Kopi TIMES

Islam Pra Wali Songo

Jumat, 15 Desember 2023 - 14:54 | 22.96k
Dr. Kukuh Santoso, M.Pd, Dosen Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Islam Malang (UNISMA).
Dr. Kukuh Santoso, M.Pd, Dosen Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Islam Malang (UNISMA).

TIMESINDONESIA, MALANG – Islam sudah masuk ke Indonesia sejak perengahan abad ke-7 Masehi. Menurut P. Wheatley dalam the golden kersonese: studies in the historical geography Peninsual Before A.D. 1500, yang paling awal membawa seruan ke Nusantara adalah para saudagar Arab, yang sudah membagun jalur perhubungan dagang dagang Nusantara jauh sebelum islam. Kehadiran saudagar Arab (tazhi) di kerajaan kalingga pada abad ke-7, yaitu era kekuasan Rani Simha yang terkenal keras dalam menjalankan hukum, diberikan cukup panjang oleh sumber-sumber Cina dari Dinasti Tang. S.Q. Fatim, dalam Islam Comes to Malaysia mencatat bahwa pada abad ke-10 Masehi, terjadi migrasi keluarga keluarga persia ke Nusantara, yang tersebar di antara keluarga-keluarga itu sebagai berikut.

Keluarga Lor yang datang pada zaman Nasiruddin bin Badar memerintah wilayah Lor di Persia tahun 300 H/912 M. Keluarga Lor ini tinggal di Jawa dan mendirikan kampung dengan nama Loran atau Leran, yang bermakna kediaman orang Lor. Keluarga Jawani, yang datang pada Zaman Jawani al-Kurdi memerintah iran sekitar tahun 301 H/913 M. Mereka tinggal di Pasai, Sumatra Utara. Keluarga ini yang diketahui menyusun “Khat Jawi”, artinya tulisan Jawi yang dinisbatkan dari Jawani.

Keluarga Syihad, yang dapat pada masa pemerintahan Ruknuddaulah bin Hasan bin Buwaih ad-Dailami sekitar tahun 357 H/ 969 M. Keluarga ini tinggal di bagian tengah Sumatra timur, dan mendirikan kampung, di situ yang dikenal dengan nama "Sika” yang kemudian menjadi “Negri Siak”.

Keluarga Rumai dari puak Sabankarah, yang tinggal di utara dan timur Sumatra. Penulis penulis Sumtare. Penulis penulis Arab pada abad ke-9 dan ke 10 M, menyebut pulau sumatera dengan nama Rumi, al-Rumi, Lambri, dan Lamuri.

INFORMASI SEPUTAR UNISMA DAPAT MENGUNJUNGI www.unisma.ac.id

Semenjak catatan dinasti tang tentang orang orang Arab sampai terjadinya migrasi kelurga-keluarga Persia- dalam rentan waktu berabad-abad kemudian tidak terdapat bukti bahwa islam pernah dianut secara luas di kalangan penduduk pribumi Nusantara. Tengara yang muncul justru terjadi semacam resintesi dari penduduk setempat terhadap usaha usaha penyebaran islam.

Historigrafi Jawa, yang ditulis R.Tanoy mengungkapkan bahwa dalam usaha mengislamkan Jawa, Sultan al-Gabah dari negri Rum mengirim 20.000 keluarga muslim dipula jawa. Namun banyak di antara mereka yang tewas terbunuh, dan yang tersisa hanya sekitar 200 keluarga. Sultan al-Gabah dikisahkan marah kemudian mengirim ulama, syuhada, dan orang sakti ke Jawa untuk membinasaan para “jin, siluman, dan brekaskan” penghuni Jawa.

Salah satu diantara ulama sakti ini adalah Syaikh Subakir. Dikenal sebagai seorang wali keramat dari Persia yang telah di percaya menanam “tumbal” di sejumlah tempat di Pulau Jawa agar kelak pulau tersebut dapat dihuni umat islam.

Di sejumlah tempat di pantai utara Jawa dikenal sebagai “Makam Panjang” baik yang terdapat di Gersik, Lamogan, Tuban, Rembang dan Jepara di yakini sebagai kuburan atau bekas petilasan Syaikh Subakir, berkaitan dengan usaha rohani mensucikan suatu tempat, dengan cara menanam “tanah” di tempat yang dianggap angker.

Kisah kisah legendaris tentang kedatangan orang orang Lor dan tokoh Syaikh Subakir, tidak saja meninggalkan jejak pada catatan catatan historogrifi, melainkan menjadi cerita lisan (folk- tale) yang dikaitkan dengan keberadan makam-makan tua yang di keramatkan masyarakat.

Dalam catatan sejarah, pada abad ke- 10 sudah digambarkan secara jelas keberadan ribuan pedagang muslim di kota Canton meski dalam catatan Mas’udi yang dikutip J.Sauvaget dalam Relation de la Chine et de l’indie Redigeen 851 M, digambarkan kisah hancurnya masyarakat dengan muslim di Canton pada tahun 879 Masehi akibat pemberontakan Huang Chao.

Kota-kota dagang antara cina dan dunia islam dilakukan lewat jalur laut melalui perairan indonesia. sayangnya, menurut Ricklefs dalam Sejarah Indonesia Moderen 1200-1800, kehadiran muslim dari kawasan Indonesia tidak menunjukan bahwa negara-negara islam lokal telah berdiri, tidak pula bahwa telah terjadi perpindahan agama dari penduduk lokal dalam tingkat yang cukup besar.

Fakta sejarah terkait belum dianutnya Agama Islam oleh penduduk pribumui Nusantara, terlihat pada bukti faktual pada dasawarsa akhir abad ke-13, sewaktu Marcopolo kembali ke Italia lewat laut dan sempat singgah di negri Perlak. Saat itu, Marcipolo mencatat bahwa penduduk Perlak terbagi atas tiga golongan masyarakat sebagai pemukim: kaum muslim Cina, kaum muslim Persia-Arab, dan penduduk pribumi yang masih memuja roh roh dan Kanibal. Bahkan, dua pelabuhan dagang didekatnya, yaitu Basma da Aamar, menurut Marcopolo, bukanlah kota islam. ***

INFORMASI SEPUTAR UNISMA DAPAT MENGUNJUNGI www.unisma.ac.id

*) Penulis: Dr. Kukuh Santoso, M.Pd, Dosen Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Islam Malang (UNISMA).

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi timesindonesia.co.id

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.

Advertisement



Editor : Dhina Chahyanti
Publisher : Rochmat Shobirin

TERBARU

Togamas - togamas.com

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES