Kopi TIMES

Konsep Pendidikan Islam Menurut Ibnu Khaldun

Rabu, 29 Mei 2024 - 16:07 | 11.25k
Oleh: Dr. Kukuh Santoso, M.Pd, Dosen Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Islam Malang (UNISMA).
Oleh: Dr. Kukuh Santoso, M.Pd, Dosen Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Islam Malang (UNISMA).

TIMESINDONESIA, MALANG – Pendidikan Islam yang ada selama ini lebih tampak sebagai sebuah praktek pendidikan dan bukan sebagai ilmu dalam arti ilmu yang memiliki struktur bahasan dan metodologi penelitian sendiri. Lambannya pertumbuhan dan perkembangan Ilmu Pendidikan Islam itu bukan hanya terjadi pada saat ini tapi juga di masa lalu.

Sejak masa klasik hingga saat ini belum banyak pakar atau ulama yang meneliti masalah Pendidikan Islam. Kondisi ilmu Pendidikan Islam yang demikian ini perlu segera diatasi dengan cara menumbuhkembangkan Ilmu Pendidikan Islam melalui serangkaian kajian dan penelitian yang melibatkan pemikiran dari tokoh intelektual muslim dari zaman klasik, pertengahan sampai zaman modern ini.

Salah satu tokoh pemikir Islam yang tidak sedikit hasil karya dan buah pikirannya serta eksistensinya dalam dunia keilmuan, khususnya Sejarah dan Filsafat, tentu ada keterkaitan dengan pemikirannya tentang Pendidikan Islam, meskipun dalam porsi yang tidak besar. Bahwa corak dan pemikiran Ilmu Pengetahuan pada masa klasik, masa pertengahan, sampai masa modern selalu dipengaruhi oleh pembawanya. Dari sini muncul pemikiran yang sangat variatif, seiring dengan pemikiran yang tidak sama dengan pendahulunya. Ibnu Khaldun adalah salah seorang tokoh pendidikan Islam. Pandangan Ibnu Khaldun tentang pendidikan, berbeda dengan pendapat Al-Ghazali khususnya mengenai tujuan pendidikan. Menurut Al-Ghazali tujuan Pendidikan Islam hanyalah untuk mendekatkan diri pada Allah, sedangkan Ibnu Khaldun berpendapat bahwa tujuan Pendidikan Islam sudah dikembangkan dengan memperoleh rizki.

INFORMASI SEPUTAR UNISMA DAPAT MENGUNJUNGI www.unisma.ac.id

 Pengertian pendidikan menurut Ibnu Khaldun adalah “Penerangan ilmu pengetahuan dan keterampilan serta berbagai aspeknya pada karya nyata untuk memperoleh rizki menuju kepada masyarakat lebih maju sesuai dengan kecenderungan individu” (Sulaiman, 1987:31-35).

Sebelum manusia tamyiz, dia sama sekali tidak memiliki pengetahuan dan dianggap sebagian dari binatang. Asal usul manusia diciptakan dari setetes air mani (sperma), segumpal darah, sekerat daging dan masih ditentukan rupa dan mentalnya. Adapun yang dicapai sesudah itu adalah merupakan akibat dari persepsi sensual dan kemampuan berpikir yang dianugerahkan Allah kepadanya.

Pada kondisinya semula sebelum mencapai tamyiz, manusia adalah materi seluruhnya karena ia tidak mengetahui semua pengetahuan yang dicari melalui organ tubuhnya sendiri. Maka kemanusiaannya pun mencapai kesempurnaan eksistensinya. Ibnu khaldun juga berpendapat bahwa dari balik upayanya untuk mencapai ilmu itu, manusia bertujuan dapat mengerti tentang berbagai aspek pengetahuan yang dia pandang sebagai alat yang membantunya untuk bisa hidup dengan baik di dalam masyarakat maju dan berbudaya.

Ibnu Khaldun dalam konsep pendidikannya akan membentuk suatu masyarakat yang siap menghadapi perubahan sosial yang terjadi, sebab Ibnu Khaldun tidak mementingkan pengajaran teoritis saja melainkan benar-benar melakukan pembentukan kecakapan riil kepada masyarakat agar hidup lebih baik. Ibnu Khaldun ingin menjadikan manusia hamba Allah yang berakhlak baik sebagai khalifah di maka bumi.

Ibnu Khaldun bermaksud menjadikan pengabdi Allah menjadi paling bertakwa itu bukanlah orang yang ahli dalam keagamaan saja, melainkan orang yang tahu dengan jelas dan lengkap seluruh isi ajaran Allah dalam Alqur’an serta cakap melaksanakannya ke dalam praktek kehidupan sehari-hari, baik selaku individu maupun selaku warga serta mayarakat dan bangsa.

Dari tujuan pendidakan itu penulis dapat menyebutkan secara lebih rinci sebagai berikut:

1.        Mempersiapkan individu dari bidang keagamaan yaitu mengajarkan syiar agama menurut Alqur’an dan Hadis, sebab dengan demikian potensi yang ada baik potensi iman maupun yang lainnya diperkuat. Maka apabila telah diperkuat maka akan menjadi mendarah daging dan seakanakan menjadi fitrah.

2.        Menyiapkan individu agar menjadi anggota masyarakat yang baik serta mampu menghadapi berbagai persoalan yang ada.

3.        Menyiapkan individu dari segi vokasional, dikatakannya bahwa mencari dan menegakkan hidupnya mencari pekerjaan sebagaimana ditegaskan bagaimana pentingnyapekerjaan untuk kelangsungan hidup sepanjang hidup manusia, sedangkan pendidikan dan pengajaran dianggapnya termasuk di antara keterampilan itu.

4.        Menyiapkan individu menjadi berakhlak mulia.

5.        Menyiapkan individu dari segi pemikiran, sebab dengan demikian seseorang akan dapat memegang berbagai pekerjaan dan pertukangan atau keterampilan dalam bidang tertentu

6.        Menyiapkan seseorang untuk menjadi seniman yang Islami. Itulah tujuan pendidikan Islam menurut Ibnu Khaldun yang bersumberkan dari Alqur’an dan Sunnah sebagai seorang pemikir terakhir dari zaman keemasan tamaddun Islami yang banyak menulis mengenai pendidikan dan pengajaran. ***

INFORMASI SEPUTAR UNISMA DAPAT MENGUNJUNGI www.unisma.ac.id

*) Penulis: Dr. Kukuh Santoso, M.Pd, Dosen Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Islam Malang (UNISMA).

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi timesindonesia.co.id

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.

Advertisement



Editor : Dhina Chahyanti
Publisher : Rochmat Shobirin

TERBARU

Togamas - togamas.com

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES