Dampak Negatif Pernikahan Dini Gen Z
Baru viral di jagat maya memberitakan Badan Pusat Statistik menginformasikan data mengenai 10 juta gen Z menganggur. Gen Z sebanyak ini, tidak belajar di jenjang pendi ...

Ruang Menulis untuk Indonesia
Kopi TIMES adalah ruang kolaboratif bagi siapa saja yang ingin menyuarakan ide, pengalaman, dan pemikiran kepada publik luas. Di sini, tulisan lahir dari beragam latar belakang: akademisi, mahasiswa, guru, santri, profesional, pelaku UMKM, pegiat komunitas, aktivis, birokrat, politisi, seniman, hingga warga biasa yang peduli pada isu di sekitarnya.
YOGYAKARTA – Baru viral di jagat maya memberitakan Badan Pusat Statistik menginformasikan data mengenai 10 juta gen Z menganggur. Gen Z sebanyak ini, tidak belajar di jenjang pendidikan formal, juga tidak bekerja. Realitas terkini, adanya pengangguran dalam jumlah besar pada gen Z, memerlukan penanganan serius. Langkah kongkrit tidak segera dilakukan untuk mengatasi pengangguran di kalangan gen Z, bisa mengakibatkan problem sosial dan ekonomi.
Problem sosial akan terjadi mengingat gen Z dikaji dari sudut pandang psikologi perkembangan termasuk tahapan remaja. Pada usia remaja ini, sesungguhnya berada di masa adolescence. Pada masa tersebut remaja memiliki energi melimpah. Remaja sedang di era banyak maunya.
Di sisi yang lain, remaja yang berada pada tahapan perkembangan adolescence, secara psikologis dalam keadaan belum stabil, karena dirinya sedang berproses menemukan jati diri. Situasi tersebut membuat remaja belum bisa disebut sebagai pribadi dewasa, tetapi sudah tidak dapat dikatakan sebagai anak-anak. Tahapan perkembangan serba tanggung ini, menyebabkan kondisi psikologis remaja belum sepenuhnya matang, sehingga menumbuhkan pribadinya pada posisi masih labil.
Ketika gen Z berada dalam kondisi psikologis labil dan disertai dengan energi berlebih, acapkali memicu tindakan di luar kontrol diri. Seperti mereka tertantang melakukan tindakan yang dijalankan oleh orang dewasa, termasuk implementasi berkaitan dengan kesehatan reproduksi. Implementasinya adalah secara hormonal gen Z sudah memiliki perangkat kesehatan reproduksi yang mapan, seperti hormon seksual sudah mengalami pertumbuhan matang, selayaknya orang dewasa.
Efek negatif dari kematangan hormon seksual menjadikan gen Z, ada yang melakukan relasi seksual, sama dengan dipraktikan oleh suami-istri memiliki keabsahan secara agama. Mereka melampiaskan birahi seksual dengan pasangan yang tidak disyahkan oleh agama dan tidak dilegalkan oleh negara.
Peristiwa itu terjadi sebagai wujud dari penyaluran energi besar yang dirasakan oleh gen Z. Mereka yang menganggur tidak menyalurkan energi melalui aktifitas mendalami ilmu pengetahuan melalui jenjang pendidikan. Mereka juga tidak mengalirkan energi dengan bekerja. Sehingga energi gen Z yang bertumpuk-tumpuk ditumpahkan pada hubungan intim.
Faktor yang memicu terjadinya hubungan intim di luar nikah pada gen Z adalah media sosial yang memberikan kesempatan mencari informasi secara bebas mengenai pengetahuan seksual. Berasal dari media sosial ini, mereka belajar mengenai hubungan intim dan mempraktekkannya. Akibatnya banyak kejadian married by accident yaitu terpaksa menikah karena hamil duluan. Realitas tersebut menyebabkan gen z, terpaksa melangsungkan pernikahan dini.
Resah terhadap fenomena merebaknya pernikahan dini, memotivasi komunitas kader desa PRIMA (Perempuan Indonesia Maju Mandiri) di Katongan, Nglipar, Gunung Kidul menyelenggarakan sosialisasi dampak negatif pernikahan dini. Kegiatan ini penting diprogramkan bertujuan sebagai upaya pencegahan agar pernikahan dini gen di kalangan gen Z, tidak berkembang di kalurahan Katongan.
Upaya pencegahan perlu diterapkan karena dampak negatif pernikahan dini bisa berkenaan dengan kesehatan mental. Pada masa gen Z, idealnya merupakan masa bermain dengan teman sebaya. Bersama dengan teman sebaya, waktunya dipenuhi dengan berbagai kegiatan menyalurkan hobi, menyelenggarakan rekreasi dan menekuni proses pembelajaran di sekolah.
Namun, kesempatan ini tidak didapatkan bagi gen Z yang sudah terlanjur menikah. Mereka dipaksa keadaan harus mengurus anak dan mencari nafkah. Selain suntuk mencukupi kebutuhan keluarga, problem yang dihadapi selama berumah tangga sangat kompleks. Banyaknya problem, menjadikan pasangan pernikahan dini gen Z, mencurahkan segala energinya untuk meyelesaikan masalah yang menderanya. Sehingga mereka tak sempat lagi menikmati masa remaja.
Begitu banyak masalah menimpa gen Z menikah dini dapat saja mengalami stres. Faktor penyebab stres adalah tekanan masalah bertubi-tubi, tak mampu diselesaikan oleh gen Z menikah dini menjadi penyebab terjadinya gangguan fisik, emosional, maupun perilaku. Gangguan secara fisik dilihat dari pencernaan tidak berfungsi optimal, susah tidur dan mudah lelah.
Selanjutnya menyangkut gangguan emosional berkembang kecemasan, depresi dan merasa tak mampu. Sedang pada penyimpangan perilaku terdiri adalah menarik diri dari interaksi sosial. Tanda-tanda stres ini menimbulkan dampak negatif terhambatnya mewujudkan kesejahteraan psikologis gen Z.
Dampak negatif lain dari pernikahan dini memupus rantai pengembangan diri gen Z. Mereka tidak bisa mengembangkan diri untuk menyiapkan masa depan cerah, karena pernikahan dini membikin terhentinya melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi. Putus sekolah ini menyebabkan usaha menumbuhkan sumber daya manusia unggul menjadi minimalis. Mereka harus berhenti sekolah dilatarbelakangi oleh fokus memenuhi kebutuhan keluarga.
Dampak negatif lebih besar dari putus sekolah gen Z menghasilkan sumber daya manusia rendah. Kualitas sumber daya manusia kurang mumpuni, membikin keterbatasan gen Z menikah dini memperoleh pendapatan, seperti tidak banyak yang bisa dikerjakan untuk mencari nafkah, akibatnya tidak mampu mencukupi kebutuhan keluarga. Kenyataan ini menjadikan pernikahan dini dapat menjadi pemicu problem ekonomi, yaitu menstimulasi kemiskinan di Indonesia lebih tinggi.
Dampak negatif tak boleh ditinggalkan terkait dengan pembahasan pernikahan dini adalah memicu kekerasan dalam rumah tangga, terutama yang rentan menjadi korban adalah istri. Ketika istri menikah dini, belum sepenuhnya memiliki kesiapan secara mental maupun ekonomi.
Dalam situasi seperti ini, istri terlalu bergantung pada suami. Ketika hubungan interpersonal antara suami dan istri cenderung tidak setara, yaitu istri berada pada posisi lemah dan suami cenderung dominan. Ketika ada masalah selama proses menjalani kehidupan berumah tangga yang memiliki potensi lebih besar memperoleh kekerasan verbal maupun fisik adalah istri.
Ketika istri menikah dini mempunyai posisi subordinat karena tergantung secara mental maupun ekonomi pada suami. Istri tersebut akan lebih terbuka kesempatan menerima kekerasan rumah tangga. Terjadinya kekerasan dalam rumah tangga menimpa istri menjadi ganjalan membangun desa Prima, yaitu menghambat terwujudnya perempuan memiliki ketangguhan dan kemandirian. Latar belakang untuk mengatasi kendala ini, mendorong terlaksananya program preventif pernikahan dini. Strategi yang dapat dijalankan mencegah terjadinya pernikahan dini dengan mengacu pentahelix.
Pentahelix merupakan cara mencegah pernikahan dini dengan melibatkan lintas lembaga. Sebagai penggerak utama yang menjalankan pencegahan pernikahan dini melalui kader desa Prima. Para pejuang berasal dari kader desa Prima menjadi garda terdepan mengembangkan kesadaran bersama untuk mengatakan tidak pernikahan dini gen Z di komunitas masing-masing.
Semangat dari kader desa prima ini memerlukan dukungan fasilitas dari pemerintah yang diwakili pemerintah desa. Dukungan fasilitas yang diberikan oleh pemerintah desa bermanfaat secara operasional menggerakkan promosi kesehatan mental terkait pencegahan pernikahan dini.
Institusi lain yaitu perguruan tinggi perlu memberikan kontribusi mencegah pernikahan dini melalui pengabdian masyarakat. Perguruan tinggi sesuai dengan keilmuan melakukan pemberdayaan komunitas, seperti peningkatan kapasitas kader, manajemen organisasi, dan membukakan jalan mengelola wirausaha melalui berbagai workshop atau pelatihan bagi gen Z yang belum sempat mengenyam pendidikan tinggi.
Yang tak kalah penting mencegah pernikahan dini adalah peran perusahaan dengan menyumbang permodalan dan menyalurkan produk dari wirausaha yang dilakukan oleh gen Z. Tindakan ini bisa menjadi solusi mengatasi pengangguran dalam jumlah besar pada gen Z. Karena mereka tidak lagi menunggu kesempatan bekerja di sektor formal, lantaran sudah menjadi wirausahawan.
Proses pemberdayaan pada komunitas melalui desa PRIMA mengarahkan gen Z menunda pernikahan. Tujuan ini bisa terlaksana karena energi besar gen Z bisa dicurahkan untuk menyiapkan masa depan gemilang dengan memproses dirinya sebagai wirausahawan sukses. Semoga. Aamiin.
***
*) Oleh : Dr. Hadi Suyono, S.Psi., M.Si., Direktur Clinic for Community Empowerment Fakultas Psikologi Universitas Ahmad Dahlan.
*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi timesindonesia.co.id
*) Kopi TIMES atau rubrik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
*) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]
*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim apabila tidak sesuai dengan kaidah dan filosofi TIMES Indonesia.
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


