Kopi TIMES

Demokrasi di Indonesia: Apakah Sudah Mati?

Kamis, 09 Mei 2024 - 20:44 | 22.06k
Kukuh Bayu Firmansyah S.IP, Magister ilmu Sosial Universitas Brawijaya Malang
Kukuh Bayu Firmansyah S.IP, Magister ilmu Sosial Universitas Brawijaya Malang

TIMESINDONESIA, MALANG – Pertanyaan tentang apakah demokrasi di Indonesia sudah mati adalah pertanyaan yang menarik dan kompleks. Sejak lahirnya sebagai sebuah bangsa yang merdeka, Indonesia telah mengalami berbagai tantangan dalam membangun sistem demokrasi yang inklusif dan berkelanjutan. 

Namun, apakah demokrasi di Indonesia benar-benar mati? Salah satu hal yang perlu diperhatikan adalah bahwa demokrasi adalah proses yang dinamis dan selalu berada dalam evolusi. Artinya, tidak ada sistem demokrasi yang sempurna dan tidak rentan terhadap tantangan dan perubahan. 
    
Oleh karena itu, sulit untuk mengukur "kematian" demokrasi secara mutlak. Sebaliknya, penting untuk melihat demokrasi sebagai sebuah spektrum, dimana negara-negara mungkin berada pada tingkat yang berbeda dalam skala tersebut. Penting juga untuk mempertimbangkan konteks worldwide saat mengevaluasi kesehatan demokrasi di Indonesia. 

Di banyak bagian dunia, termasuk di negara-negara demokratis yang mapan, kita juga melihat tantangan serius terhadap prinsip-prinsip demokrasi. Termasuk peningkatan otoritarianisme, penindasan terhadap kebebasan sipil, dan pembatasan terhadap media independen. Perbandingan relatif dengan negara-negara lain mungkin diperlukan untuk mendapatkan pemahaman yang lebih holistik tentang kondisi demokrasi di Indonesia.

Perlu di garis bawahi bahwa demokrasi tidak semerta merta lahir dan langsung sempurna tentu membutuhkan waktu dan kesabaran untuk berkembang. Reformasi demokrasi tidak selalu terjadi secara instan atau linier. Sebaliknya, mereka sering kali melibatkan perjuangan jangka panjang untuk memperbaiki sistem yang ada dan mengatasi berbagai rintangan politik, sosial, dan budaya.

Di sisi lain, ada argumen bahwa demokrasi di Indonesia belum mencapai kedewasaan sepenuhnya. Masih ada kekurangan dalam hal perlindungan terhadap minoritas, pemberantasan korupsi, dan partisipasi politik yang inklusif dari berbagai lapisan masyarakat. Oleh karena itu, meskipun demokrasi Indonesia tidak dapat dikatakan "mati", masih ada banyak pekerjaan yang harus dilakukan untuk memperbaiki dan memperkuat sistem demokratisnya.

Penting untuk diakui bahwa Indonesia telah mencapai banyak pencapaian dalam pembangunan demokrasi sejak Reformasi pada tahun 1998. Terobosan tersebut membuka jalan bagi pelaksanaan pemilihan umum yang bebas dan adil, pertumbuhan kebebasan pers, dan peningkatan partisipasi masyarakat dalam proses politik.

Dalam beberapa tahun terakhir, ada kekhawatiran bahwa demokrasi di Indonesia mengalami kemunduran. Salah satu isu yang sering disorot adalah meningkatnya intoleransi dan pembatasan terhadap kebebasan sipil. Kasus-kasus penyerangan terhadap minoritas agama, pembatasan kebebasan beragama, dan penangkapan aktivis hak asasi manusia telah menimbulkan keprihatinan tentang perlindungan hak asasi manusia dan kebebasan berpendapat di Indonesia.

Terdapat juga kekhawatiran tentang meningkatnya polarisasi politik dan kecenderungan otoritarianisme. Praktik-praktik politik yang tidak etis, penyalahgunaan kekuasaan, dan pembatasan terhadap oposisi politik telah menimbulkan keraguan tentang kesehatan demokrasi Indonesia. 

Meskipun demikian, menyimpulkan bahwa demokrasi di Indonesia sudah mati mungkin terlalu jauh. Meskipun menghadapi tantangan, Indonesia tetap memiliki lembaga-lembaga demokratis yang kuat, seperti lembaga perwakilan rakyat, pengadilan independen, dan media yang relatif bebas.

Selain itu, keberadaan masyarakat sipil yang aktif dan beragam juga merupakan aset penting dalam memperjuangkan demokrasi yang lebih baik. Gerakan-gerakan masyarakat sipil, termasuk organisasi hak asasi manusia, LSM, dan kelompok advokasi, terus berjuang untuk menjaga prinsip-prinsip demokrasi dan mengawasi pemerintah.

Keberadaan sistem pengadilan yang independen adalah salah satu pilar penting dari demokrasi. Meskipun terdapat kritik terhadap keadilan dalam beberapa kasus, upaya-upaya untuk memperkuat independensi pengadilan dan penegakan hukum tetap dilakukan, menunjukkan bahwa demokrasi masih hidup dan berjuang untuk ditegakkan. 

Partisipasi masyarakat dalam proses politik, baik melalui pemilihan umum maupun melalui aksi-aksi politik lainnya, juga menunjukkan bahwa demokrasi masih hidup di Indonesia. Meskipun tingkat partisipasi masyarakat tidak selalu tinggi, keberadaan ruang untuk ekspresi politik dan partisipasi adalah tanda penting dari keberlangsungan demokrasi.
    
Dengan demikian, tantangan yang dihadapi demokrasi di Indonesia tidak boleh diabaikan, masih ada harapan untuk memperbaiki keadaan. Penguatan lembaga-lembaga demokratis, perlindungan hak asasi manusia, dan meningkatkan partisipasi masyarakat adalah langkah-langkah penting dalam menjaga keberlangsungan demokrasi di Indonesia. 

Jadi, sementara demokrasi di Indonesia mungkin menghadapi cobaan yang serius, menyimpulkan bahwa ia telah mati terlalu prematur. Dengan komitmen bersama dari pemerintah, masyarakat sipil, dan seluruh warga negara, masih ada harapan untuk membangun demokrasi yang lebih inklusif, adil, dan berkelanjutan di masa depan. (*)

***

*) Oleh : Kukuh Bayu Firmansyah S.IP, Magister ilmu Sosial Universitas Brawijaya Malang 

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi timesindonesia.co.id

*) Kopi TIMES atau rubrik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

*) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]

*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim apabila tidak sesuai dengan kaidah dan filosofi TIMES Indonesia.

*) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.

Advertisement



Editor : Hainorrahman
Publisher : Sofyan Saqi Futaki

TERBARU

Togamas - togamas.com

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES