Kopi TIMES

Demi Idul Fitri

Selasa, 09 April 2024 - 20:36 | 33.73k
Mohamad Sinal, Dosen Polinema, VP Akademik IMA Chapter Malang, dan anggota Dewan Pengurus “Malang Tahes Club” (MTC).
Mohamad Sinal, Dosen Polinema, VP Akademik IMA Chapter Malang, dan anggota Dewan Pengurus “Malang Tahes Club” (MTC).

TIMESINDONESIA, MALANG – Demi Idul Fitri marilah kita merenung sejenak. Sehingga saling berkata tidak, untuk memelihara perasaan congkak. Tidak saling memalingkan diri, namun bersikap rendah hati. Tidak saling memuji diri sendiri, namun saling menghargai. Saling meminta dan memberi maaf, atas segala kesalahan yang telah terjadi.

Tiada lagi ucapan dan tindakan menghina, serta merendahkan terhadap sesama. Sebaliknya, merasa hina dan rendah akibat dosa dan kesalahan yang telah dilakukannya. Kemudian menyadari serta berusaha memperbaikinya. Menciptakan kerukunan di tengah-tengah godaan aneka ragam perpecahan.

Perasaan sinis dan egois harus dikikis habis. Indah dan menyenangkan dalam ucapan maupun tindakan. Yang terucap hanyalah kata-kata maaf. Yang terlihat uluran tangan ketika berjabat. Sehingga tidak ada pilihan lain kecuali selalu yakin bahwa dendam dan amarah hanya membuat kita kalah.

Rongga dada yang ada hanya terbuka untuk berbaik sangka kepada sesama. Ucapan dan tindakan dipenuhi oleh kebaikan serta kebenaran yang selalu menjadi pilihan. Tidak ada lagi musuh yang harus terjatuh. Yang ada hanyalah kawan, untuk bersama-sama menggapai rido Tuhan.

Demi idul fitri, pikiran dan hati hendaknya tergerak. Untuk tidak memberhalakan adanya perpecahan dan permusuhan.  Dalam komando takbir yang bertalu-talu, yang ada hanyalah  keinginan untuk bersatu. Dengan lantuan tahmid dan tasbih yang terus mengalir, yang ada hanya kejernihan pikir.

Maka beruntunglah, sebagaimana Tuhan telah berfirman. Yakni orang-orang yang beriman dan mereka yang beramal saleh. Orang-orang yang saling mengingatkan dengan kebenaran dan kesabaran. Kemudian mencontohkan akan pentingnya keduanya dalam pergaulan hidup sesama.

Sehubungan dengan hal tersebut, Ibnul Qoyyim berkata, dalam kitab “Miftahu Daris Sa’adah”, tentang keempat martabat yang harus dicapai oleh manusia. “Kalau keempat martabat telah tercapai oleh manusia, maka dapat dicapai tujuan kesempurnaan hidup di dunia” Tidak akan merugi selama hidup di dunia ini.

Pertama, mengetahui tentang kebenaran. Kedua, mengamalkan kebenaran. Ketiga, mengajarkannya kepada orang lain yang belum bisa melakukannya. Keempat, sabar dalam menyesuaikan diri dengan kebenaran , mengamalkan, dan mengajarkannya.

Dalam pandangan Buya Hamka, tercapainya sebuah kesempurnaan tersebut dapat dilakukan dengan menyempurnakan diri terlebih dahulu dan berbagi kesempurnaan itu buat orang lain. Juga dikatakan, bahwa kesempurnaan itu dapat dicapai oleh kekuatan ilmu dan amal. Adapun landasan utamanya adalah iman. Mengajak dan mengajarkan untuk tetap dalam kesabaran.

Melalui Idul Fitri banyak pelajaran baik yang dapat dipetik. Terdapat segudang intisari pada momentum idul fitri. Di antaranya adalah bagaimana kita memperlakukan orang lain, maka seperti itulah kita akan diperlakukan oleh orang lain. Senyum dibalas senyum; kerendahatian dibalas dengan kerendahatian.

Ibnu Katsir berdasarkan hadist yang diriwayatkan oleh ath-Tabrani, dalam tafsirnya menceritakan “Kalau dua orang sahabat Rasulullah SAW. bertemu, belumlah mereka berpisah kecuali salah seorang di antara keduanya membaca surat “al Ashr” terlebih dahulu. Setelah itu, keduanya baru mengucapkan salam  tanda perpisahan.

Menurut Syeh Muhammad Abduh, maksud membaca surat tersebut adalah keduanya saling memperingatkan akan isi ayat-ayat tersebut, khususnya yang berkaitan dengan kebenaran dan kesabaran. Sedangkan menurut Imam Syafii; “Kalau manusia seantero dunia sudi merenungkan surat tersebut (al Ashr), sudah cukup itu baginya.

Dalam pandangan Yudi Latif, inilah saatnya, kebaikan pribadi harus menjadi komitmen untuk memperkuat etika sosial. Idul Fitri bukan hanya mengajak manusia kembali ke asal fitrah, tetapi pada kemurnian manusia sebagai makhluk pencari makna hidup di dunia. Dengan hati suci, setelah melakukan pertobatan kolektif sebulan penuh lamanya, kita hadapi krisis persaudaraan dengan kembali ke fitrah serta etika sosial dan nilai-nilai agama yang ada.

Jangan seperti bening embun yang terperangkap di daun lusuh, seperti Yudi Latif katakan. Momentum dan kehadiran Idul Fitri jangan hanya melahirkan situasi 'kesucian' yang semu. Namun, setelah Idul Fitri berlalu, ucapan dan tindakan hendaknya seperti lirik sebuah lagu yang berjudul “Tak Ingin Sendiri”, yang pernah dinyanyikan oleh Dian Piesesha:

Aku masih seperti yang dulu

Menunggumu sampai akhir hidupku

Kesetiaanku tak luntur hati pun rela berkorban

Demi keutuhan kau dan aku”

Oleh sebab itu, momentum Idul Fitri sejatinya dijadikan momentum untuk kembali kepada fitrah manusia yang sesungguhnya. Fitrah manusia yang mencintai kebenaran, kebaikan, keindahan, dan kedamaian. Momentum yang menjadi sarana untuk silaturahmi. Menjadi hari untuk kembali kepada kesucian dan kebersihan dari berbagai kesalahan dan dosa.

 

*) oleh: Mohamad Sinal, Dosen Polinema, VP Akademik IMA Chapter Malang, dan anggota Dewan Pengurus “Malang Tahes Club” (MTC).

*)Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

 

____________
**) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]

**) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.

Advertisement



Editor : Wahyu Nurdiyanto
Publisher : Sholihin Nur

TERBARU

Togamas - togamas.com

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES