Kopi TIMES

Menjadi Manusia Pembelajar

Rabu, 24 April 2024 - 11:33 | 17.68k
Abdullah Fakih Hilmi AH, S.AP., Akademisi dan Wirausahawan
Abdullah Fakih Hilmi AH, S.AP., Akademisi dan Wirausahawan

TIMESINDONESIA, JAKARTA – Kehidupan adalah sebuah perjalanan tanpa akhir. Dalam perjalanan itu, menjadi manusia pembelajar adalah kunci untuk terus berkembang dan menghasilkan dampak positif dalam kehidupan kita dan orang lain.

Seiring berjalannya waktu, banyak dari kita terperangkap dalam rutinitas dan kebiasaan yang membuat kita melupakan pentingnya menjadi pembelajar sepanjang hayat. Namun, menjadi pembelajar bukanlah sekadar tentang menuntut ilmu di dalam kelas atau dari buku-buku tebal. Lebih dari itu, menjadi manusia pembelajar adalah tentang sikap terbuka terhadap pengetahuan baru, pengalaman baru, dan pandangan baru.

Menjadi manusia pembelajar berarti memiliki rasa ingin tahu yang besar. Ketika kita memiliki rasa ingin tahu yang kuat, kita akan selalu mencari tahu hal-hal baru, mendalami topik yang menarik perhatian kita, dan terbuka terhadap ide-ide yang berbeda. Rasa ingin tahu adalah bahan bakar yang mendorong kita untuk terus belajar dan berkembang.

Selanjutnya, menjadi manusia pembelajar berarti mengakui bahwa kesalahan adalah bagian dari proses belajar. Terkadang, kita takut untuk mencoba hal-hal baru karena takut gagal. Namun, jika kita melihat kesalahan sebagai kesempatan untuk belajar dan tumbuh, maka kita akan lebih berani mengambil risiko dan mencapai potensi kita yang sebenarnya.

Selain itu, menjadi manusia pembelajar membutuhkan kemampuan untuk meresapi dan merenung. Belajar bukan hanya tentang menyerap informasi secara pasif, tetapi juga tentang memahami, mengkritisi, dan merenungkan apa yang telah kita pelajari. Dengan merenung, kita dapat mengaitkan pelajaran yang kita peroleh dengan pengalaman hidup kita sendiri, sehingga membuat pembelajaran menjadi lebih bermakna.

Selanjutnya, menjadi manusia pembelajar adalah tentang berbagi pengetahuan dan pengalaman dengan orang lain. Ketika kita berbagi, kita tidak hanya memperkaya orang lain, tetapi juga memperdalam pemahaman kita sendiri. Kolaborasi dengan orang-orang yang memiliki latar belakang dan pandangan yang berbeda dapat membuka pikiran kita dan memperluas wawasan kita.

Terakhir, menjadi manusia pembelajar adalah tentang konsistensi dan ketekunan. Pembelajaran bukanlah sesuatu yang bisa kita capai dalam semalam, tetapi merupakan proses yang berkelanjutan sepanjang hidup. Dengan konsistensi dan ketekunan, kita akan terus maju meskipun menghadapi rintangan dan tantangan di sepanjang jalan.

Dengan demikian, menjadi manusia pembelajar adalah tentang mengadopsi sikap terbuka, rasa ingin tahu yang besar, keberanian untuk belajar dari kesalahan, kemampuan untuk merenung, kolaborasi dengan orang lain, dan konsistensi dalam pembelajaran. Ketika kita menghidupi nilai-nilai ini dalam kehidupan sehari-hari, kita tidak hanya menjadi lebih baik sebagai individu, tetapi juga memberikan kontribusi yang berarti bagi masyarakat dan dunia di sekitar kita.

***

*) Oleh : Abdullah Fakih Hilmi AH, S.AP., Akademisi dan Wirausahawan.

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi timesindonesia.co.id

*) Kopi TIMES atau rubrik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

*) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]

*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim apabila tidak sesuai dengan kaidah dan filosofi TIMES Indonesia.

*) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.

Advertisement



Editor : Hainorrahman
Publisher : Sofyan Saqi Futaki

TERBARU

Togamas - togamas.com

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES