Kopi TIMES

Pendidikan Pancasila: Membangun Karakter Melalui Konten Kreator

Minggu, 02 Juni 2024 - 13:57 | 18.85k
Hery Setyawan, M.Pd., Guru di SMPN 42 Jakarta dan Guru Penggerak Angkatan 8 Jakarta Utara
Hery Setyawan, M.Pd., Guru di SMPN 42 Jakarta dan Guru Penggerak Angkatan 8 Jakarta Utara

TIMESINDONESIA, JAKARTA – Pendidikan Pancasila telah lama menjadi bagian integral dari kurikulum pendidikan di Indonesia. Perubahan kurikulum di Indonesia selalu mewarnai setiap istilah yang digunakan dalam mata pelajar ini. Mulai dari pendidikan moral pancasila sampai pendidikan pancasila seperti sekarang ini menjadi sebuah dinamika yang tidak terpisahkan oleh kita sebagai guru pendidikan pancasila.

Ada hal yang lebih menarik dibandingkan dengan perubahan istilah yang digunakan dalam mata pelajaran pendidikan pancasila yaitu bagaimana peran guru yang mengajar di era teknologi seperti sekarang ini. Perkembangan teknologi yang begitu pesat mengharuskan guru pendidikan pancasila mengambil peran lebih dalam upaya membentengi siswa dalam pengaruh negatif dalam perkembangan teknologi tersebut. Selain itu guru pendidikan pancasila juga bisa memanfaatkan perkembangan teknologi dalam upaya memberikan sebuah pembelajaran yang menarik di kelas.

Namun, dengan berkembangnya teknologi dan penetrasi internet yang semakin luas, peran guru Pendidikan Pancasila berubah secara signifikan. Kita tidak hanya menjadi pengajar di kelas, tetapi juga bisa belajar menjadi seorang konten kreator yang dapat memberikan pembelajaran yang menarik dan harapan nya dengan menjadi konten kreator ini guru dapat membentuk karakter siswa melalui platform digital.  

Kita semua mengetahui begitu banyak platform pembelajaran yang bis akita gunakan. Apalagi mata pelajaran pendidikan pancasila ini dikenal sebagai mata pelajaran yang monoton sehingga menuntut guru untuk bertransformasi menjadi konten kreator dan dampaknya terhadap pembentukan karakter generasi muda.

Pertama-tama, penting untuk memahami peran guru Pendidikan Pancasila dalam pendidikan karakter. Mereka bertanggung jawab tidak hanya untuk mentransfer pengetahuan tentang nilai-nilai Pancasila, tetapi juga untuk membimbing siswa dalam menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Dengan peran ini, guru tidak hanya menjadi penyampai informasi, tetapi juga menjadi model dan pemandu bagi siswa mereka.

Namun, dengan munculnya media sosial dan platform konten lainnya, guru memiliki kesempatan baru untuk mencapai siswa di luar kelas. Mereka dapat membuat konten edukatif yang menarik tentang nilai-nilai Pancasila, seperti video, blog, podcast, dan lainnya. Dengan menggunakan bahasa dan format yang relevan dengan generasi muda, guru dapat membuat materi yang lebih mudah dipahami dan diakses oleh siswa mereka.

Salah satu keuntungan utama dari pendekatan ini adalah bahwa konten dapat diakses kapan saja dan di mana saja oleh siswa. Ini memungkinkan mereka untuk belajar secara mandiri dan memperdalam pemahaman mereka tentang nilai-nilai Pancasila tanpa terbatas oleh waktu dan tempat. Selain itu, konten digital juga dapat lebih interaktif, memungkinkan siswa untuk terlibat secara aktif dalam proses pembelajaran.

Namun, ada juga tantangan yang harus dihadapi oleh guru dalam berperan sebagai konten kreator. Salah satunya adalah kemampuan teknis untuk membuat konten yang menarik dan berkualitas. Meskipun banyak guru memiliki pengetahuan tentang nilai-nilai Pancasila, tidak semua dari mereka memiliki keterampilan dalam produksi konten digital. Oleh karena itu, diperlukan pelatihan dan dukungan yang memadai untuk membantu guru mengembangkan keterampilan ini.

Hal ini mengharuskan guru pendidikan pancasila belajar dan melek teknologi agar dapat menyajikan sebuah konten pembelajaran yang menarik bagi siswa. Selain itu dukungan alat juga sangat dibutuhkan oleh guru pendidikan pancasila dalam menyajikan materi pembelajaran karena teknologi tanpa alat tidak dapat digunakan dengan baik.

Selain itu, guru juga perlu memastikan bahwa konten yang mereka buat sesuai dengan standar pendidikan dan nilai-nilai moral yang diinginkan. Mereka harus berhati-hati dalam memilih topik, bahasa, dan pendekatan yang digunakan dalam konten mereka untuk memastikan bahwa pesan yang disampaikan sesuai dengan tujuan pendidikan Pancasila.

Namun, meskipun ada tantangan, peran guru sebagai konten kreator juga membawa banyak peluang. Mereka dapat menciptakan konten yang lebih dinamis dan menarik untuk menarik minat siswa, serta memperluas jangkauan dan dampak pendidikan Pancasila di masyarakat secara keseluruhan.

Dalam mengakhiri artikel ini, penting untuk diingat bahwa pendidikan Pancasila bukanlah hanya tentang mentransfer pengetahuan, tetapi juga tentang membentuk karakter dan nilai-nilai moral. Dengan menjadi konten kreator, guru memiliki kesempatan baru untuk mempengaruhi dan membentuk generasi muda, tidak hanya di dalam kelas, tetapi juga di dunia digital yang semakin terhubung.

***

*) Oleh : Hery Setyawan, M.Pd., Guru di SMPN 42 Jakarta dan Guru Penggerak Angkatan 8 Jakarta Utara.

*)Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

*) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

*) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]

*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.

Advertisement



Editor : Hainorrahman
Publisher : Ahmad Rizki Mubarok

TERBARU

Togamas - togamas.com

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES