Kopi TIMES

Kelemahan Manusia

Kamis, 02 Mei 2024 - 19:56 | 15.05k
Oleh: Thoriq Al Anshori, Dosen Fakultas Agama Islam, Sekretaris Pesantren Kampus Ainul Yaqin, Universitas Islam Malang (UNISMA).
Oleh: Thoriq Al Anshori, Dosen Fakultas Agama Islam, Sekretaris Pesantren Kampus Ainul Yaqin, Universitas Islam Malang (UNISMA).

TIMESINDONESIA, MALANG – Yang dapat merusak serta mencederai kebahagiaan umumnya manusia dalam kehidupan yang fana’ ini adalah kelemahan yang ada dalam dirinya sendiri dan terus berlarut-larut dengan kelemahan tersebut tanpa ada aksi nyata yang dilakukan.

Kelemahan tersebut diantaranya; mudah bersedih hanya karena urusan yang sepele, mudah terpengaruh oleh cibiran atau omongan atau komentar netizen yang tidak bertanggung jawab, terlalu bergantung pada orang lain, berlebihan atau terlalu mendramatisir dalam menyikapi suatu masalah, menyebar info tanpa validasi terlebih dahulu serta banyak meratap dan mengeluh.

Kita mungkin tidak akan bisa mengendalikan atau mengontrol komentar orang lain, yang hanya bis akita lakukan adalah mengendalikan atau mengontrol pikiran sendiri dengan tidak terlalu menganggap penting cibiran orang yang sama sekali tidak membangun atau memberikan manfaat bagi diri.

Cukup Allah SWT saja yang mengetahui bahwasannya diri ini sama sekali tak seperti yang mereka cibirkan. Ketika merasa tersakiti atau terdzolimi oleh perangai manusia lantaran tak dihargai atau diperlakukan dengan tidak menyenangkan maka seyogyanya segala hal dikembalikan kepada Allah SWT tentang diri ini.

Jika pengetahuanNYA atas diri ini tidak juga dapat membuat puas dan rela maka ini tentu merupakan musibah besar lantaran tidak puas dengan pengakuan atau pengetahuan Nya. Tentu itu musibah jauh lebih besar daripada musibah lantaran disakiti oleh manusia.

INFORMASI SEPUTAR UNISMA DAPAT MENGUNJUNGIwww.unisma.ac.id

Seringkali orang merasa lemah atau galau saat keinginan tak tercapai, jika memang ada keinginan yang tidak berhasil dicapai maka perlu benar-benar disadari bahwa Allah mengetahui bahwa hal itu tidak baik untuk kelangsungan hidupmu.

Bisa saja lantaran Allah mengetahui diri kit aini tidak siap untuk menerimanya atau belum pantas. Atau mungkin karena diri tidak mampu menerimanya untuk saat-saat ini. Atau karena ada hal yang jauh lebih menarik yang sedang menanti, maka sepatutnya kita ridla atas segala ketetapanNYA. Misalnya orang yang bekerja dengan gaji UMR, lalu dia memohon kepada Allah agar diberikan mobil mewah yang harganya milliaran tentu saja Allah tidak akan memberikan kepadanya karena nantinya pasti dia akan kesulitan dalam urusan bayar pajak tahunan dan perawatan mobil tersebut lantaran gaji yang sangat pas pasan untuk memenuhi kehidupan primernya.

Lalu mengeluh atau mengadukan kelemahan apakah pasti tidak baik?. Tidak juga, dalam Sirah Nabawiyah direkam terdapat satu pengaduan yang sangat menyayat hati setiap yang mendengarnya. Namun penuh dengan rasa penghambaan kepada Allah SWT. Nabi Bermunajat pasca dinistakan oleh penduduk Thaif dengan disiksa dan dilempari baru saat akan memasuki kota tersebut;

اللّهُمّ إلَيْك أَشْكُو ضَعْفَ قُوّتِي ، وَقِلّةَ حِيلَتِي ، وَهَوَانِي عَلَى النّاسِ، يَا أَرْحَمَ الرّاحِمِينَ ! أَنْتَ رَبّ الْمُسْتَضْعَفِينَ وَأَنْتَ رَبّي ، إلَى مَنْ تَكِلُنِي ؟ إلَى بَعِيدٍ يَتَجَهّمُنِي ؟ أَمْ إلَى عَدُوّ مَلّكْتَهُ أَمْرِي ؟ إنْ لَمْ يَكُنْ بِك عَلَيّ غَضَبٌ فَلَا أُبَالِي ، وَلَكِنّ عَافِيَتَك هِيَ أَوْسَعُ لِي ، أَعُوذُ بِنُورِ وَجْهِك الّذِي أَشْرَقَتْ لَهُ الظّلُمَاتُ وَصَلُحَ عَلَيْهِ أَمْرُ الدّنْيَا وَالْآخِرَةِ مِنْ أَنْ تُنْزِلَ بِي غَضَبَك  أَوْ يَحِلّ عَلَيّ سُخْطُكَ، لَك الْعُتْبَى حَتّى تَرْضَى وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوّةَ إلّا بِك

"Allahuma Ya Allah, kepada-Mu aku mengadukan kelemahanku, kekurangan daya upayaku di hadapan manusia. Wahai Tuhan Yang Maharahim, Engkaulah Tuhan orang-orang yang lemah dan Tuhan pelindungku. Kepada siapa hendak Engkau serahkan nasibku? Kepada orang jauhkah yang berwajah muram kepadaku atau kepada musuh yang akan menguasai diriku? Asalkan Engkau tidak murka kepadaku, aku tidak peduli sebab sungguh luas kenikmatan yang Engkau limpahkan kepadaku. Aku berlindung kepada nur wajah-Mu yang menyinari kegelapan dan karena itu yang membawa kebaikan di dunia dan akhirat dari kemurkaan-Mu dan yang akan Engkau timpakan kepadaku. Kepada Engkaulah aku adukan halku sehingga Engkau ridha kepadaku. Dan, tiada daya upaya melainkan dengan kehendak-Mu.”

"Wahai Muhammad! Sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan kaummu terhadapmu. Aku adalah malaikat penjaga gunung dan Rabb-mu telah mengutusku kepadamu untuk engkau perintahkan sesukamu, jika engkau suka, aku bisa membalikkan Gunung Akhsyabin ini ke atas mereka," kata para malaikat penjaga gunung.

"Walaupun mereka menolak ajaran Islam, aku berharap dengan kehendak Allah, keturunan mereka pada suatu saat akan menyembah Allah dan beribadah kepada-Nya," kata Nabi dengan lembut kepada Jibril dan malaikat penjaga gunung. Nabi bahkan meminta, "Ya Allah, berikanlah petunjuk kepada kaumku, sesungguhnya mereka tidak mengetahui," dalam doa. Begitulah kebaikan dan ketulusan Nabi SAW sehingga meski dalam keadaan lemah pun menggantungkannya kepada Allah swt. Sehingga Allah memberikan anugrah setelahnya berupa Isra’ dan Mi’raj.

INFORMASI SEPUTAR UNISMA DAPAT MENGUNJUNGI www.unisma.ac.id

*) Penulis: Thoriq Al Anshori, Dosen Fakultas Agama Islam, Sekretaris Pesantren Kampus Ainul Yaqin, Universitas Islam Malang (UNISMA).

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi timesindonesia.co.id

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.

Advertisement



Editor : Dhina Chahyanti
Publisher : Rochmat Shobirin

TERBARU

Togamas - togamas.com

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES