas akan semakin memperburuk kondisi perekonomian global yang memang sudah berada di jurang resesi. 

***

*) Oleh: Fajar Nur Roudhotul Jannah, Mahasiswa Hubungan Internasional Universitas Padjadjaran.

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi timesindonesia.co.id

*) Kopi TIMES atau rubrik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

*) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]

*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim apabila tidak sesuai dengan kaidah dan filosofi TIMES Indonesia.

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.

Advertisement



Editor : Hainorrahman
Publisher : Rochmat Shobirin

TERBARU

Togamas - togamas.com

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES