Kopi TIMES

Dari Khadijah hingga Khofifah: Menyulam Tenun Kehidupan di Era Digital

Jumat, 22 Desember 2023 - 11:45 | 68.15k
Dr Lia Istifhama, Ketua Perempuan HKTI Jawa Timur, Sekretaris MUI Jawa Timur, Akademisi
Dr Lia Istifhama, Ketua Perempuan HKTI Jawa Timur, Sekretaris MUI Jawa Timur, Akademisi

TIMESINDONESIA, SURABAYA – Di tengah riuhnya dentuman zaman, di mana digitalisasi menggema bagai ombak tak kenal lelah, peringatan Hari Ibu pada 22 Desember hari ini menjadi momentum introspeksi akan peran wanita dalam mosaik kemajuan. Dalam hiruk-pikuk era digital, sosok perempuan tangguh dan tangkas akan selalu meretas jalan bagi perempuan Indonesia untuk terus berlari. Terus mengejar, dan beradaptasi dengan perubahan zaman.

Ada banyak ibu-ibu hebat di negeri ini. Salah satu contoh adalah Khofifah Indar Parawansa, gubernur Jawa Timur. Khofifah, seorang figur yang mengingatkan kita pada kegigihan dan kebijaksanaan Kartini di masa lalu. Juga kearifan dan keteguhan Khadijah. 

Beliau mengajarkan kita untuk tidak pernah berhenti. Memberi pelajaran untuk terus bergerak maju meski arus perubahan begitu kuat. 

Di era digital ini, penting bagi kita, terutama para wanita, untuk tidak hanya sekedar mengikuti. Tapi juga menjadi bagian dari pembawa perubahan.

Sebagai seorang pemimpin, Khofifah telah menunjukkan bagaimana teknologi dan digitalisasi dapat dimanfaatkan untuk pembangunan yang lebih inklusif dan berkelanjutan. Di bawah kepemimpinannya, Jawa Timur berkembang menjadi provinsi yang tidak hanya maju dalam infrastruktur, tapi juga dalam pemberdayaan perempuan dan teknologi. 

Hal ini mencerminkan bagaimana peran wanita tidak hanya terbatas pada ruang domestik. Namun juga dalam ruang publik dan pembangunan nasional.

Hari Ibu mengingatkan kita bahwa peran wanita tidak lagi monolitik. Wanita masa kini, seperti Khadijah, Kartini, atau Khofifah, adalah simbol dari perempuan yang tidak hanya mengikuti arus, tapi juga membentuknya. Mereka adalah pemimpin, inovator, dan agen perubahan. 

Dalam dinamika era digital, di mana segalanya bergerak cepat, penting bagi perempuan untuk memiliki kemampuan beradaptasi, belajar, dan terus tumbuh.

Mengambil Inspirasi dari Kartini dan Khadijah

Kartini, yang telah lama menjadi simbol emansipasi wanita di Indonesia, di masa lalu berjuang melawan batas-batas yang diberlakukan oleh masyarakat pada zamannya. Khadijah, istri Rasulullah, di sisi lain, dikenal sebagai wanita yang kuat, bijaksana, dan sukses dalam perdagangan. Kedua sosok ini, meski hidup di era yang berbeda, membawa pesan yang sama: perempuan memiliki kekuatan untuk merubah dunia di sekitarnya.

Di era kekinian sekarang, sosok seperti Khofifah tentu mengingat pelajaran dari Kartini dan Khadijah, penting bagi perempuan Indonesia. Tentu untuk tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tapi juga pembuat kebijakan, pengembang, dan inovator di bidang teknologi. 

Dengan demikian, kita tidak hanya berpartisipasi dalam pembangunan bangsa, tapi juga memastikan bahwa suara dan kebutuhan perempuan terwakili dalam proses tersebut.

Karenanya, peringatan Hari Ibu ini menjadi lebih dari sekedar perayaan. Ini adalah waktu untuk merenungkan sejauh mana kita, sebagai bangsa, telah memberikan ruang dan dukungan bagi perempuan untuk berkembang. Bercontoh dari Khofifah, Kartini, dan Khadijah, kita diajak untuk terus berlari dan beradaptasi dalam arus perubahan, tidak hanya sebagai individu, tetapi juga sebagai bagian dari komunitas yang lebih besar.

Dalam semangat Hari Ibu ini, marilah kita meneladani ritme irama Ibu Gubernur. Bukan hanya sebagai perempuan, tapi sebagai anak bangsa yang siap menghadapi tantangan zaman. 

Kita harus terus bergerak. Belajar, dan berinovasi, tanpa batas, untuk terus berkarya dan berperan. Kita, di mana pun kita berada, harus adaptif dan responsif, menunjukkan bahwa kita adalah anak bangsa yang selalu siap mengabdi untuk kemajuan bangsa.

Mematahkan Stereotip: Wanita sebagai Pelopor di Era Digital

Dalam menghadapi era digital, wanita harus mengambil peran sebagai pelopor. Tidak cukup hanya menjadi konsumen pasif, wanita harus turut serta dalam menciptakan, mengembangkan, dan mengimplementasikan solusi teknologi. 

Hal ini tidak hanya membuka jalan bagi kesetaraan gender, tetapi juga menunjukkan keberagaman perspektif yang penting dalam inovasi. Wanita seperti Khofifah menunjukkan bahwa dengan determinasi dan visi, kita dapat mematahkan stereotip dan mengukir prestasi.

Pendidikan berperan kunci dalam mempersiapkan wanita untuk menghadapi tantangan era digital. Dengan pendidikan yang berkualitas dan inklusif, wanita dapat memperoleh pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan untuk bersaing dan berkontribusi secara efektif. 

Pendidikan juga membuka pikiran, mendorong pemikiran kritis, dan menanamkan kepercayaan diri – semua elemen penting yang memungkinkan wanita untuk tampil sebagai pemimpin dan inovator.

Salah satu tantangan terbesar bagi wanita di era digital adalah menemukan keseimbangan antara peran sebagai ibu dan profesional. Peringatan Hari Ibu mengingatkan kita bahwa peran seorang wanita tidak terbatas pada satu domain. 

Wanita harus diberi kebebasan dan dukungan untuk mengejar aspirasi profesional mereka sambil menjalankan tanggung jawab sebagai ibu. Masyarakat dan pemerintah harus berkolaborasi untuk menciptakan lingkungan yang mendukung keseimbangan ini, melalui kebijakan yang inklusif dan pemberdayaan komunitas.

Menghadapi Tantangan dengan Ketahanan dan Kreativitas

Di tengah tantangan yang dibawa oleh era digital, wanita harus bersikap tangguh dan kreatif. Menghadapi hambatan bukan berarti menyerah, tetapi justru menjadi peluang untuk tumbuh dan berinovasi. Dengan semangat ini, wanita dapat berkontribusi pada solusi kreatif untuk masalah-masalah yang dihadapi masyarakat modern, baik di tingkat lokal maupun global.

Sebagai penutup, tulisan ini tidak hanya sebuah refleksi tentang Hari Ibu. Tapi juga sebuah panggilan bagi wanita Indonesia untuk mengambil peran aktif di era digital. 

Dengan mengambil inspirasi dari sosok-sosok seperti Khofifah, Kartini, dan Khadijah, kita dapat melihat bahwa peran wanita sangat luas dan berdampak. Kita diingatkan untuk tidak pernah berhenti berlari, beradaptasi, dan berinovasi. 

Mari kita lanjutkan perjalanan ini dengan penuh semangat dan dedikasi, sebagai perempuan, sebagai ibu, dan sebagai pahlawan dalam kehidupan kita masing-masing.

Dengan semangat Hari Ibu ini, kita mengukuhkan komitmen untuk tidak hanya bertahan. Tetapi juga berkembang dalam masyarakat yang terus berubah ini. Wanita Indonesia, dengan segala perannya, adalah aset berharga bagi bangsa. Harus terus didukung dan dirayakan. Selamat Hari Ibu 2023. (*)

* Dr Lia Istifhama, Ketua Perempuan HKTI Jawa Timur, Sekretaris MUI Jawa Timur, Akademisi

 

____________
**) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]

**) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.

Advertisement



Editor : Khoirul Anwar
Publisher : Sholihin Nur

TERBARU

Togamas - togamas.com

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES