Kopi TIMES

Politik Riang Gembira

Rabu, 03 Januari 2024 - 13:11 | 24.74k
M Hafiz Al Habsy, Presidium Nasional ILMISPI dan Koordinator Pusat Aliansi BEM FISIP Se-Sumatera.
M Hafiz Al Habsy, Presidium Nasional ILMISPI dan Koordinator Pusat Aliansi BEM FISIP Se-Sumatera.

TIMESINDONESIA, SUMATERA – Setelah kampanye secara resmi berjalan semenjak 28 November 2023, agaknya ketakutan kita terhadap ketegangan sosial pada pemilu tahun 2019 tidak lagi terjadi. Sikut menyikut antar kubu pasangan calon presiden sudah barang tentu akan selalu ada, namun sepertinya politik riang gembira lebih gencar dimainkan oleh ketiga kubu melalui kampanye udara. 

Pasangan calon nomor urut 02 Prabowo-Gibran dengan slogan gemoy dan joget ala Prabowo, Anis-Muhaimin dengan slepet dan ubah bareng-nya serta Ganjar-Mahfud yang sepertinya belum menemukan slogan politik riang gembira. Atau memang paslon 03 ini lebih bicara substansi ketimbang menentukan branding politik yang mudah dikenal pemilih muda?

Selain itu, permainan narasi identitas dan pengkotakan isu atas dasar Agama juga cukup menurun, meskipun sebenarnya sempat muncul gerakan ijtihad ulama untuk salah satu pasangan calon. Namun dominasi pemilih muda dan pemula pada pemilu 2024 dengan tipikalnya yang lebih toleran dan berfikiran terbuka tampaknya menjadi alasan yang logis bagi ketiga Paslon ber-sepakat untuk lebih mengedepankan politik riang gembira.

Meminjam ungkapan Prof. Ariel Heryanto (2023), angan-angan sesat (harapan tentang perubahan Indonesia secara makro) begitu marak setiap ada pemilu, sudah berkali-kali keliru, tetapi diulang lagi dalam pemilu berikutnya. Begitupun dengan Shindunata (2023) yang mengaitkan antara pemilu 2024 dengan kehadiran “Ratu adil” sebuah tradisi mesianisme Jawa yang diartikan sebagai harapan dari rakyat terhadap suatu perubahan.

Secara normatif pun sebenarnya momentum Pemilu merupakan hal yang sakral dalam kehidupan bernegara, dimana seluruh masyarakat bersama-sama menentukan arah bangsa lima tahun kedepan. Wajar saja jika kemudian banyak masyarakat yang memberi begitu besar harapan terhadap hasil Pemilu sebagai jawaban untuk perbaikan kehidupannya kedepan. Ditambah lagi dengan janji-janji politik yang sangat menggiurkan dari setiap pasangan calon.

Pertanyaan mendasar, apakah politik riang gembira yang dipertontonkan saat ini mampu mematahkan ungkapan Prof. Ariel Heryanto, atau mengafirmasi pernyataan Shindunata tentang Pemilu 2024 sebagai kehadiran “Ratu Adil”? Sebenarnya tidak ada yang berubah dari Pemilu sebelumnya, meskipun sebagaiman dijelaskan di awal, Pemilu 2024 tidak lagi menimbulkan ketegangan sosial seperti pada tahun 2019 namun pola yang terjadi tidaklah jauh berbeda.

Berbicara tentang politik riang gembira tentu memiliki sisi positif, dimana mobilisasi rakyat tidak lagi berujung pada ketegangan sosial. Namun pada dasarnya praktik tersebut mengafirmasi bahwa pemilih kita hari ini merupakan pemilih the michigan model yang didorong oleh persepsi hasil rangsangan eksternal. Hal ini tidak ubahnya dengan permainan isu politik identitas sebagai upaya merangsang persepsi para pemilih berdasarkan nilai agama, etnis dll.

Berdasarkan sudut pandang tersebut, baik isu agama dan politik identitas atau gaya baru politik riang gembira tidak lebih dari sekedar metode pemenangan pemilu. Namun bicara pemilu sebagai “Ratu Adil” tampaknya tidak ditentukan oleh metode pemenangan seperti apa yang digunakan setiap pasangan calon. Namun lebih kepada komitmen dan keseriusan setiap pasangan calon terhadap janji-janji untuk perbaikan yang akan dilakukan.

Jika dilihat lebih dalam lagi, sebenarnya masyarakat kita tidaklah begitu peduli siapapun yang akan menang nantinya pada pemilu 2024. Hal ini dapat dilihat dari angan-angan masyarakat tentang perubahan Indonesia secara makro yang sebenarnya menjadi titipan harapan para pendukung fanatik kepada paslonnya masing-masing. Secara keresahan seluruh masyarakat Indonesia tidak jauh berbeda, dan ekonomi menjadi keresahan utama.

Melihat realita itu, pemilu sebagai “Ratu Adil” hanya akan dicapai apabila kita yakin kebenaran dan kebaikan sebagai dasar usahanya. Atau yang secara politis dan lebih taktis, setiap pasangan calon harus mampu melepaskan segala kepentingan dari konsolidasi elit politik. Sehingga satu-satunya tuan dari setiap tindak-tanduk paslon terpilih hanya rakyat. Berbicara gagasanpun sebenarnya setiap calon tidak jauh berbeda, hanya cara reasoning dari masing-masing paslon yang berbeda. 

Pada akhirnya, meskipun metode kapanye pemilu 2024 dengan konsep politik riang gembira namun tetap saja tidak akan memberikan suatu perubahan seperti apa yang para pemilih angan-angankan tentang Indonesia yang sejahtera, adil, dan makmur. 

***

*) Oleh: M Hafiz Al Habsy, Presidium Nasional ILMISPI dan Koordinator Pusat Aliansi BEM FISIP Se-Sumatera.

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi timesindonesia.co.id

**) Kopi TIMES atau rubrik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]

**) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim apabila tidak sesuai dengan kaidah dan filosofi TIMES Indonesia.

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.

Advertisement



Editor : Hainorrahman
Publisher : Rochmat Shobirin

TERBARU

Togamas - togamas.com

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES