Kopi TIMES

Mujahadah Lautan Kesadaran: Menspiritualkan Pengalaman Hidup

Selasa, 19 Desember 2023 - 19:00 | 19.20k
Dr Lia Istifhama, aktivis sosial, advokat, penulis, motivator, akademisi, dan musisi
Dr Lia Istifhama, aktivis sosial, advokat, penulis, motivator, akademisi, dan musisi

TIMESINDONESIA, SIDOARJO – Di tengah hiruk pikuk kehidupan yang sering kali menyisakan keringnya hati dan gersangnya jiwa, seruan akan pentingnya tobat dan tazkiyatun nafs seperti embun yang menyejukkan. Tobat, sebuah langkah awal menuju pembersihan diri, bukan sekadar ucapan lisan, melainkan perjalanan mendalam menyelami diri sendiri, mengakui dan meninggalkan jejak-jejak dosa yang pernah tercipta. 

Tazkiyatun nafs, proses pembersihan jiwa, menjadi perahu bagi kita untuk mengarungi lautan kehidupan dengan hati yang bersih dan pikiran yang tenang.

Imam Ghazali, sang pemikir sufi, mengungkapkan perlunya kita menapaki jalan suhud dan qana'ah. Suhud, sebuah keadaan di mana jiwa tidak lagi terbelenggu oleh gemerlap dunia, mengajarkan kita untuk menghargai esensi hidup yang sejati. Qana'ah, kepuasan dengan apa yang kita miliki, mengajarkan kita untuk menemukan kedamaian dalam kesederhanaan. 

Kedua konsep ini adalah bintang penunjuk arah dalam gelapnya malam kehidupan, membawa kita pada pengertian bahwa kebahagiaan sejati bukanlah tentang memiliki banyak, melainkan tentang merasa cukup.

Pilar Membangun Kekuatan Spiritual

Riyadah dan mujahadah, dua pilar penting dalam membangun kekuatan spiritual, seperti dua sayap yang memungkinkan kita terbang menuju ketinggian batin. Riyadah, latihan spiritual, mengajak kita untuk membentuk diri menjadi pribadi yang bernilai, baik dalam dimensi agama, intelektual, maupun sosial. Mujahadah, perjuangan dalam mengatasi hambatan batin, merupakan api yang menguji dan memurnikan emas keimanan kita.

Keseimbangan antara khauf (takut) dan raja' (harapan) merupakan tarian kehidupan spiritual yang indah. Khauf, ketakutan akan murka Allah, adalah pengingat akan batas-batas yang tidak boleh dilanggar, sedangkan raja', harapan akan kasih sayang Allah, adalah pelita yang menerangi jalan kita. Kedua elemen ini, layaknya dua sisi mata uang, harus selalu hadir dalam hati seorang pemeluk iman.

Tawakal, menyerahkan hasil usaha kepada Allah setelah berikhtiar, adalah jawaban bagi kegelisahan kita tentang masa depan. Ia seperti kapal yang membawa kita melintasi badai kekhawatiran, mengajarkan kita untuk melakukan yang terbaik, namun pada akhirnya, menyerahkan segalanya pada kehendak Ilahi.

Dalam perjalanan spiritual ini, terdapat dua belas prinsip kecerdasan spiritual yang menjadi jembatan penghubung antara dunia fisik dan spiritual. Kesadaran diri, spontanitas dalam kebaikan, panduan nilai hidup, keutuhan, kasih sayang, keragaman, tidak tergantung, rendah hati, pertanyaan mengapa, kemampuan reframe, sikap positif menghadapi masalah, dan dorongan untuk berkarya, adalah serangkaian bintang yang menghiasi langit kehidupan spiritual kita.

Kecerdesan spiritual tumbuh dari akar-akar yang kuat: kesungguhan dalam berefleksi, momen-momen pencerahan, kesadaran akan ketuhanan, dan pengalaman hidup yang kaya. Pengalaman ini bisa berupa pengetahuan intuitif atau peristiwa traumatik yang pada akhirnya membawa kita pada pemahaman spiritual yang lebih dalam.

Menspiritualkan Pengalaman Hidup

Dalam perjalanan ini, interaksi kita dengan sesama menjadi sangat penting. Kepedulian dan kemampuan untuk berbagi adalah bukti nyata dari kecerdasan spiritual yang telah tumbuh dalam diri kita. Ini adalah cermin bahwa kita tidak hanya hidup untuk diri sendiri, tetapi juga untuk kesejahteraan orang lain.

Menspiritualkan pengalaman, menghubungkan setiap aspek kehidupan dengan Tuhan, adalah seni hidup yang tinggi. Setiap kejadian, baik yang membahagiakan maupun yang menyedihkan, kita bawa ke hadapan Tuhan sebagai sarana untuk mendekatkan diri dan memperkaya pemahaman spiritual kita. 

Uang, misalnya, tidak hanya dilihat sebagai alat transaksi duniawi, tetapi juga sebagai sarana untuk berbagi, bersedekah, dan menunjukkan rasa syukur kepada yang Maha Pemberi.

Dalam menjalani kehidupan ini, kecerdasan spiritual bukanlah tujuan akhir yang dapat dengan mudah dicapai, melainkan sebuah perjalanan yang terus menerus. Kita diajak untuk terus bertumbuh dan berkembang, memperluas wawasan dan pemahaman tentang diri sendiri, tentang dunia di sekitar kita, dan hubungan kita dengan Sang Pencipta.

Esensi dari kecerdasan spiritual terletak pada kesediaan kita untuk terus bertanya, mencari, dan merenungkan. Pertanyaan 'Mengapa?' adalah kunci yang membuka pintu-pintu pemahaman baru. Mengapa kita melakukan apa yang kita lakukan? Mengapa kita percaya apa yang kita percaya? Pertanyaan-pertanyaan ini membawa kita pada perenungan yang mendalam tentang kehidupan, mengungkap lapis demi lapis makna yang tersembunyi.

Kemampuan untuk 'reframe' atau memberikan makna baru pada situasi yang kita hadapi juga merupakan aspek penting dari kecerdasan spiritual. Ini bukanlah sekadar optimisme semu, melainkan kemampuan untuk melihat dari sudut pandang yang berbeda, menemukan pelajaran dan kebijaksanaan dalam setiap situasi, bahkan yang paling sulit sekalipun.

Sikap positif dalam menghadapi masalah, melihat setiap tantangan sebagai peluang untuk berkembang, adalah salah satu ciri orang yang cerdas secara spiritual. Mereka memandang masalah bukan sebagai beban, melainkan sebagai jembatan yang mengantarkan pada pertumbuhan pribadi dan spiritual.

Prinsip terakhir dan mungkin yang paling penting adalah dorongan untuk berkarya dan berkontribusi. Kecerdasan spiritual membawa kita pada kesadaran bahwa keberadaan kita di dunia ini bukanlah untuk diri sendiri semata. Kita ada untuk memberi, berbagi, dan membuat perbedaan dalam kehidupan orang lain. Hal ini sejalan dengan prinsip bahwa kita semua adalah bagian dari sesuatu yang lebih besar, bagian dari keseluruhan ciptaan.

Sebagai penutup, kecerdasan spiritual adalah tentang mengenal diri sendiri dan hubungannya dengan semesta serta Sang Pencipta. Ini adalah perjalanan untuk menjalani hidup dengan tulus, rendah hati, dan dengan hati yang selalu terbuka untuk belajar dan bertumbuh. 

Setiap pengalaman, setiap tantangan, setiap momen sukacita dan duka, semuanya adalah bagian dari proses pembelajaran yang tak berujung. Pembelajaran yabg mengantarkan kita pada kebijaksanaan dan kedamaian batin yang sesungguhnya. Wisdom for our life. (*)

* Ditulis oleh Dr Lia Istifhama, aktivis sosial, advokat, penulis, motivator, akademisi, dan musisi

 

*)Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

 

____________
**) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]

**) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.

Advertisement



Editor : Ferry Agusta Satrio
Publisher : Rizal Dani

TERBARU

Togamas - togamas.com

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES