Kopi TIMES

Hubungan Agama dengan Solidaritas Sosial #Teori Solidaritas Emil Durkheim

Rabu, 15 Mei 2024 - 14:23 | 10.48k
Oleh: Dr. Kukuh Santoso, M.Pd, Dosen Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Islam Malang (UNISMA).
Oleh: Dr. Kukuh Santoso, M.Pd, Dosen Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Islam Malang (UNISMA).

TIMESINDONESIA, MALANG – Agama secara sosiologis disebut suatu jenis sistem sosial, menjelaskan bahwa agama adalah suatu fenomena sosial, suatu peristiwa kemasyarakatan suatu sistem sosial dapat dianalisis, karena terdiri atas suatu kompleks kaidah dan peraturan yang dibuat saling berkaitan dan terarahkan kepada tujuan tertentu.

Tujuan utama agama dalam masyarakat primitif adalah membantu orang berhubungan bukan dengan tuhannya, melainkan dengan sesamanya. Ritual-ritual religius membantu orang untuk mengembangkan rasa solidaritas, rasa sepaguyuban (sense of community), rasa berkelompok (group feeling).

Misalnya mereka bersama-sama ambil bagian dalam pesta perkawinan, mengantarkan sesajian, pesta kelahiran dan kematian, dan bersama-sama merayakan musim tanam dan panen. Hal itu dapat mempersatukan kelompok dengan cara kontraksi religius. Durkheim ~yang telaahannya terfokus pada unsur-unsur sosial yang menghasilkan solidaritas~ melihat agama sebagai faktor esensial bagi identitas dan integrasi masyarakat.

Menurut Durkheim “Agama merupakan suatu sistem interpretasi diri kolektif. Dengan kata lain, agama adalah sistem simbol di mana masyarakat bisa menjadi sadar akan dirinya; sistem simbol yang ada merupakan penjelmahan dari masyarakat itu sendiri, ia adalah cara berpikir tentang eksistensi kolektif.”

Agama tidak lain adalah proyeksi masyarakat sendiri dalam kesadaran manusia. Selama masyarakat masih berlangsung, agamapun akan tetap lestari. Masyarakat bagaimanapun akan tetap menghasilkan simbol-simbol pengertian diri kolektifnya, dan dengan demikian menciptakan agama. Durkheim menjelaskan bahwa agama dapat menumbuhkan rasa solidaritas (mekanis) di antara pemeluknya.

INFORMASI SEPUTAR UNISMA DAPAT MENGUNJUNGI www.unisma.ac.id

Agama merupakan suatu proyeksi pengalaman masyarakat. Kekudusan dan masyarakat merupakan hal yang satu dan sama. Agama adalah sarana ungkapan simbolis kehidupan kolektif total. Durkheim mengidentifikasikan agama dengan masyarakat, semakin kuat dan erat ikatan sosial suatu masyarakat, semakin dalamlah perasaan religius dan perasaan mengenai hal yang kudus yang menyertai setiap menifestasi kolektif.

Yang terpenting dari segala yang sakral (agama) itu sendiri adalah kemampuannya untuk membangkitkan perasaan kagum bagi para pemeluknya dan karena itu agama memiliki kekuatan memaksa (dalam mengatur) tingkah laku manusia serta kekuatan untuk mengukuhkan nilai-nilai moral kelompok pemeluk. Masyarakat akan patuh pada sesuatu yang dikaguminya, apalagi yang dikagumi itu memiliki kekuatan yang luar biasa.

Agama pada mulanya muncul karena adanya suatu geteran, suatu emosi yang ditimbulkan dalam jiwa manusia sebagai akibat dari pengaruh rasa solidaritas sebagai sesama warga masyarakat. Agama yang didefenisikan oleh Durkheim sangat berbeda dengan Agama Islam. Agama yang dimaksud oleh Durkheim adalah sistem sosial, budaya manusia, suatu proyeksi pengalaman masyarakat. Kekudusan dan masyarakat merupakan hal yang satu dan sama.

Agama adalah sarana ungkapan simbolis kehidupan kolektif total. Agama dipandang sebagai sistem kepercayaan yang diwujudkan dalam prilaku sosial tertentu. Agama berkaitan dengan pengalaman manusia, baik sebagai individu maupun kelompok. Sehingga, setiap perilaku yang diperankannya akan terkait dengan system keyakinan dari ajaran agama yang dianutnya. Perilaku individu dan sosial digerakkan oleh kekuatan dari dalam yang didasarkan pada nilai-nilai ajaran agama yang menginternalisasi sebelumnya.

 Disisi lain, Islam adalah agama yang diturunkan melalui wahyu Tuhan kepada nabinya Muhammad, bukan dihasilkan dari pengalaman manusia, bukan hasil pemikiran dan karya manusia atau budaya manusia. Ajaran Islam banyak sekali perintah-perintah dan anjuran-anjuran yang menyuruh umatnya berbuat baik kepada orang lain, memperbaiki hubungan dengan orang lain, menyayangi dan mencintai orang lain, dilarang memutuskan solidaritas, bahkan Islam mengajarkan umatnya agar mencintai orang lain seperti mencintai diri sendiri.

Di samping perintah-perintah itu, ajaran Islam juga menyuruh umatnya untuk melaksanakan ritual atau ibadah-ibadah tertentu sebagai bukti pengabdian kepada Allah. Diantara ritual-ritual itu berhubungan dengan tindakan sosial kemasyarakatan. Semua perintah ritual-ritual di atas apabila dilakukan berulang-ulang, akan dimenjadikan umat muslim sering berkumpul, saling berinteraksi satu sama lain, saling memahami.

Dengan seringnya berkumpul melakukan ritual keagamaan itu akan menimbulkan getaran-getaran jiwa diantara sesama anggota kelompok ibadah, bergembira dan sedih bersama, mempunyai tujuan dan cita-cita yang sama, keyakinan yang sama, dan merasa senasip sepenanggungan. Kemudian akhirnya akan mendatangkan sentimen perasaan, rasa simpati, identifikasi, rasa memiliki, rasa cinta diantara sesama. Dengan demikian ajaran Islam juga berdampak sosiologis yaitu dapat membuat umatnya menjadi masyarakat yang memiliki solidaritas.

INFORMASI SEPUTAR UNISMA DAPAT MENGUNJUNGI www.unisma.ac.id

*) Penulis: Dr. Kukuh Santoso, M.Pd, Dosen Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Islam Malang (UNISMA).

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi timesindonesia.co.id

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.

Advertisement



Editor : Dhina Chahyanti
Publisher : Rochmat Shobirin

TERBARU

Togamas - togamas.com

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES