Kopi TIMES

Sastra Menyuguhkan Fakta Klinis Gejala Trauma Paska Perang

Senin, 04 Maret 2024 - 19:22 | 39.36k
Putriyana Asmarani, Penulis Esai, Puisi, Resensi dan Cerpen.
Putriyana Asmarani, Penulis Esai, Puisi, Resensi dan Cerpen.

TIMESINDONESIA, MALANG – Melakukan pendekatan menyeluruh untuk riset korban trauma paska perang melalui wawancara, dari yang menderita shell shock, delayed onset PTSD (Post-Traumatic Stress Disorder) hingga klinis dan akut, tentunya sangat menantang. Sejauh ini para peneliti masih mengalami kesulitan untuk mendapatkan hasil investigasi yang menyeluruh tentang skema pola kepribadian, perubahan, dan cara pandang. Sehingga, penanganan untuk pasien hingga saat ini masih terus dalam proses riset (belum menemukan kemujaraban). 

Vredeveldt et al. (2023) mengadakan kajian besar-besaran yang menganalisis lanskap dan metodologi pendekatan korban trauma perang dalam riset mereka “Culture, Trauma, and Memory in Investigative Interviews”. Dalam kajian ini saya menemukan bahwa untuk mencapai hasil yang holistik, seperangkat elemen pendekatan saja tidak akan cukup. Kajian literatur mendalam sangat dibutuhkan, misalnya pewawancara dan korban lebih baik memiliki identitas etnografi yang sama, dari daerah yang sama, dan menerapkan norma dan budaya yang sama. Di tambah, informasi dari saksi (keluarga atau orang terdekat) menjadi sumber informasi yang penting.

Sayangnya, kajian tersebut melewatkan satu hal paling esensial; sastra atau literatur tentang korban paska trauma perang. Selama ini, sastra dikucilkan dari metodologi dan pendekatan ilmiah, fiksi adalah antitesis fakta. Batas ini jelas begitu biner, sehingga menutup horison kajian PTSD yang dalam dan menyeluruh. 

Sastrawan Joseph Conrad menulis The Rover dan menggelontorkan sejumlah temuan kondisi mental korban trauma paska perang, buku ini sendiri merujuk pada putra Joseph Conrad (Borys Conrad) yang menderita shell shock akibat Perang Dunia I. Itu berarti, Joseph Conrad adalah informan dan saksi atas kejadian yang menimpa putranya dan dirinya, tentunya, sastra semestinya bisa menjadi alat ukur atau bagian dari pendekatan ilmiah. 

Tidak hanya Joseph Conrad sebagai saksi atas kondisi putranya, banyak sastrawan lain yang menjadi korban itu sendiri, misalnya Paola Salwan Daher dalam Lupakan Aleppo, Yu Hua dalam To Live dan seluruh novelnya yang bertemakan Revolusi Budaya hingga Reformasi, Ocean Vuong dalam On Earth We’re Briefly Gorgeous dan seluruh puisi-puisinya. Banyak sekali. 

Dalam The Rover, menurut saya, tujuan Joseph Conrad mengarang The Rover satu tahun sebelum ia tewas, bukan untuk menunjukkan pada dunia ritme pemberontakan dan penyerangan jalur bahari semasa Revolusi Prancis, tapi ia ingin membeberkan trauma dua anak manusia yang tragis dan tak tertolong; Arlette dan  Réal. Arlette sebagai manusia sungguhan tapi ia tak lebihnya seperti entitas hantu. Eksistensinya justru ketidakberdayaan itu sendiri. Orang semacam Arlette ternyata banyak, jangankan orang lain, kekasihnya Réal juga begitu. Keduanya adalah dua anak bangsa malang yang melihat dengan mata kepala sendiri darah dan tumpasnya nyawa orang tua mereka saat gonjang-ganjing Revolusi Prancis. 

Kemudian, Lupakan Aleppo karangan Paola Salwan Daher ini tidak membahas volume dan kecepatan bom saat mendarat di atas kepala-kepala telanjang, tapi sebuah kesepakatan bahwa trauma paska perang juga sama nyatanya dengan cedera fisik: Secara psikologis yang hidup juga sama tewasnya dengan yang terbunuh. Novel ini membahas dua perempuan Arab hengkang dari Lebanon menuju Suriah, mereka berjumpa karena balkon rumah mereka saling berhadapan, Shirine dan Noha. Keduanya telah bertubi-tubi menerima serangan dan harus melanjutkan hidup untuk diserang lagi bertubi-tubi. 

Kalau mau agak positif, cantik, dan elegan, Ocean Vuong menjabarkan cedera kesadaran sebagai sebuah keindahan, bukan luka. Tapi ini bukan berarti Perang Vietnam membuat mereka yang selamat terlihat lebih cantik atau malah menyarankan bahwa sebaiknya korban mulai menikmati luka tersebut. Menurut saya, perspektif Ocean Vuong terpusat pada ibu dan neneknya, mereka semua adalah korban yang meskipun tak tewas dalam perang akhirnya berhasil kabur dari Vietnam ke AS lewat jalur udara. Ocean tak mengharapkan para korban melihat diri mereka sebagai anak haram AS, tapi seorang ibu dan seorang nenek. Keduanya, indah.

Setelah tuntas membaca beberapa sastra trauma paska perang, saya mendeteksi ada beberapa kesamaan atau gejala-gejala psikologis yang tipikal dialami oleh para tokoh. Rasanya seperti menerima bergepok-gepok fakta dan hasil penelitian yang keluar dari laboratorium Sigmund Freud dan Cathy Caruth. Khususnya Cathy Caruth dalam bukunya Unclaimed Experience, saya mengangguk-angguk bagai burung pelatuk setelah membaca gejala umum yang dialami korban trauma paska perang dalam karya sastra.

Cathy Caruth bukan pihak oposisi saat Sigmund Freud berkata bahwa trauma dan anxiety adalah dua hal yang bertentangan. Sigmund Freud, dalam karyanya Beyond the Pleasure Principle menyebutkan adanya traumatic neurosis yang mengakar pada faktor ketakutan. Salah satu dari faktor tersebut adalah terulangnya peristiwa nyata traumatis dalam bentuk mimpi-mimpi. Sehingga manifestasinya adalah tertekannya alam bawah sadar yang kemudian memunculkan perasaan horor, ketakutan, dan merasa rendah.

Dari pengalaman saya membaca sastra trauma perang, mimpi buruk selalu ada, kecuali paisanos geng Danny dalam Tortilla Flat karya John Steinbeck. Itu pun bukan berarti Danny dan kawan-kawannya tidak terkena imbas perang. Tipikal mimpi buruk yang dialami korban bukan semacam azab kubur, dikejar Pocong, atau digendong Wewe Gombel. Seperti analisis Sigmund Freud di atas, mimpi buruk ini adalah pengulangan peristiwa traumatis. Bisa dibayangkan mimpi ini akan seperti mimpi nenek Ocean Vuong, Shirine, dan Arlette hampir seperti demensia. Kejadian traumatis yang diusahakan bisa terlupa, malah muncul kembali dalam bentuk mimpi. 

Itu lah mengapa sastra dan kajian Sigmund Freud kemudian membuat saya sadar bahwa mungkin halal menjotos orang-orang yang dengan mudahnya berkata, “Lupakan saja masa lalu, sudah waktunya memulai kembali dengan lebih semangat.” Traumatic Events, demi Allah YME, tanpa kemauan para korban, akan terus terulang dalam bentuk mimpi. Tentunya, melupakan adalah denial yang justru akan memperparah keadaan. 

Saat saya membaca To Live karya Yu Hua, terdapat tokoh utama unik bernama Fugui. Ia ikut perang saat Komunis dan Nasionalis di Tiongkok geger, ia menyaksikan kawan-kawannya yang justru jauh lebih muda darinya mati di medan perang. Memang benar, tidak diceritakan Fugui mimpi buruk. Bukan berarti Fugui secara naluriah digambarkan sebagai pendosa yang woles, nyatanya Fugui juga mengalami gejala psikologis. Laub & Podell dalam buku mereka Art and Trauma sepakat bahwa: Mereka yang selamat dari perang bukan hanya sekadar bertahan hidup untuk menceritakan kisah, tapi mereka perlu menceritakan kisah mereka untuk bertahan hidup. Fugui sambil membajak sawah bercerita untuk bertahan hidup. Mantap sekali, To Live adalah judul ter-bombayah. 

Gejala tipikal lainnya adalah perasaan tak tertolong. Cathy Caruth merangkum kajian masif ini dalam rumpun gejala the unknown. The unknown muncul sebagai pengembangan dari teori Sigmund Freud traumatic neurosis. Ini memang agak rumit, tapi begini intinya: Kalau diumpamakan memory kita adalah sebuah peta, the unknown adalah terra incognita. Terra incognita adalah pulau yang belum masuk dalam peta atau terdokumentasi, biar ini jadi tugas Nami One Piece. Parahnya, terra incognita-nya korban trauma paska perang tidak bisa terdeteksi dan tidak diketahui. Ia bukan semacam pulau terpencil yang suatu saat nanti bisa dijamah dan didokumentasikan. Lebih jelasnya, korban tidak sadar bahwa ia memiliki gejala the unknown.

Kondisi the unknown dalam karya sastra dialami oleh semua karakter yang saya sebutkan di atas, tapi ada satu karakter yang menurut saya paling nyata menggambarkan kondisi ini: Septimus Warren Smith dalam Mrs Dalloway karya Virginia Woolf. Septimus Warren Smith, sama seperti Borys putra kandung Joseph Conrad, menderita trauma shell-shock paska Perang Dunia 1. Mrs Dalloway, tentu saja adalah narasi yang fokus pada Mrs. Dalloway. Kalau saya tidak salah, Septimus kerap ditemukan kesulitan memahami apa yang terjadi dengan dirinya. Secara psikologis ia tampak diteror, tapi tidak tahu teror itu berakar dari mana dan bagaimana menghadapinya. (Spoiler Alert) menurut saya, hal ini lah yang mendasari ia bunuh diri. 

Tentu saja, semua ini tidak terlepas dari penulis novel itu sendiri. Pertanyaan besar dapat muncul dari sini, misalnya: Bagaimana para penulis tersebut di atas menggambarkan trauma dalam novel mereka? Seperti apakah trauma-trauma tersebut dan bagaimanakah para penulis tersebut memproduksi korban trauma paska perang? Rentetan pertanyaan ini bisa terjawab dengan berpijak pada dua tokoh psikoanalisis Cathy Caruth dan Ernst van Alphen. 

Yu Hua, Joseph Conrad, Ocean Vuong, Paola Salwan Daher, Virginia Woolf, dan seabrek penulis lainnya adalah orang-orang yang mengalami sendiri kejadian traumatis sebelum, selama, atau sesudah perang. Penulis-penulis tersebut menggunakan metode indirectness. Menurut Christine Reynier dalam kajian spesifiknya Joseph Conrad’s The Rover (1923) as A Tale of Post-War Reconstruction menyatakan bahwa metode tidak langsung atau indirectness kerap digunakan model kepenulisan untuk tokoh-tokoh yang mengalami trauma paska perang. 

Oh, tentu saja indirectness kurang tepat untuk menguliti keadaan mental para tokoh, tapi ternyata ini ada alasannya. Christine Reynier melihat ini sebagai suatu bentuk kesulitan seorang penulis untuk mendekati dan menuliskan trauma. Ini sangat logis, karena Cathy Caruth dan Ernst van Alphen menyatakan bahwa trauma tidak bisa digambarkan atau direpresentasikan.

Oleh karena itu, indirectness tersebut bermanifestasi pada tulisan mereka. Misalnya, dalam The Rover, Joseph Conrad tidak menjabarkan keadaan mental Arlette tetapi keterlibatannya pada keadaan di Taulon: ini adalah upaya Joseph Conrad untuk menjelaskan ketidakberdayaan Arlette. Sehingga Arlette kemudian merasa kesulitan untuk menangkap peristiwa traumatis, ini digambarkan dalam bagaimana Arlette menghadapi suatu peristiwa berdarah-darah.

Saya rasa penulis-penulis lainnya juga menggunakan metode indirectness. Mungkin, Ocean Vuong bisa sedikit keluar dari indirectness karena melalui karakter Little Dog, trauma dapat terungkap dengan lebih intens, apalagi novel On Earth We’re Briefly Gorgeous menggunakan sudut pandang orang pertama. Namun, indirectness tetap muncul dalam karakter Mama dan Lan. Begitu juga dengan Little Dog, kejadian trauma itu berawal saat mereka naik helikopter, pergi dari tempat yang mereka sebut rumah.

Meskipun terdapat indirectness karena trauma memang tidak bisa digambarkan, apalagi ada keadaan the unknown, sastra-sastra trauma paska perang menyingkap banyak tabir kesadaran. Ini bisa menjadi nilai tambah, bahkan tolok ukur untuk memahami korban-korban trauma paska perang. Dalam buku-buku self-healing, mungkin menggunakan sudut pandang motivator atau para pakar, di sini kita menemukan solusi. Tapi penting, sangat penting untuk mendeteksi permasalahan yang paling mendasar, menurut saya, sastra telah mengisi kekosongan ini.

***

*) Oleh : Putriyana Asmarani, Penulis Esai, Puisi, Resensi dan Cerpen.

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi timesindonesia.co.id


_______
*) Kopi TIMES atau rubrik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

*) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]

*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim apabila tidak sesuai dengan kaidah dan filosofi TIMES Indonesia.

*) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.

Advertisement



Editor : Hainorrahman
Publisher : Sholihin Nur

TERBARU

Togamas - togamas.com

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES