Kopi TIMES

Mempercepat Transformasi Digital dan Pembangunan Wilayah 3T dengan Starlink

Kamis, 30 Mei 2024 - 22:32 | 26.61k
Mubasyier Fatah, Koordinator Bidang Ekonomi, Pengurus Pusat Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (PP ISNU) dan Pelaku Ekonomi di Bidang Teknologi Informasi
Mubasyier Fatah, Koordinator Bidang Ekonomi, Pengurus Pusat Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (PP ISNU) dan Pelaku Ekonomi di Bidang Teknologi Informasi

TIMESINDONESIA, JAKARTA – Mulai tanggal 19 Mei ini, Starlink resmi beroperasi di Indonesia. Terhitung  dari saat diluncurkannya pada November  2020 lalu, sudah hampir 100 negara mengadopsi layanan internet berbasis satelit yang disediakan tim SpaceX itu.

Peristiwa tersebut  begitu istimewa sehingga  Elon Mask, bos SpaceX sendiri hadir langsung dalam acara peresmian di Denpasar Bali. Bahkan, dua hari setelah acara tersebut Ellon Musk menyempatkan diri menulis di akun X-nya “Selamat kepada @tim SpaceX karena meraih  3 juta pelanggan di 99 negara!” (Selasa, 21 Mei 2024, pukul 06.53). 

Sementara  itu, tim Starlink merayakan pencapaian tersebut dengan memposting video di akun X resminya, yang menampilkan orang-orang di seluruh dunia dan semua lapisan masyarakat mengakses internet menggunakan sistem berbasis satelit.

Bagi pemerintahan Jokowi, masuknya Starlink merupakan hal yang istimewa. Betapa tidak, puncak acara peresmian, disaksikan oleh empat menteri Kabinet Indonesia Maju sekaligus. 

Mereka adalah Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Luhun Binsar Pandjaitan, Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Budi Arie Setiadi, Menteri Kesehatan Budi Gunardi, dan Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono. 

Diketahui, hingga kini SpaceX telah mengorbirkan 4.000 satelit dari target 12.000 satelit. Layanan internet yang disediakannya sungguh dahsyat, karena satu satelit saja memiliki kapasitas peak data rate 21,36 Gbs. Cakupan layanannya bisa meliputi seluruh wilayah Indonesia, tat terkecuali wilayah 3T (tertinggal, terdepan, terluar). 

Menimbulkan Polemik

Namun, masuknya layanan internet besutan  mliarder pemilik SpaceX, Tesla dan media sosial X menimbulkan polemik di sejumlah kalangan Indonesia. Ada yang berpendapat, kehadiran Starlink menjadi ancaman bagi operator seluler dan pengusaha layanan internet yang sudah ada di Indonesia. 

Mereka berargumen di tengah regulasi yang masih lemah, kehadiran Stralink dapat mengobarkan persaingan tidak sehat di industri telekomunikasi yang ujung-ujungnya membebani konsumen Indonesia. Bahkan, ada yang kuatir bahwa Starlink dapat mengancam keamanan dan kedaulatan dan integrasi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Pasalnya, sebagai perusahaan Amerika Serikat, Starlink diatur dan dilindungi oleh YS Cloud Act 2018. Jadi trafik dan konten Starlink berada di luar jangkauan yuridiksi, kedaulatan digital, kewenangan hukum Indonesia. 

Ada yang mengatakan bahwa internet Starlink terlalu mahal. Berdasarkan hasil studi GSM 2023 menunjukkan bahwa kecepatan Starlink bisa menembus kecepatan di atas 100 Mbps, jauh di atas kecepatan fxed broadband 28,28 Mbps, dan mobile broadbandnya hanya 24,65 Mbps. 

Namun tarif layanan Starlink tergolong tinggi. Harga standar Starlink untuk paket residensial sebesar Rp750 ribu perbulan.  Untuk paket jelajah dipatok lebih tinggi lagi yaitu Rp990 ribu perbulan (mobile regional) dan Rp4,34 juta per bulan (prioritas mobile 50GB). 

Satu hal yang menjadi pokok polemik adalah soal jaminan perlindungan hak konsumen. Pasalnya, walau mencatatkan diri atas nama PT Starlink Service Indonesia, Starlink belum memiliki kantor di Indonesia. Pihak yang kontra bahkan mengangkat beberapa kelemahan yang ada pada layanan internet Starlink.

Operasi Starlink di Selandia Baru misalnya masih banyak kelemahannya. Di sana layanan Starlink terkadang tidak langsung tersedia di wilayah terpencil. Selain itu, tak jarang piring Starlink dikunci pada lokasi tertentu, kecuali untuk layanan seperti Starlink Business, atau Starlink Mobile.

Selain itu, perangkat keras terbaru Starlink menggunakan daya sekitar 40 Watt, sehingga menimbulkan biaya tagihan listrik yang lebih besar. Namun analisa-analisa tersebut hanya berdasarkan studi dokumen saja, tanpa telaah mendalam tentang keuntungan yang diperoleh dari layanan Starlink.

Mempercepat Tranformasi Digital 

Meski terdapat beberapa titik lemah, pemerintah di hampir 100 negara pengguna jasa Starlink antusias memanfaatkan internet Starlink berkecepatan tinggi untuk menunjang proses transformasi digital  di berbagai sektor kehidupan. 

Mereka memanfaatkan internet Starlink untuk meningkatkan  akses warganya terhadap pendidikan, layanan kesehatan, layanan bisnis dan perdagangan, layanan transportasi dan pariwisata,  layanan administrasi pemerintahan, dan bahkan memudahkan komunikasi dalam proses mitigasi bencana alam. 

Indonesia yang sedang bertranformasi secara digital semestinya antusias juga menyambut kehadiran Starlink dan segera memanfaatkan internet berbasis satelit untuk mempercepat proses transformasi digitalnya. Ini penting karena sejauh ini proses transformasi digital kita berjalan tersendat-sendat karena kondisi infrastruktur telekomunikasi  yang  belum memadai dan tidak merata penyebarannya di seluruh wilayah Indonesia. 

Data Kemkominfo 2020 menyebutkan desa/kelurahan di Indonesia yang belum mendapat layanan 4G ada 12,548,  dimana 9.113 desa/kelurahan di wilayah 3T, dan 3.435 di wilayah non 3T. Menurut hemat penulis terlepas pandangan yang kontra kehadiran starlink memiliki potensi besar dalam percepatan transformasi digital di Indonesia, diantaranya:

Pertama, Akses Internet di Daerah Terpencil, Indonesia, dengan ribuan pulau dan topografi yang beragam, menghadapi tantangan besar dalam menyediakan akses internet di daerah-daerah terpencil dan terisolasi. Starlink dapat mengatasi keterbatasan infrastruktur darat dengan menyediakan internet satelit yang tidak memerlukan pembangunan fisik yang ekstensif. Ini dapat membuka akses internet di wilayah-wilayah yang sebelumnya tidak terjangkau.

Kedua, Meningkatkan Kualitas Pendidikan, Dengan akses internet yang lebih merata, sekolah-sekolah di daerah terpencil bisa mendapatkan akses ke sumber daya pendidikan digital. Ini bisa membantu mengurangi kesenjangan pendidikan antara kota dan desa, serta meningkatkan kualitas pendidikan secara keseluruhan.

Ketiga, Peningkatan Ekonomi Digital, Akses internet yang lebih luas dapat mendorong pertumbuhan ekonomi digital. Usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di daerah-daerah terpencil dapat memanfaatkan platform online untuk memperluas pasar mereka, mengakses informasi, dan mendapatkan pelatihan yang diperlukan untuk berkembang.

Keempat, Pelayanan Publik yang Lebih Baik, Internet yang lebih stabil dan cepat dapat membantu pemerintah dalam memberikan layanan publik yang lebih efisien. Misalnya, telemedicine dapat diterapkan di daerah-daerah yang kekurangan fasilitas kesehatan, dan layanan administrasi publik bisa dilakukan secara online, mengurangi birokrasi dan meningkatkan efisiensi.

Kelima, Inovasi dan Teknologi, Kehadiran Starlink dapat mendorong inovasi di bidang teknologi informasi dan komunikasi. Ini bisa menciptakan ekosistem yang lebih kompetitif dan dinamis, serta mendorong perusahaan-perusahaan lokal untuk meningkatkan kualitas layanan mereka.

Secara keseluruhan, jika diimplementasikan dengan baik, kehadiran Starlink di Indonesia bisa menjadi pendorong utama dalam percepatan transformasi digital, mengurangi kesenjangan digital, dan membawa manfaat signifikan bagi masyarakat luas.

Lebih daripada itu, dalam jangka  menengah dan panjang, kehadiran internet Starlink dapat menekan APBN untuk membiayai pembangunan infrastruktur telekomunikasi. Sebab, pengadaan sistem internet berbasis satelit ala Starlink jauh lebih mudah, lebih murah dan cepat dibandingkan pembangunan kabel fiber optik atau jaringan broadband. 

Meningkatkan Competitiveness

Sebagaimana disebutkan di atas, kehadiran Starlink dapat menimbulkan persaingan yang semakin ketat di antara perusahaan jasa layanan internet di Indonesia. 
Kancah persaingan yang sehat dapat melahirkan kemampuan untuk bersaing yang makin baik.

Studi yang dilakukan Avia Enggar Tyasti dan Dahliyah (2022) mengungkapkan bahwa perusahaan industri telekomunikasi di Indonesia saat ini saling bersaing dalam menawarkan barang atau pun jasa, termasuk layanan internet. 

Dalam beberapa tahun terakhir, Indosat dan Telkomsel menduduki dua peringkat teratas dalam hal jumlah pelanggan dan nilai laba. Namun, berdasarkan analisis tingkat pencapaian sigma DPMO (Defecta Per Million Opportunites) atau Cacat per Satu Juta Kesempatan, baik Indosat maupun Telkomsel, nilainya  masih  jongkok.

Nilai DPMO yang paling tinggi dari dimensi ansurance dengan target kepuasan tertinggi adalah 6 (six sigma). Namun, hasil DPMO Indosat hanya 2,43 Telkomsel 2,24, serta berada di level 2-sigma. Nilai tersebut masih jauh di bawah target yaitu 3,4 DPMO dan 6-sigma.

Hal tersebut mengindikasikan bahwa kualitas assurance dan tingkat kepuasan pelanggan terhadap provider internet di Indonesia, masih rendah. Salah satunya karena jaringan internet  tak stabil dan sering lemot tapi tarifnya terlalu tinggi.

Sebaiknya, Starlink mengklaim jasa internet yang disediakannya sangat cepat. Kecepatan dowonload  bisa mencapai 220 Mbps, sedanglan upload bisa mencapai 50 Mbps. Jadi, kehadiran Starlink dapat memacu provider internet yang sudah ada di Indonesia untuk melakukan strategi efisiensi, menyediakan internet yang cepat dan murah,  sehingga bisa menjadi lebih kompetitif.

Pada sisi lain, kehadiran internet Starlink yang berkecepatan tinggi dapat mendukung Indonesia untuk mengembangkan seluruh faktor produksi supaya memiliki produktivitas yang tinggi, tapi dengan biaya kompetitif. Dengan begitu, kehadiran jaringan internet yangi kuat dapat mendongkrak tingkat daya saing Indonesia dalam kancah global. Sebab,  Global Competitivenes Indeks (GCI) Indonesia masih di peringkat ke 34, tahun 2023 kemarin.

Mempercepat Pembangunan Wilayah 3T

Salah satu dimensi penting pembangunan bangsa kita adalah wilayah 3T, yaitu wilayah yang masih belum maju (tertinggal) karena belum mendapat anggaran pembangunan yang sebanding dengan daerah lainnya. 
Secara geografis daerah-daerah tersebut berada di poisisi terdepan atau  di garis terluar wilayah Indonesia. 

Berdasarkan Perpres No.63 Tahun 2022 tentang Penetapan Daerah Tertinggal Tahun 2020-2024, ada 62 kabupaten yang masuk dalam kategori 3T, tersebar dari Provinsi Papua hingga Aceh.

Salah satu masalah utama yang melilit wilayah 3T adalah buruknya aksesibilitas. Hal ini karena wilayah 3T terletak di daerah pegunungan atau di pulau terpencil, jauh dari kota. 

Daerah ini sulit dijangkau karena infrastruktur transportasi yang belum tersedia, atau dalam kondisi jelek. Akibatnya mobilitas penduduk dan barang menjadi sulit sehingga biaya logistik menjadi mahal.

Kondisi geografis seperti itu menyulitkan pembangunan infrastruktur telekomunikasi. Akibatnya, warga di wilayah 3T pun tak memiliki akses ke layanan telekomunikasi dan internet. 

Masalah besar lainnya adalah akses ke pendidikan yang sulit. Selain itu, kualitas pendidikan yang ada pun relatif rendah karena tidak didukung oleh guru, gedung sekolah dan fasilitas pendidikan yang minim. Biasanya kurikulum yang diterapkan di wilayah ini tidak relevan dan anak-anak kurang termotivasi untuk belajar.

Selain itu warga di daerah 3T memiliki kualitas kesehatan yang rendah karena fasilitas dan tenaga kesehatan yang tidak memadai.  Juga, karena sanitasi yang buruk dan  kurangnya pasokan air bersih. Dampak lanjutannya, di daerah 3T terjadi banyak kasus kematian ibu dan anak, gizi buruk, dan penyakit menular. 

Masalah serius lainnya adalah kemiskinan dan ketimpangan sosial. Ini terjadi karena sistem sosial dan ada yang feodal, produktifitas yang rendah di sektor pertanian, perikanan dan pariwisata. 
Mereka juga terkendala untuk mengembangkan usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) karena tidak memiliki akses ke modal, pasar, teknologi dan informasi.

Ketiadaan internet  juga menghambat pembangunan ekonomi dan pariwisata serta akses ke sumber daya yang penting. Internet berbasis satelit yang disediakan  Starlink terbukti mampu menyediakan koneksi internet yang cepat dan stabil di daerah terpencil, baik di Amerika Serikat, Kanada, Benua Afrika dan pulau-pulau terpencil di Pasifik. 

Di sana, internet Sartlink telah memudahkan pelayanan kesehatan dan pendidikan secara virtual. Internet Starlink juga membuat desa-desa terpencil itu  terhubung dengan dunia dan budaya global. Melalui internet  mereka dapat mempromosikan keindahan alam dan budaya lokal kepada warga global, sehingga membuka peluang bagi kemajuan industri pariwisata.

Pengalaman di berbagai negara mendayagunakan Stralink dapat menjadi contoh untuk diterapkan di wilayah 3T Indonesia. Internet yang cepat dan stabil akan membuat warga di daerah 3T mengakses pelayanan kesehatan dan pendidikan secara virtual. Internet Starlink dapat membuat mereka dapat mengakses modal, pasar dan pengetahuan untuk mengembangkan UMKM. 

Dengan Starlink mereka dapat mengenal budaya dan bahasa global, sekaligus memperkenalkan budaya lokal kepada dunia. Dengan kata lain internet Starlink dapat mendukung pertumbuhan industri pariwisata di daerah 3T. 

Jadi, saatnya kita berlomba dengan negara lain, mengotimalkankan internet berbasis satelit ala Starlink untuk meningkatkan daya saing kita,  dan memajukan daerah 3T dan menjadikan Indonesia negara maju.

***

*) Oleh : Mubasyier Fatah, Koordinator Bidang Ekonomi, Pengurus Pusat Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (PP ISNU) dan Pelaku Ekonomi di Bidang Teknologi Informasi.

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi timesindonesia.co.id

*) Kopi TIMES atau rubrik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

*) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]

*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim apabila tidak sesuai dengan kaidah dan filosofi TIMES Indonesia.

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.

Advertisement



Editor : Hainorrahman
Publisher : Sholihin Nur

TERBARU

Togamas - togamas.com

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES