Kopi TIMES Universitas Islam Malang

Syaikh Jumadil Kubra

Sabtu, 27 Januari 2024 - 12:57 | 16.86k
Dr. Kukuh Santoso, M.Pd, Dosen Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Islam Malang (UNISMA).
Dr. Kukuh Santoso, M.Pd, Dosen Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Islam Malang (UNISMA).
FOKUS

Universitas Islam Malang

TIMESINDONESIA, MALANG – Di dalam sumber-sumber historiografi, kisah tokoh yang dikenal dengan Syekh Jumadil Kubra memiliki banyak versi. Menurut Th.G.Th. PIGEAUD dalam Literature of java: Catalogue Raisonne of Javanese Manuscripts In the Library of the University of Leiden and Other Collections In the Netherlands, disebutkan bahwa pada zaman kuno terdapat empat orang suci beragama islam: Jumadil Kubro di Mantingan, Nyampo di suku Domas, Dada Petak di gunung Bromo Dan Maulana Ishal di Blambanga,

Menurut Martin Van Bruinessen dalam kitab kuning, pesantren tarekat, dan tradisi-tradisi islam di indonesia, namun Jumadil Kubra yang mirip nama arab tergolong aneh karena melanggar tata bahasa Arab. Kata Arab kubra adalah kata sifat dalam bentuk muannats(feminin), bentuk superlatif (isim tafdhil) dari kata kabir yang berarti bear. Bentuk kata mudzakkar(maskulin) yang sesuai adalah akbar. Martin menilai aneh, kata Al-Kubra menjadi bagian nama seorang laki-laki. Karena itu,martin berpendapat nama Jumadil Kubra adalah penyingkatan nama Najumuddin Al-Kubra menjadi Najumadinil Kubra, yang dihilangkan bunyi suku kata pertama menjadi jumadil kubra.

Di dalam Kronik Banten. Syekh Jumadil Kubra digambarkan sebagai seorang nenek moyang Sunan Gunung Jati. Dikisahkan bahwa salah seorang putra syekh jumadil kubra yang bernama Ali Nurul Alam tinggal di Mesir. Ali Nurul Alam berputra Syarif Abdullah. Syarif Abdullah berputra Syarif Hidayatullah, kelak menjadi sunan gunung jati. Sementara itu, menurut Babad Cirebon, tokoh Syekh Jamadil Kubra dianggap sebagai leluhur Sunan Gunung Jati dan wali wali lain seperti Sunan Bonang, Sunan Ampel,dan Sunan Kalijaga. Sedangkan menurut Kronika Gresik, Syekh Jamadil Kurba memiliki hubungan darah dengan Sunan Ampel dan tinggal di Gresik.

INFORMASI SEPUTAR UNISMA DAPAT MENGUNJUNGI www.unisma.ac.id

Putera Syaik Jumadil kubra bernama Maulana Ishaq dikirim ke Balmbagan untuk melakukan islamisasi di sana. Maulana Ishaq adalah ayah dari Sunan Gunung Giri, jadi Syaikh Jumadil Kubra, menurut versi ini, adalah kakek dari sunan Giri.

Sejalan dengan kronik gresik, raffles dalam the history of java yang mencatat kisah kisah legenda gresik menyebutkan bahwa syaikh jumadil kubra bukanlah seorang tokoh nenek moyang melainkan seorang pembimbing wali yang pertama. Dikisahkan, reden rahmat yang kelak menjadi sunan ampel, pertama-tama datang dari champa ke palembang dan kemudian meneruskan seorang ahli ibadah yang tinggal di gunung jali, bernama Syaikh Maulana Jumadil Kubra. Syekh Maulana Jumadil Kubra kemudian menyatakan bahwa kedatangannya telah diramalkan oleh Nabi bahwa keruntuhan agama kafir telah dekat dan raden rahmat dipilih untuk mendakwahkan agama islam di pelabuhan Timur pulau Jawa.

Babad tanah Jawa menuturkan bahwa Syaikh Jumadil Kubra adalah sepupu sunan ampel yang hidup sebagai pertapa di sebuah hutan dekat gresik. Keberadaan Syaikh Jumadil Kubra sebagai seorang pertapa, didapat pula dalam cerita tutur bersifat legendaris yang tersebar di sekitar lereng gunung merapi di utara Yogyakarta. Dalam cerita ini, Syaikh Jumadil Kubra diyakini sebagai wali tertua asal majapahit yang hidup bertapa di hutan lereng merapi. Syaikh

Jumadil Kubra dalam legenda itu, diyakini berusia sangat tua sehingga dipercaya menjadi penasehat ruhani Sultan Agung.

Sementara itu, menurut tradisi para Sayyid Asal Hadramaut yang datang ke Indonesia pada akhir abad ke-18, para wali termasuk Syaikh Jumadil Kubra yang mengislamkan Jawa dan wilayah-wilayah lain di Asia Tenggara adalah keturunan Sayyid. Tokoh yang dianggap sebagai leluhur mereka itu bernama Jamaluddin Husain Al-Akbar.

Manakah kisah yang lebih otentik antara sumber sumber babad lokal dengan cerita tradisi yang disampaikan para Sayyid? Dalam kesimpulannya, Martin Van Bruinessen yang mendasarkan kajian pada dokumentasi yang ada melai versi babad jawa lebih asli daripada Versi Sayyid.bagi marti, cerita tentang Jamaluddin Al-Akbar versi pada Sayyid tampaknya merupakan hasil dari upaya pada abad ke-20 awal untuk’’mengoreksi’’ legenda-legenda jawa. Kata sifat kubra diganti dengan kata arab yang lebih tepat, yaitu Al-Akbar, dan nama aneh Jumadil diganti dengan nama Arab yang paling mirip, yaitu Jamaluddin.

Sesuai dengan kisah keberadaan dan sepak terjangnya yang simpang siur dalam banyak versi, makamnya juga diyakini berada di berbagai tempat. Pernah melakukan tapa di bukit bergota di Semarang, maka pendidik setempat meyakini bahwa sebuah makam tua yang terletak di antara tambak dan daerah terbanyak, adalah makam syaikh jumadil kubra. Kisah Syaik Jumadil Kubra di Gresik dan Mantingan, tidak meninggalkan jejak makanm maupun petilasan dari tokoh tersebut. Di lereng gunung merapi tepatnya di Desa Turgu di kaki Gunung Kawastu, terdapat makam keramat yang diyakini sebagai makam Syaikh Jumadil Kubra. Dab satu- satunya makam yang diyakini sebagai kuburan Syekh Jumadil Kubra adalah yang terletak di kompleks makam tralaya di kabupaten Mojokerto.

INFORMASI SEPUTAR UNISMA DAPAT MENGUNJUNGI www.unisma.ac.id

*) Penulis: Dr. Kukuh Santoso, M.Pd, Dosen Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Islam Malang (UNISMA).

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi timesindonesia.co.id

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.

Advertisement



Editor : Dhina Chahyanti
Publisher : Rochmat Shobirin

TERBARU

Togamas - togamas.com

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES