Kopi TIMES

Berharap Perang Berakhir

Minggu, 21 April 2024 - 13:32 | 21.34k
Yanuardi Syukur, Penulis dan Akademisi
Yanuardi Syukur, Penulis dan Akademisi

TIMESINDONESIA, JAKARTA – Kita hidup dalam sebuah planet yang tidak pernah berhenti penghuninya berperang. Satu tempat berakhir, tempat lain memulai. Satu komunitas berdamai, komunitas lainnya sementara bersiap untuk berperang. Saat cerita perdamaian dimulai, di saat yang sama cerita peperangan pun dimulai di tempat yang berbeda.

Saat kecil, ayahku suka cerita perang dunia kedua, sebab jejak-jejak pertempurannya berada di kampung kami. Bahkan, manuver untuk merontokkan kekuasaan lawan juga menjadikan kampung kami sebagai pijakan untuk itu. Maka, cerita perang telah jadi cerita masa kecil, sekadar untuk mengenal bagian bumi dimana kita hidup. 

Ketika remaja muda, perang meletus di bumi yang jauh. Kami mengetahuinya dari koran yang dipajang di balik kaca. Sepulang jama'ah di masjid, kami baca-baca sambil berdiri, dan jadi tahu bahwa ada perang di tempat lain. Jurnalis yang meliput perang itu pun mampir ke sekolah kami, bercerita tentang apa yang terjadi di sana. Doa kami; semoga perang tidak melanda negeri kami. 

Beranjak jadi dewasa muda, huru-hara terjadi di ibukota. Bukan 'revolusi yang telah hamil tua', tapi 'reformasi yang harus tiba' sebagai dampak butterfly effect peristiwa regional dan nasional. Efeknya rupanya jadi liar; kawasan tak berdosa jadi sasaran intensional atau unintensional, ada aktor atau tidak ada aktor, kerentanan itu melahirkan gejolak, pembelahan, dan 'perang terbatas' yang berevolusi menjadi perang kawasan, regional dan internasional pada batas-batas tertentu. 

Damai tercipta pada akhirnya. Satu yang orang tidak tahu, untuk apa mereka berperang. Apa makna perang bagi mereka yang tiada, dan bagi mereka yang baru terlahir atau kelak akan lahir ke dunia. Panglima perang dapat posisi bagus, tapi adagium Lord Acton soal 'power tends to corrupt' belum usang, dan akan abadi sepanjang tabiat natural manusia yang egois dan serakah tidak berubah sepanjang zaman. 

Saat dunia aman-amannya, tiba-tiba 'perang jauh' terjadi, dan itu mengubah tatanan. Dari gunung-gunung di sebuah negeri jauh, perang itu meletus dengan efek paling merugikan dan menguras pikiran sepanjang dua dekade at least. Tapi, di tengah kekalutan ada kecemerlangan. Kebijakan tidak adil selalu di-challenge dengan gagasan keadilan. Maka, shifting kebijakan tak terelakkan seiring dengan munculnya fakta atau kesadaran baru bahwa keadilan harus diperjuangkan, bahkan dalam situasi sulit sekalipun. 

Semua orang merindukan co-eksistensi, hidup damai sebagai sesama manusia. Saya merekam kesadaran itu dalam benak saat bertemu orang-orang yang berbeda negara, agama, afiliasi, kultur. Semua ingin damai, dan hidup dalam keadilan dimana semua manusia diperlakukan sebagai manusia yang eksistensinya dihargai sebagai satu keturunan umat manusia. 

Saat menginjakkan kaki di negeri yang tengah perang, saya lihat, dengar, bercakap, dan menyelami 'makna kebatinan' dari berbagai orang yang bercerita tentang pentingnya menegakkan martabat saat negerinya diperangi. Selalu ada kompleksitas dalam perang, bahkan ada banyak hal yang tidak diketahui, tidak terucap, ketimbang yang kita ketahui dan terucap. Sejak awal, kultur manusia kerap lebih banyak menyembunyikan pengetahuan ketimbang menyampaikannya. Apa yang disembunyikan lebih banyak ketimbang yang diutarakan. 

Saat bertemu korban perang lainnya, mereka bercerita tentang kemuliaan memperjuangkan keyakinan religius. Serangan destruktif 'bangsa sebelah' yang menginvasi tanah-tanah mereka puluhan tahun menghancurkan rumah ibadah, sekolah, rumah sakit dan puluhan ribu nyawa, tapi keyakinan dan resistensi mereka tidak hancur. Pada sebuah awal malam, seseorang berkata, kehancuran mereka sebentar lagi, sebab takdir bangsa tersebut telah tercatat dalam kitab suci. 

Pada tahun yang lebih lampau, seorang lainnya berkata bahwa mereka juga ingin hidup damai setelah sekian lama tak mendapatkan kedamaian di berbagai negeri. Maka, untuk 'kedamaian semua', perlu ada solusi yang win-win, damai untuk semua. Resolusi konflik mengajarkan bahwa perdamaian hanya mungkin jika ada intensi dan bekerjanya kesadaran untuk damai dari internal dan eksternal. Tanpa itu, damai sejati sulit terwujud.

Kesadaran untuk damai, sesulit apapun harus terus disuarakan. Sebab tugas terpenting manusia adalah menjadi kontributor perdamaian, sekecil apapun kontribusi itu. Terkadang ada kabut yang menyelimuti perdamaian, tapi sebagaimana perang di masa lalu, selalu akan ada batas dimana perang itu akan berakhir cepat atau lambat. 

***

*) Oleh : Yanuardi Syukur, Penulis dan Akademisi

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi timesindonesia.co.id

*) Kopi TIMES atau rubrik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

*) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]

*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim apabila tidak sesuai dengan kaidah dan filosofi TIMES Indonesia.

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.

Advertisement



Editor : Hainorrahman
Publisher : Sholihin Nur

TERBARU

Togamas - togamas.com

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES