Kopi TIMES

Membumikan Pendidikan Islam: Belajar dari Ibnu Khaldun dan John Dewey

Jumat, 17 Mei 2024 - 07:41 | 16.40k
Muhammad Amruddin Latief, M.Pd, Dosen Ma'had Aly Al-Tarmasi Pacitan. (FOTO: Yusuf Arifai/TIMES Indonesia)
Muhammad Amruddin Latief, M.Pd, Dosen Ma'had Aly Al-Tarmasi Pacitan. (FOTO: Yusuf Arifai/TIMES Indonesia)

TIMESINDONESIA, PACITANPendidikan merupakan bagian tak terpisahkan dari kehidupan sosial. Namun, seringkali pendidikan tertinggal dalam menyesuaikan diri dengan perubahan sosial.

Hal ini menyebabkan kesenjangan antara teori yang diajarkan di sekolah dengan realitas di lapangan. Kurikulum yang kaku, metode yang monoton, dan ketidakprofesionalan guru menjadi beberapa faktor yang membuat pendidikan bagaikan berada di menara gading.

Di era modern ini, segala sesuatu sangat bergantung pada teknologi, sehingga mengubah pola kehidupan sosial. Dunia maya yang berkembang pesat pun mengubah cara hidup manusia. Inersia sistem pendidikan terhadap perubahan lingkungan sosial, ekonomi, budaya, dan kemajuan ilmu dan teknologi terlihat dari ketidakmampuan pendidikan dalam menyesuaikan diri dengan dunia luar.

Sekolah-sekolah masih banyak yang menyelenggarakan pendidikan secara kaku dan terjebak pada formalitas. Para pendidik lebih mementingkan transmisi pengetahuan, kurang memperhatikan situasi dan kondisi masyarakat. Penyeragaman pendidikan formal oleh pemerintah perlu dikaji ulang, mengingat setiap individu memiliki bakat, minat, dan karakter yang berbeda-beda, ditambah lagi kondisi dan situasi setiap daerah juga berbeda.

Membangun Pendidikan yang Berpusat pada Manusia

Meminjam pendapat Paulo Freire, transformasi pendidikan tidak akan pernah terjadi jika tidak ada perubahan sosial. Sementara keadaan sosial akan tetap stagnan jika pendidikan tidak berubah. 

Sementara itu, Ibnu Khaldun dan John Dewey, dua pedagog luar biasa, memiliki visi yang sama, yaitu terselenggaranya pendidikan yang berpusat pada manusia, pendidikan yang memanusiakan manusia. 

Pemikiran Ibnu Khaldun tentang Pendidikan

Bagi Ibnu Khaldun, pendidikan harus disesuaikan dengan perubahan sosial yang terjadi. Ia menyatakan bahwa "Meniru tradisi, bukan berarti menghidupkan mereka yang mati, tapi juga mematikan yang hidup."

Pendidikan harus mencetak generasi-generasi yang mampu menjadi pelopor perubahan ke arah yang lebih baik. Fleksibilitas dan kelonggaran untuk menerima perubahan mutlak dibutuhkan dalam dunia pendidikan.

Pendidikan bagi Ibnu Khaldun harus memenuhi tuntutan kebutuhan zaman dan tidak anti realitas. Pendidikan harus memperhatikan aspek-aspek teoritis-tekstual-normatif dan juga sekaligus memperhatikan aspek teoritis-praktis-empiris dan historis. 

Pemikiran John Dewey tentang Pendidikan

Senada hal itu, Dewey berpendapat bahwa pendidikan harus dilengkapi dengan fasilitas yang canggih dan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi harus dibawa masuk dalam dunia pendidikan. Anak didik harus dikenalkan teknologi sedini mungkin, karena realita masyarakat sudah sangat membutuhkannya.

Pendidikan, menurut Dewey, harus membangun pondasi pengetahuan sosial kepada anak didik, dengan cara mendorong anak didik untuk mempelajari masyarakatnya. Mengkaji problem masyarakat kemudian merumuskan solusinya. Oleh karena itu, pendidikan harus memberikan kebebasan berfikir anak didik, sehingga anak didik memiliki kemandirian. 

Bagi Dewey, yang terpenting dalam pendidikan adalah bagaimana memberdayakan dan mengoptimalkan potensi yang dimiliki anak didik, sehingga ia mampu mengatasi problematika hidup. 

Paradigma Baru Pendidikan Islam

Pendidikan Islam di Indonesia masih terkesan kurang peduli dalam menyelesaikan problematika sosial yang ada. Pendidikan Islam masih terlalu asyik pada pembahasan-pembahasan usang, seperti persoalan qadariyah, jabariyah, syiah, atau asy’ariyah. 

Perlu adanya pembatasan materi-materi yang sudah 'usang', atau setidaknya dikontekstualisasikan dengan perkembangan zaman. Rumusan teologi Islam klasik harus dikritisi mengingat tantangan dan perubahan zaman menuntut untuk itu. 

Pemahaman agama yang kontekstual jauh lebih dibutuhkan di era sekarang, daripada pendekatan tekstual. Pendekatan kontekstual dalam memahami ayat-ayat Tuhan dan sunnah Nabi, fungsi profetik daripada agama untuk mengkritik, memperbaiki, memformulasi, dan mengubah tata cara berfikir yang cocok dengan tuntunan realitas.

Pendidikan Islam perlu berbenah diri, pemahaman agama hanya sebuah ritual agama harus dicairkan. Umat Islam adalah bagian dari kehidupan sosial yang berlangsung, bukan sekelompok orang yang hidup di dunia lain. 

Pendidikan Islam perlu dicarikan formula baru yang berorientasi ke depan, bukan terbayang-bayang akan kejayaan masa lalu. Pendidikan yang terbuka atas pembaharuan, bukan yang fanatik akan tradisi. 

Dari sini dapat kita tarik kesimpulan bahwa pemikiran Ibnu Khaldun dan John Dewey dapat menjadi inspirasi untuk membangun pendidikan Islam yang berpusat pada manusia, pendidikan yang relevan dengan realitas sosial, dan pendidikan yang mampu mencetak generasi-generasi yang siap menghadapi tantangan zaman. (*)

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.

Advertisement



Editor : Hainorrahman
Publisher : Sofyan Saqi Futaki

TERBARU

Togamas - togamas.com

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES