Kopi TIMES

Kebudayaan Bisu

Minggu, 21 Januari 2024 - 15:28 | 20.26k
Asman, Pegiat literasi Asal Sulawesi Tenggara.
Asman, Pegiat literasi Asal Sulawesi Tenggara.

TIMESINDONESIA, JAKARTA – Apakah bisu di diidentikkan dengan tidak bisa berbicara? Pengertian secara umum, bisu dapat dipastikan bahwa seseorang yang tidak memiliki kemampuan untuk berbicara, yang disebabkan oleh beberapa organ tubuh tidak berfungsi dengan baik. Seseorang bisu, dengan menggunakan pendekatan medis, maka organ seperti pita suara, tenggorokan, mulut, lidah dan sebagainya dapat dipastikan tidak berfungsi sesuai dengan peruntukkannya.

Dalam pengertian yang lain, bisu yang dimaksud dalam tulisan ini bukanlah bisu dalam pengertian medis. Secara filosofis, bisu yang dimaksud ialah ketidakmampuan seseorang mengungkapkan sesuatu hal, karena disebabkan adanya rasa takut, ancaman bahkan memiliki kepentingan yang sama, sehingga kesalahan di depan mata tidak mampu diungkapkan (bisu). Keadaan ini menjadi budaya yang terjadi dalam kehidupan sosial. Tergantung keadaan seperti apa yang membuat kebisuan terjadi.

Kebudayaan adalah hasil dari interaksi yang terjadi antar masyarakat, membentuk suatu peradaban dengan menciptakan kehidupan dan menjadi laku setiap masyarakatnya. Kebudayaan yang ada pada suatu masyarakat, akan diwariskan kepada generasi selanjutnya untuk melestarikannya. Kebudayaan tercipta atas pergumulan pengetahuan, kepercayaan, moral, kesenian dan sebagainya. 

Kebudayaan bisu diidentikkan dengan keadaan diam dan tidak mengungkapkan sesuatu katapun terhadap suatu peristiwa. Kebudayaan bisu ini sangat melekat terhadap individu dan kelompok masyarakat. Sebagai contoh, kontestasi pemilu tahun 2024 telah menjadi konsumsi semua kalangan masyarakat di seluruh penjuru negeri. Hanya saja, kesadaran atas demokrasi belum membawa perubahan yang besar terhadap partisipasi masyarakat dalam menyampaikan kritik dan saran dihadapan publik.

Keadaan yang lain justru lebih memprihatinkan. Dimana partisipasi masyarakat dalam menyampaikan berbagai peristiwa di ruang publik, masih cenderung melihat kepentingan dan profit apa yang akan didapatkan. Inilah yang dimaksud oleh Paulo Freire belum adanya kesadaran kritis yang melekat pada manusia untuk melakukan tindakan perbaikan dan perubahan terhadap persoalan yang terjadi. 

Bahaya Laten Kebudayaan Bisu

Setiap tindakan pasti ada konsekuensinya, begitupun dengan bisu (diam). Budaya yang mengakar pada masyarakat yang enggan untuk mengutarakan suatu kebenaran justru akan dimanfaatkan oleh mereka yang memiliki kepentingan. 

Syekh Ibnu Daqiq mengutip sebuah perkataan dalam kitab Al- Ifshah bahwa kata-kata yang baik dan bermanfaat itu lebih baik dari pada diam dan tidak mengatakan sesuatu apapun. Ungkapan tersebut mengandung makna agar, segala sesuatu yang baik hendaknya disampaikan walaupun bagi mereka yang memiliki kepentingan tidak menyukainya. 

Diam atau bisu tidak mampu mengungkapkan sesuatu hal, akan membawa dampak kepada keberlangsungan hidup umat manusia. Penindasan, eksploitasi alam dan manusia dan sebagainya, itu semua terjadi karena diam dan membisunya orang-orang yang tidak mau mengutarakannya. Sebagaimana sejarah Panjang yang terjadi pada bangsa ini pembungkaman dimana-mana, persekusi dan sebagainya.

Pada konteks lain, kata-kata yang tidak di tempatkan pada tempatnya akan menjadi penyebab terjadinya persoalan. Kita bisa melihat sejarah bagaimana kerusuhan antara agama di Ambon dan Poso, kerusuhan di Kalimantan itu semua di sebabkan lisan atau kata-kata yang tidak memiliki kebenaran yang otentik. Itulah sebabnya Ali Bin Abi Thalib mengatakan terjadinya kezaliman karena diamnya orang-orang baik.

Perkataan dan Tindakan

Konsep ideal dari sebuah kehidupan ialah, perkataan menjadi sebuah tindakan. Konsep inilah yang dimaksud oleh Paulo Freire Ketika membagi kesadaran manusia menjadi tiga hal yaitu kesadaran magis, kesadaran naif dan kesadaran kritis. dari ketiga kesadaran manusia itulah, Paulo Freire menekankan kepada kesadaran kritis untuk dijadikan konsep ideal dalam kehidupan.

Kesadaran kritis inilah yang mendorong seseorang untuk berkata (menyampaikan) dan turut serta melakukan tindakan terhadap apa yang ia ungkapkan. Itulah mengapa Gus Mus mengatakan, seseorang dalam bertindak akan sangat dipengaruhi oleh pakaian yang ia pakai. Olehnya itu, perkataan dan tindakan seyogyanya selaras dan tidak menegasikan.

Hal inilah yang mendorong Gus Mus untuk memberikan pemahaman bahwa apapun jabatan dan keadaan kita di masyarakat, bertindaklah dan jadilah seseorang yang mengejawantahkan aspek kecintaan ilahi terhadap seluruh alam raya. Dengan kesadaran inilah, semua orang akan senantiasa menyampaikan segala kebaikan, tanpa harus takut dengan keadaan kehidupan yang sukar.

***

*) Oleh : Asman, Pegiat literasi Asal Sulawesi Tenggara.

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi timesindonesia.co.id

*) Kopi TIMES atau rubrik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

*) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]

*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim apabila tidak sesuai dengan kaidah dan filosofi TIMES Indonesia.

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.

Advertisement



Editor : Hainorrahman
Publisher : Rochmat Shobirin

TERBARU

Togamas - togamas.com

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES