Kopi TIMES

Menakar Tantangan Kesehatan Mental di Era 4.0

Rabu, 17 Januari 2024 - 14:42 | 37.54k
Masitah Effendi, M.Sosio, Dosen FISIP UIN Sunan Ampel Surabaya.
Masitah Effendi, M.Sosio, Dosen FISIP UIN Sunan Ampel Surabaya.

TIMESINDONESIA, SURABAYA – Menghadapi kemajuan teknologi dan dinamika kehidupan modern, tantangan kesehatan mental semakin menjadi fokus perbincangan. Kesehatan mental merupakan pondasi utama bagi kehidupan yang seimbang dan berkualitas. Dalam kehidupan yang penuh tekanan dan tantangan, menjaga kesehatan mental bukan sekadar kebutuhan, melainkan suatu keharusan. Kesehatan mental bukan hanya tentang ketiadaan gangguan psikologis, tetapi juga mencakup keseimbangan emosi, kemampuan mengelola stres, dan kesejahteraan psikologis secara menyeluruh. 

Ketika seseorang memiliki kesehatan mental yang baik, mereka lebih mampu mengatasi tekanan hidup, menjaga hubungan sosial yang sehat, dan merespons perubahan dengan lebih fleksibel. Meski era ini membawa kemudahan akses informasi dan konektivitas, dampaknya terhadap kesejahteraan mental seringkali menjadi dilema tersendiri. Ledakan teknologi dan akses tak terbatas ke media digital, membuat individu kini hidup dalam era di mana informasi berlimpah, namun juga dibarengi dengan tekanan untuk terus terkoneksi dan berpartisipasi. 

Rasa takut akan ketidaksetaraan, perbandingan sosial, dan ekspektasi yang tidak realistis melalui platform media digital dapat memberikan dampak yang signifikan terhadap kesehatan mental. Misalkan saja di tengah hiruk-pikuk kehidupan sehari-hari, kesehatan mental menjadi aspek yang kian penting untuk diperhatikan. Setiap langkah, setiap interaksi, dan setiap tantangan yang dihadapi seseorang pada setiap harinya dapat memiliki dampak besar pada kesejahteraan pikiran seseorang. 

Pagi dimulai dengan gemuruh alarm yang mengingatkan kita untuk memasuki rutinitas. Di sinilah pertarungan pertama dengan kesehatan mental dimulai. Kecemasan akan tugas yang menumpuk, tekanan pekerjaan, dan harapan yang mungkin terlalu tinggi bisa memberikan beban pada pikiran seseorang. Meskipun kita berusaha menjalani rutinitas dengan semangat positif, terkadang pikiran itu seperti gelombang yang sulit dikendalikan. 

Interaksi sosial di kantor atau di lingkungan sekitar menjadi elemen lain yang memainkan peran penting. Kadang-kadang, perasaan kesepian atau sulit berkomunikasi dapat merambah pikiran seseorang, memberikan dampak yang terasa bahkan setelah interaksi itu berakhir. Ketika pulang, pikiran kita tidak selalu menemukan ketenangan di rumah. 

Dalam dunia yang terus terhubung, seringkali kita diserang oleh informasi berlebihan dari media sosial atau berita, meningkatkan risiko stres dan kecemasan. Di sisi lain, saat bersama keluarga atau teman, kita dapat menemukan dukungan dan kenyamanan. Malam hari, ketika tubuh kita bersiap untuk beristirahat, seringkali pikiran kita tidak segera dapat mengikuti. Stres dan kekhawatiran dapat menjadi penghalang tidur nyenyak. Pada titik inilah pentingnya praktik relaksasi, meditasi, atau aktivitas yang meningkatkan kesejahteraan emosional.

Menilik lebih luas lagi, pada Masyarakat Indonesia di tengah keberagaman budaya dan dinamika sosial, tantangan terkait kesehatan mental menjadi suatu isu yang semakin mendesak untuk diperhatikan. Masyarakat Indonesia menghadapi berbagai tekanan dari segi ekonomi, sosial, dan politik, yang dapat memberikan dampak pada kesejahteraan mental mereka. Di perkotaan, tekanan pekerjaan dan kompetisi yang tinggi seringkali menjadi sumber stres yang signifikan. Beban ekonomi, ketidakpastian pekerjaan, serta urbanisasi yang cepat juga memberikan kontribusi terhadap tingginya tingkat stres di kalangan masyarakat perkotaan. 

Selain itu, adanya tuntutan untuk tetap terhubung dengan perkembangan teknologi dan gaya hidup modern bisa menciptakan ketegangan tambahan. Di sisi lain, masyarakat di pedesaan juga menghadapi tantangan tersendiri. Faktor-faktor seperti keterbatasan akses terhadap layanan kesehatan mental, kurangnya informasi, dan stigma terhadap masalah kesehatan mental dapat menjadi penghalang untuk mencari bantuan. 

Stigma terkait dengan masalah kesehatan mental masih menjadi masalah serius di masyarakat Indonesia. Beberapa orang mungkin enggan untuk membicarakan atau mencari bantuan ketika mengalami masalah kesehatan mental karena takut dicap sebagai lemah atau dianggap tabu. Pemahaman terhadap kesehatan mental dan upaya untuk mengurangi stigma perlu ditingkatkan agar masyarakat lebih terbuka dan mendukung satu sama lain. 

Aspek budaya juga memiliki peran penting. Nilai-nilai seperti gotong royong dan solidaritas seharusnya dapat diterapkan untuk memberikan dukungan emosional bagi individu yang mengalami kesulitan mental. Oleh karena itu kesehatan mental menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Dengan memahami dan merawatnya, kita dapat membentuk fondasi yang kokoh untuk menjalani setiap aspek kehidupan. 

Pengaruh pentingnya kesehatan mental dapat tercermin pada produktivitas dan kinerja. Seorang individu yang menjaga kesehatan mentalnya dengan baik cenderung lebih fokus, kreatif, dan efisien dalam pekerjaannya. Inisiatif untuk menciptakan lingkungan kerja yang mendukung kesehatan mental dapat memberikan manfaat ganda, tidak hanya untuk individu tetapi juga untuk produktivitas organisasi secara keseluruhan. Kesehatan mental juga memiliki dampak positif pada hubungan interpersonal. Ketika seseorang dapat memahami dan mengelola emosinya dengan baik, hubungan dengan keluarga, teman, dan rekan kerja menjadi lebih harmonis. 

Pemahaman yang mendalam terhadap kesehatan mental bisa kita upayakan bersama, misalkan saja meningkatkan kesadaran tentang pentingnya kesehatan mental kepada Masyarakat, agar stigma buruk seputar kesehatan mental berkurang. Membangun komunitas yang mendukung dan saling peduli dapat menjadi langkah penting dalam mengatasi isolasi sosial. Inisiatif yang mendorong keterlibatan sosial dapat memberikan dukungan emosional yang diperlukan. 

Tempat kerja juga perlu mengimplementasikan program kesejahteraan karyawan, termasuk layanan kesehatan mental, untuk membantu mengurangi tekanan di lingkungan kerja. Melalui pemahaman mendalam tentang tantangan kesehatan mental di era 4.0 dan upaya bersama untuk menanggulanginya, masyarakat dapat membentuk lingkungan yang lebih mendukung kesejahteraan mental. Oleh karena itu, pentingnya kesehatan mental tidak hanya sebagai isu pribadi, tetapi juga sebagai tanggung jawab bersama untuk menciptakan masyarakat yang lebih sehat dan berdaya. 

***

*) Oleh: Masitah Effendi, M.Sosio, Dosen FISIP UIN Sunan Ampel Surabaya.

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi timesindonesia.co.id

*) Kopi TIMES atau rubrik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

*) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]

*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim apabila tidak sesuai dengan kaidah dan filosofi TIMES Indonesia.

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.

Advertisement



Editor : Hainorrahman
Publisher : Rochmat Shobirin

TERBARU

Togamas - togamas.com

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES