Kopi TIMES

Satu Tahun Kurikulum Merdeka, Beban bagi Guru?

Jumat, 22 Maret 2024 - 12:11 | 18.42k
Fathin Robbani Sukmana, Pemerhati Pendidikan
Fathin Robbani Sukmana, Pemerhati Pendidikan

TIMESINDONESIA, JAKARTA – Merdeka belajar, menurut saya merupakan salah satu kebijakan yang membawa angin segar bagi dunia pendidikan, dengan 26 program yang dibuat untuk keberlanjutan pendidikan di Indonesia, beberapa di antaranya adalah Kampus Merdeka, KIP Kuliah Merdeka, Kurikulum Merdeka dan Guru Penggerak.

Sebagai pemerhati pendidikan, saya tertarik dengan Kurikulum Merdeka, yang sudah dilakukan oleh Kemendikbudristek dan sekolah-sekolah sejak tahun 2022. Menurut saya, Kurikulum Merdeka ini cukup unik karena memiliki tiga karakteristik yaitu Pengembangan soft skill dan karakter, Fokus pada materi esensial, dan pembelajaran yang fleksibel.

Tentu ini menjadi tantangan besar bagi tenaga pendidik dengan kurikulum ini, karena menekankan aspek pembelajaran yang fleksibel, di mana guru tidak lagi dicekoki kebijakan dari atas, namun memiliki keleluasaan untuk melakukan pembelajaran yang sesuai dengan kemampuan peserta didik.

Tahun lalu, saya pernah menulis opini  berjudul Mimpi Kurikulum Merdeka Belajar, Mungkinkah Terwujud?, sebagai analisa saya bahwa Kurikulum Merdeka dapat menyelesaikan beberapa persoalan pendidikan di Indonesia.

Setahun sudah, kurikulum ini berjalan. Saya mencoba mencari cerita inspiratif dari guru-guru yang menjalankan salah satunya adalah Made Pujangga, guru mata pelajaran biologi kelas 10 SMA Negeri 1 Basarang, Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah.

Ia bercerita bahwa selama mengimplementasikan kurikulum merdeka, ada banyak perubahan pembelajaran yang dilakukan, khususnya dalam mengembangkan potensi anak dan memberikan mereka pembelajaran yang relevan.

Made juga bercerita bahwa kurikulum merdeka yang menggunakan capaian pembelajaran yang lebih sederhana dan juga nyaman dibandingkan kurikulum sebelumnya yang menggunakan istilah kompetensi dasar. 

“Dalam kurikulum merdeka, kami dibantu dengan platform merdeka mengajar yang berisi tentang pelatihan mandiri, video inspirasi serta assessment awal pembelajaran,” katanya dengan semangat.

Satu hal terakhir yang Made sukai dari Kurikulum Merdeka adalah ketika ujian sekolah karena soal ujian dibuat oleh MGMP tingkat satuan pendidikan sehingga soal yang dibuat sesuai dengan kondisi anak yang diajar.

Kurikulum Merdeka Beban atau Manfaat untuk Guru?

Melihat dari cerita-cerita Made Pujangga dan beberapa guru penggerak yang saya kenal membuat saya sedikit tersenyum karena kekhawatiran saya mengenai kurikulum merdeka mulai terjawab dengan baik.

Perkembangan kurikulum merdeka dalam satu tahun ke belakang, memiliki kebermanfaatan cukup besar bagi guru yang melaksanakan pembelajaran khususnya bagi mereka yang berada di luar pulau Jawa.

Seperti yang disebutkan oleh Made Pujangga, Kurikulum Merdeka memiliki Fleksibilitas Pembelajaran sehingga guru dapat memilih materi sesuai esensi dan konteks, sehingga kebutuhan dan minat belajar peserta didik di daerah.

Contohnya adalah fokus materi yang bisa diambil di daerah dapat menyesuaikan dengan kehidupan sehari-hari di masyarakat setempat seperti bertani maupun beternak.

Lalu manfaat lainnya adalah mengembangkan profesi duru secara berkelanjutan dengan hadirnya Platform Merdeka Mengajar yang dapat meningkatkan keahlian melalui video pelatihan mandiri yang dapat diakses kapan saja oleh guru secara gratis.

Dampaknya, guru dapat melakukan inovasi dalam pembelajaran sehingga proses belajar mengajar yang lebih menarik dan sesuai dengan minat, bakat dan kebutuhan peserta didik. Akhirnya siswa menjadi sangat betah untuk belajar.

Terakhir, guru dapat berkolaborasi dengan guru lainnya di berbagai daerah untuk merancang pembelajaran yang seru melalui kurikulum merdeka dengan berdiskusi dan berbagi melalui Platform merdeka belajar.

Hingga saat ini sudah ada 2,7 juta guru yang mengikuti pelatihan mandir, 422.679 guru sudah mengikuti pendidikan profesi guru dan 74.999 guru honorer lulus seleksi guru ASN PPPK sejak 2021 hingga 2023.

Untuk jumlah sekolah yang mengimplementasikan Kurikulum Merdeka sudah mencapai 309.149 sekolah yang terdaftar hingga tahun 2023 dan 6.200 sekolah di antaranya berada di daerah tertinggal yang ada di Indonesia.

Dasar Sosiologi Kurikulum Merdeka dan Kontribusi Pembangunan Bangsa

Melihat kurikulum merdeka yang melakukan pendekatan pembelajaran untuk memenuhi kebutuhan individu setiap siswa di kelas, mengingatkan saya pada pembelajaran berdiferensiasi yang digagas oleh Ki Hajar Dewantara.

Dalam bukunya Pusara (1940), Ki Hajar Dewantara menyatakan bahwa menyeragamkan hal-hal tidak perlu merupakan tidak baik atau tidak bisa menyeragamkan fasilitas dengan bijak. Namun referensi Ki Hajar Dewantara mengenai pembelajaran ini masih terbatas.

Lalu Amir (2009) dalam bukunya Inovasi Pendidikan melalui Problem Based Learning mengungkapkan bahwa guru dalam pembelajaran hendaknya melakukan modifikasi terhadap lima unsur kegiatan belajar yaitu materi pelajaran, proses, produk, lingkungan dan evaluasi.

Sehingga kreativitas guru sangat diperlukan untuk memberikan pembelajaran yang bermakna bagi setiap peserta didik yang ingin disasar. (Iqbal Hafid, 2003).

Sedangkan landasan sosiologis Kurikulum Merdeka sangat sesuai dengan apa yang disampaikan Paulo Freire yang menekankan pentingnya Pedagogik Kritis dalam pendidikan. Menurutnya pendidikan harus membebaskan peserta didik dari penindasan.

Ada juga tokoh sosiologis John Dewey yang menyebutkan pentingnya pengalaman belajar dan demokrasi dalam pendidikan, sehingga pendidikan harus berpusat pada peserta didik dan membantu mereka untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan juga menyelesaikan masalah.

Tentu harapannya dengan implementasi kurikulum merdeka ini, guru dapat meningkatkan kemampuan profesinya serta memiliki mainset untuk mengembangkan kemampuan peserta didik, sehingga dapat membentuk generasi muda yang memiliki karakter, keterampilan yang mumpuni dan dapat berkontribusi dalam pembangunan bangsa. (*)

***

*) Oleh : Fathin Robbani Sukmana, Pemerhati Pendidikan 

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi timesindonesia.co.id

*) Kopi TIMES atau rubrik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

*) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]

*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim apabila tidak sesuai dengan kaidah dan filosofi TIMES Indonesia.

*) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.

Advertisement



Editor : Hainorrahman
Publisher : Sofyan Saqi Futaki

TERBARU

Togamas - togamas.com

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES