Kopi TIMES

Debat Capres-Cawapres Versus Voting Behavior

Kamis, 28 Desember 2023 - 14:41 | 28.03k
Dr. Hadi Suyono, S.Psi., M.Si, Dosen Fakultas Psikologi Universitas Ahmad Dahlan.
Dr. Hadi Suyono, S.Psi., M.Si, Dosen Fakultas Psikologi Universitas Ahmad Dahlan.

TIMESINDONESIA, YOGYAKARTA – Kualitas debat capres-cawapres belum mampu menggali kapasitas pemimpin negara. Kurangnya bobot debat. Gara-gara pelaksanaanya terkesan formalitas. Setidaknya ditunjukkan oleh panelis hanya bertugas membikin pertanyaan secara tertulis. 

Dan pada saat debat. Panelis diperlakukan sekedar petugas mengambil amplop berisi tema. Tugas berikutnya adalah memungut bola kecil bertuliskan huruf untuk menentukan jenis pertanyaan. 

Akibatnya aturan  debat membatasi panelis menanyakan lebih jauh sebagai respon terhadap argumentasi yang telah disampaikan oleh kandidat. Seandainya panelis diberi kesempatan mengeksplorasi pertanyaan lanjutan secara spontan bermanfaat menakar otentisitas kecakapan, keunggulan dan ketangguhan kandidat memimpin bangsa besar seperti Indonesia.  Namun pendalaman materi oleh panelis untuk menguji kemampuan kandidat menguasai substansi tak diperoleh karena model debat mirip cerdas cermat. 

Kelemahan lain debat.  Tidak menyodorkan keleluasaan bertanya, menjawab, menanggapi dan menyanggah satu sama lain. Tik-tok yang serba terbatas ini menghasilkan miskin data yang berefek tidak cukup memadai sebagai pijakan pengambilan keputusan memilih kandidat. 

Secara ideal. Seharusnya dialokasikan waktu lebih banyak berdebat antar kandidat. Perdebatan antar kandidat yang panjang menyuguhkan kekayaan referensi  mengisi kognisi pemilih mempertimbangkan arah dukungan pada salah satu kandidat.

Terlepas dari kualitas debat capres-cawapres yang minimalis. Ternyata berhasil merebut perhatian publik. Terbukti pasca debat sangat riuh di media sosial. Melalui jagat maya. Pendukung menanggapi peristiwa debat yang sudah berlangsung sebelumnya. 

Sayangnya yang memperoleh pencermatan  dari pendukung dan netizen lebih luas,  bukan perdebatan  yang substantif. Evaluasi yang dilontarkan oleh mereka cenderung berkenaan dengan gimmick. 

Seperti salah satu capres menampilkan komunikasi non verbal sebagai pertanda meremehkan capres lain yang menjadi musuh debatnya. Atau ada cawapres yang tak tahan mengontrol emosi dengan melampiaskan kekesalannya dengan memandu sorak pendukung yang menyaksikan secara langsung debat.  

Ada lagi tuduhan cawapres memasang earphone. Sedang calon lain tidak menggunakannya. Perbedaan penggunaan alat tersebut menimbulkan kecurigaan  sebagian netizen pada Komisi Pemilihan Umum sudah tidak fair dengan memperlakukan istimewa salah satu kandidat. 

Meski penyelenggaran debat capres-cawapres belum optimal. Terbukti pemirsa tetap menyoroti peristiwa debat. Sejauh mana debat memberi pengaruh pada pengambilan keputusan pemilih pada saat berlangsungnya pemilihan presiden dan wakil presiden? 

Penjelasannya bisa menggunakan literasi psikologi sosial mengkaji voting behavior atau lebih dikenal dengan perilaku pemilih. Kerangka teoritik yang dijadikan variabel menerangkan  dampak debat capres-cawapres bagi voting  behavior adalah sikap. Kerangka konseptual mengenai sikap yang dimplementasikan pada voting behavior dimaknai sebagai kondisi psikologis  pemilih untuk memutuskan pilihan pada kandidat tertentu.

Dinamika psikologis yang terjadi dalam diri pemilih tergantung pada aspek kognisi berisi pengetahuan mengenai persetujuan pada kandidat. Implementasinya saat pemilih setuju pada gagasan kandidat memunculkan dorongan untuk memilihnya. Berbeda dengan pemilih yang tak setuju dengan gagasan berakibat pada tidak akan memilih kandidat tersebut. 

Aspek kedua berkenaan dengan emosi yang memuat perasaan suka atau tidak suka pada kandidat. Aspek emosi ini berpengaruh pada pemilih ketika tumbuh rasa senang akan memilih kandidat yang terlanjur disukai tersebut. Sebaliknya kalau dalam diri pemilih sudah memusuhi dan membenci menimbulkan penolakan sehingga tidak akan memilih pada kandidat yang tidak disukainya. 

Aspek ketiga berupa konasi yang menunjukkan telah ada dalam diri menampilkan  kecenderung memilih  pada kandidat tertentu.  Kecenderungan ini bermuatan motivasi  untuk mengarahkan pemilih.

Penerapannya adalah motivasi yang rendah pada kandidat menunjukkan indikasi tidak akan mendukung kandidat.  Tak sama dengan motivasi tinggi  mampu menuntun dirinya memilih kandidat. 

Mengacu pada sikap yang terdiri dari racikan kognisi, emosi dan konasi dapat menjadi formula teoritik menjelaskan dampak debat capres-cawapres pada pemilih. Secara spesifik bagi pemilih yang telah memiliki sikap mapan ditunjukkan oleh aspek kognisi, emosi dan konasi  kuat. Debat capres-cawapres tidak berpengaruh apa-apa pada pemilih. Debat tidak mampu melawan pemilih yang telah mempunyai sikap kokoh.

Meski ada debat capres-cawapres. Dirinya tak akan berubah pikiran.  Dia tetap mantap pada pilihannya.

Fenomena yang ada mengenai sikap kuat terlihat pada reaksi pendukung setelah debat berlangsung. Apapun penampilan saat debat. Pendukung mengapresiasi positif kandidat idolanya. Apapun gagasan yang disampaikan saat debat. Simpatisan selalu membenarkan gagasan dari kandidat yang sudah didukung sebelumnya.   

Debat memungkinkan berpengaruh pada pemilih yang masih memiliki sikap netral. Ketika pemilih belum cukup pengetahuan. Debat menjadi peta untuk mencari wawasan berhubungan dengan  harapan mengenai kandidat yang bisa membawa Indonesia lebih baik. Selanjutnya dalam suasana hati yang belum tertarik pada salah satu kandidat. Debat bisa membujuk pemilih yang ditentukan oleh penampilan kandidat saat debat. Kandidat  tampil mempesona berpotensi tinggi menumbuhkan rasa suka. Perasaan suka ini yang menguatkan kecenderungan pemilih jatuh hati pada kandidat.

Ada satu hal lagi  menjadi tolok ukur debat capres-cawapres berdampak pada mutu pelaksanaan pemilihan umum di Indonesia. Tanda-tanda bisa diamati terutama pada pemilih yang sikapnya masih netral lebih memperhatikan substansi.  Boleh dinilai tujuan debat presiden-wakil presiden tercapai. Karena sejatinya debat merupakan adu gagasan mengevaluasi kandidat memiliki ide jitu yang bisa diterapkan untuk membuat Indonesia sejahtera, adil dan makmur.

Tanda-tanda lain yang terjadi saat pemilih lebih memperhatikan gimmick menjadi dasar pengambilan keputusannya. Boleh dibilang debat tak mencapai tujuan. Debat hanya sekedar dilihat sebagai panggung drama dimainkan oleh kandidat. Bukan gagasan substantsi yang menjadi objek pecermatannya. 

Dampak lebih besar hanya memperhatikan gimmick berakibat pada ketidakuratan  memilih kandidat. Hal yang melatarbelakangi adalah gimmick yang dicitrakan kadang tidak sesuai dengan kenyataan. Kandidat hanya pintar memainkan gimmick sehingga pemilih terpukau. Namun sesungguhnya kapasitas gagasan dan strategi menjalankannya untuk menjadikan Indonesia lebih baik. Minimalis. 

Ketika pemilih lebih banyak fokus gimmick dibandingan dengan gagasan. Selayaknya Komisi Pemilihan Umum merubah format debat capres-cawapres yang mampu mengarahkan pemilih lebih rasional memastikan pilihannya. Rasionalitas pemilih menghadirkan demokrasi berkualitas tinggi bermuara melahirkan presiden dan wakil presiden terbaik pada ajang pemilihan umum. Semoga…!!!

***

*) Oleh: Dr. Hadi Suyono, S.Psi., M.Si, Dosen Fakultas Psikologi Universitas Ahmad Dahlan.

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi timesindonesia.co.id

*) Kopi TIMES atau rubrik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

*) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]

*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim apabila tidak sesuai dengan kaidah dan filosofi TIMES Indonesia.

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.

Advertisement



Editor : Amar Riyadi
Publisher : Rochmat Shobirin

TERBARU

Togamas - togamas.com

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES