Kopi TIMES Universitas Islam Malang

Antara Kesalahan, Pembenaran dan Pemakluman

Sabtu, 17 Februari 2024 - 12:56 | 14.42k
Thoriq Al Anshori, Dosen Fakultas Agama Islam (FAI), Sekretaris Pesantren Kampus Ainul Yaqin, Universitas Islam Malang (UNISMA).
Thoriq Al Anshori, Dosen Fakultas Agama Islam (FAI), Sekretaris Pesantren Kampus Ainul Yaqin, Universitas Islam Malang (UNISMA).
FOKUS

Universitas Islam Malang

TIMESINDONESIA, MALANG – Suatu ketika Sahabat besar Nabi SAW Wabishoh Bin Ma'bad radliyallahu anhu mendatangi Rasulullah SAW untuk menanyakan seputar apa yang dimaksud dengan kebaikan yang dilakukan oleh seorang Muslim. Lalu Nabi SAW menjawab:

استفت قلبك، البر ما اطمأنت له النفس واطمأن إليه القلب، الحديث

"Mintalah fatwa pada hatimu, karena kebaikan adalah yang membuat tenang jiwa dan hatimu. Dan dosa adalah yang membuat bimbang hatimu dan goncang dadamu".

Dalam Syarah Al Arbauun An Nawawiyah dijelaskan, meminta fatwa hati hanya dikhususkan orang-orang yang ahli taqwa dan hatinya bersih seperti para sahabat, para wali dan orang-orang sholeh lain, terlebih dalam asbabul wurud adalah sahabat Wabishoh yang termasuk diantara sahabat-sahabat Nabi SAW yang sholeh. Adapun mereka yang hatinya sakit atau sudah terlanjur nafsu syahwat menguasai dirinya maka Hadits Nabawi ini tentu tdk berlaku bagi orang tersebut.

Terkadang seseorang ketika telah berbuat salah dan orang orang sekitar menasehatinya atau bahkan mengintervensinya agar dapat berbenah malah seseorang tersebut merasa tidak nyaman atau bahkan mengembalikan nasehat tersebut dengan pernyataan “urus dirimu sendiri, menurut saya ini baik karena hati kecil saya mengatakan baik!”. Padahal jika ditimbang dengan ukuran Syariah maka jelas-jelas yang dilakukannya salah. Pernyataan orang terkait tidak dapat dibenarkan. Karena hatinya telah sakit sehingga memfatwakan sesuatu yang tidak benar.

INFORMASI SEPUTAR UNISMA DAPAT MENGUNJUNGI www.unisma.ac.id

Seringkali hadits diatas dijadikan pemakluman atau pembenaran atas kesalahan nyata yg sudah, sedang atau akan dilakukan. Syariat memerintahkan kita menyesal, istighfar, taubat dan mengaku salah jika memang nyata nyata salah. Pun juga demikian menerima nasehat kebenaran serta instropeksi diri jika memang nyata nyata khilaf. Bukan malah mencari pembenaran atau pemakluman. Benar apa kata Hujjatul Islam al Ghozali:

النصيحة سهل ، والمشكل قبولها ، لأنها في مذاق متبعي الهوى مر، إذ المناهى محبوبة في قلوبهم

“Memberikan nasehat itu sangatlah mudah, yang sulit itu adalah menerimanya! Karena nasehat bagi ORANG YANG TERLANJUR DIPERBUDAK HAWA NAFSUNYA amatlah pahit, sebab justru perkara yang dilarang itu yang disenangi dalam hatinya".

Oleh karena itu hati yang bersih perlu senantiasa diupayakan oleh setiap orang Islam. Mengingat baiknya hati menjadi tolak ukur seseorang selamat atau celaka kelak di akhirat. Bisa jadi seseorang biasa saja dalam hal ibadah dan perangainya namun dia tidak memiliki kebencian atau kedengkian terhadap saudaranya sendiri, orang yang seperti ini lah yang akan selamat kelak di akhirat. Namun jika amalan atau ibadah seorang hamba menggunung atau bahkan melangit namun hati dikotori dengan benci, iri hasud dan sejenisnya maka tidak akan mungkin dapat selamat kelak di akhirat. Dalam al Quran telah dijelaskan Illa man atallaaha biqolbin saliim (-semua akan binasa- kecuali mereka yang menghadap Allah dengan membawa hati yang bersih).

INFORMASI SEPUTAR UNISMA DAPAT MENGUNJUNGI www.unisma.ac.id

*) Penulis: Thoriq Al Anshori, Dosen Fakultas Agama Islam (FAI), Sekretaris Pesantren Kampus Ainul Yaqin, Universitas Islam Malang (UNISMA).

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi timesindonesia.co.id

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.

Advertisement



Editor : Dhina Chahyanti
Publisher : Rochmat Shobirin

TERBARU

Togamas - togamas.com

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES