Kopi TIMES

Media Sosial, Keluarga dan Kasus Perselingkuhan

Minggu, 14 Januari 2024 - 20:32 | 55.11k
M. Gufran, Dosen Tetap Institut Agama Islam Hamzanwadi NW Lombok Timur.
M. Gufran, Dosen Tetap Institut Agama Islam Hamzanwadi NW Lombok Timur.

TIMESINDONESIA, LOMBOK – Apakah ada hubungan antara media sosial dengan perselingkuhan? Pertanyaan ini masih relevan didiskusikan sepanjang masyarakat aktif menggunakan media sosial dan maraknya kasus perselingkuhan. Tulisan singkat ini berupaya menjelaskan adanya korelasi antara penggunaan media sosial dan fenomena perselingkuhan dalam masyarakat modern.

Dalam zaman digital yang terus berkembang pesat saat ini, keberadaan media sosial terbukti telah memudahkan urusan masyarakat dalam berbagai aspek. Akan tetapi di balik kemudahan yang ditawarkan itu, ternyata media sosial juga membuka pintu jurang kemudaratan yang serius, salah satunya adalah munculnya kasus perselingkuhan.

Pengertian Selingkuh, Jenis-jenis, dan Penyebabnya

Dalam KBBI (2014), selingkuh diartikan sebagai “menyembunyikan sesuatu untuk kepentingan sendiri; tidak berterus terang; tidak jujur; serong”. Menurut Blow dan Hartnett (dalam McAnulty & Brineman, 2007), perselingkuhan adalah kegiatan seksual dan atau emosional yang dilakukan oleh salah satu atau kedua individu yang terikat dalam hubungan berkomitmen dan dianggap melanggar kepercayaan dan atau norma-norma (yang terlihat maupun tidak terlihat) yang berhubungan dengan eksklusivitas emosional atau seksual.

Dalam konteks hubungan keluarga, terdapat dua jenis perselingkuhan yaitu perselingkuhan emosional dan perselingkuhan seksual (Shackelford, LeBlanc, & Drass, 2000). Perselingkuhan perselingkuhan emosional adalah memberikan cinta, waktu, dan perhatian kepada orang lain selain pasangan, sedangkan perselingkuhan seksual adalah kegiatan seksual yang dilakukan dengan orang lain selain pasangan (Shackelford, LeBlanc, & Drass, 2000).

Ada banyak faktor yang menyebabkan munculnya perselingkuhan dalam hubungan suami istri, di antaranya adalah ketidakpuasan dalam hubungan dan kualitas komunikasi yang buruk. Tidak sedikit suami atau istri merasa tidak puas atau kurang bahagia dalam hubungan yang dijalani, ditambah ketidakmampuan menjaga kualitas komunikasi yang baik, lalu salah satu di antara keduanya tergoda mencari kepuasan atau pemenuhan emosional di luar hubungannya yang sah.

Ketika ada masalah yang melanda rumah tangga, idealnya pasangan suami-istri segera menganalisa dengan cermat apa dan bagaimana masalah yang dihadapi serta solusi penyelesaiannya. Bukan saling menyalahkan dan mencari kekurangan masing-masing sehingga menimbulkan ketidakpuasan dalam hubungan. Apalagi jika ketidakpuasan itu diekspresikan dengan cara mencari pelampiasan melalui media sosial.

Pada zaman digital saat ini, media sosial memberikan kemudahan berkomunikasi bagi setiap orang. Tidak hanya dengan orang yang sudah dikenal, dengan orang asing pun komunikasi amat mudah terjalin. Kemudahan akses komunikasi ini berakibat munculnya lingkaran kehidupan sosial seseorang menjadi terbuka lebar, sehingga berisiko membuka pintu untuk hubungan yang tidak sehat seperti perselingkuhan melalui media sosial.

Kasus Perselingkuhan di Media Sosial

Perselingkuhan melalui internet biasa disebut online infidelity. Perselingkuhan ini didefinisikan sebagai hubungan romantis atau seksual yang difasilitasi dengan menggunakan internet yang dilihat paling tidak oleh salah satu pasangan sebagai pelanggaran yang tidak dapat diterima terhadap kontrak kepercayaan dalam hubungan (Hertlein & Piercy, 2008).

Sebagaimana perselingkuhan di dunia nyata, perselingkuhan melalui internet memiliki dua jenis, yaitu cyberlove dan cybersex. Cyberlove dipahami sebagai perselingkuhan emosional melalui media internet. Cybersex dipahami sebagai perselingkuhan seksual melalui media internet. Setiap kegiatan (mencakup suara, tulisan, gambar, dan video) yang melibatkan emosi seksual sehingga menimbulkan rangsangan bagi pelaku dapat disebut sebagai kegiatan seksual di internet.

Perselingkuhan melalui internet (cyberlove dan cybersex) ini dapat dikatakan sebagai hubungan romantis antara laki-laki dan wanita yang terjalin melalui komunikasi di ruang digital. Hubungan romantis yang dibangun dalam cyberlove maupun cybersex tidak melibatkan fisik karena terpisah oleh jarak, akan tetapi tetapi dua jenis perselingkuhan ini melibatkan emosi yang menggebu dan intens sehingga sukarela membagi cinta, waktu, dan perhatian berlebih kepada selingkuhannya.

Ada beberapa hal yang dianggap menjadi faktor pendukung terjadinya perselingkuhan di media sosial. Pertama, kemudahan dalam berkomunikasi. Media sosial menawarkan cara yang mudah dan cepat untuk berkomunikasi. Hal ini memungkinkan seseorang sangat mudah terlibat dalam percakapan yang intim atau rahasia dengan orang lain, termasuk orang yang tidak memiliki hubungan apa pun dengan dia.

Kedua, keterbukaan informasi. Banyak orang dengan amat mudah membagikan berbagai aspek kehidupan pribadinya di media sosial. Padahal tindakan ini menjadikan khalayak dapat mengakses informasi pribadi dengan bebas. Ketika informasi pribadi menjadi konsumsi khalayak, hal ini dapat menarik orang lain berkesempatan membangun interaksi.

Ketiga, kesempatan bertemu dengan orang baru. Melalui media sosial, setiap pengguna dapat  terhubung dengan orang-orang dari berbagai latar belakang dan tempat. Kesempatan ini membuka peluang untuk membangun hubungan baru yang akhirnya dapat mengarah kepada perselingkuhan.

Penting untuk diingat bahwa tidak semua orang yang menggunakan media sosial akan terlibat dalam perselingkuhan. Nilai-nilai yang terbangun pada pribadi individu seperti integritas, kejujuran, dan komitmen yang kuat dalam menjaga hubungan keluarga sangat memainkan peranan penting sehingga orang bijaksana dalam menggunakan media sosial. 

Bijaksana dalam Menggunakan Media Sosial

Media sosial itu bebas nilai, tergantung siapa pengguna dan bagaimana ia digunakan. Apabila digunakan dengan bijaksana, media sosial bisa menjadi anugerah dan berkah yang besar dalam kehidupan, terutama bagi mereka yang menjalankan bisnis berbasis media sosial. Sebaliknya, apabila media sosial digunakan dengan cara dan tujuan yang salah, seperti dijadikan media untuk berselingkuh, sungguh media sosial bisa menjadi malapetaka bagi diri, keluarga, bahkan masyarakat luas.

Bagi tiap-tiap individu masyarakat yang aktif menggunakan media sosial sangat penting menjaga diri dan keluarga dari hal-hal yang dapat mengganggu kekuatan dan keharmonisan keluarganya. Bijaksanalah dalam bermedia sosial, dengan cara tetap menyeimbangkan antara kebutuhan bermedia sosial dengan menjaga privasi diri dan keluarga. Mari gunakan media sosial dengan selalu menjaga integritas, kejujuran, dan komitmen yang kuat dalam menjaga hubungan keluarga yang tetap kuat dan harmonis di era digital yang terus berkembang pesat.

Oleh : M. Gufran, Dosen Tetap Institut Agama Islam Hamzanwadi NW Lombok Timur.

*)Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

 

____________
**) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]

**) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.

Advertisement



Editor : Hainorrahman
Publisher : Sholihin Nur

TERBARU

Togamas - togamas.com

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES