Kopi TIMES

Dinamika Seragam Guru: Antara Kesetaraan dan Identitas Profesional

Rabu, 24 April 2024 - 15:35 | 76.07k
Beni Nur Cahyadi, S.Pd.I., M.Pd., M.H., G.r., Dosen STAIMAS dan Wakil Ketua Asosiasi Guru PAI Indonesia Wonogiri.
Beni Nur Cahyadi, S.Pd.I., M.Pd., M.H., G.r., Dosen STAIMAS dan Wakil Ketua Asosiasi Guru PAI Indonesia Wonogiri.

TIMESINDONESIA, WONOGIRI – Dalam setiap profesi, seragam sering kali menjadi simbol identitas dan status. Tidak terkecuali di dunia pendidikan, di mana seragam guru menjadi bagian penting dari kesan profesionalisme dan keterkaitan dengan institusi tempat mereka mengajar. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, kita telah menyaksikan munculnya tren yang menarik dalam seragam guru yang mencerminkan dinamika kompleks dalam profesi pendidikan.

Salah satu tren yang menonjol adalah keberagaman seragam guru, terutama dengan munculnya seragam khusus untuk guru penggerak. Sebagian melihat tren ini sebagai langkah positif dalam meningkatkan identitas profesional dan memotivasi guru untuk berprestasi lebih tinggi. Namun, di balik kilauan positifnya, ada dinamika yang lebih kompleks yang perlu dipertimbangkan.

Pertama-tama, munculnya seragam guru penggerak dapat menciptakan jurang pemisah di antara para pendidik. Meskipun tujuan utamanya adalah menginspirasi dan memberikan penghargaan kepada guru yang berprestasi, namun bisa jadi tren ini secara tidak langsung membuat perpecahan di antara rekan-rekan guru. Hal ini dapat memengaruhi kerjasama dan kolaborasi antar guru di sekolah.

Kemudian, ada pertanyaan tentang kesetaraan dalam pendidikan. Apakah penghargaan dalam bentuk seragam khusus bagi guru penggerak hanya menambah kesenjangan antara guru-guru yang dianggap "istimewa" dan mereka yang tidak? Bagaimana dengan pengakuan terhadap guru-guru yang mungkin tidak menerima seragam khusus tetapi memiliki dampak positif yang sama dalam kehidupan siswa?

Selain itu, ada potensi bahwa tren ini dapat menciptakan tekanan tambahan bagi guru. Mungkin ada rasa ingin memiliki seragam khusus sebagai simbol pencapaian profesional, tetapi tidak semua guru memiliki kesempatan atau dukungan yang sama untuk mencapainya. Hal ini dapat meningkatkan tingkat stres dan ketidakpuasan di antara guru-guru yang merasa tertinggal.

Bagaimanapun juga, penting untuk mengelola tren ini dengan bijaksana. Pemerintah dan institusi pendidikan perlu memastikan bahwa pemberian seragam khusus tidak hanya berdasarkan pada pencapaian akademis atau penghargaan formal, tetapi juga memperhatikan kontribusi nyata dalam meningkatkan mutu pendidikan. Selain itu, perlu ada upaya untuk memperkuat solidaritas dan kerjasama di antara semua guru, tanpa memandang apakah mereka memiliki seragam khusus atau tidak.

Dengan demikian, sementara tren seragam guru penggerak dapat menjadi langkah positif dalam memotivasi dan menginspirasi para pendidik, penting untuk memahami dan mengelola dinamika kompleks yang terkait dengannya. Hanya dengan pendekatan yang inklusif dan berpihak pada kesetaraan, kita dapat memastikan bahwa tren ini tidak hanya berdampak positif bagi individu tertentu, tetapi juga bagi keseluruhan sistem pendidikan.

***

*) Oleh : Beni Nur Cahyadi, S.Pd.I., M.Pd., M.H., G.r., Dosen STAIMAS dan Wakil Ketua Asosiasi Guru PAI Indonesia Wonogiri

*)Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

 

____________
**) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]

**) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.

Advertisement



Editor : Hainorrahman
Publisher : Lucky Setyo Hendrawan

TERBARU

Togamas - togamas.com

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES