Kopi TIMES

All Eyes On Rafah

Rabu, 05 Juni 2024 - 14:00 | 56.92k
Oleh: Dr. Kukuh Santoso, M.Pd, Dosen Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Islam Malang (UNISMA).
Oleh: Dr. Kukuh Santoso, M.Pd, Dosen Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Islam Malang (UNISMA).

TIMESINDONESIA, MALANG – Rafah jadi target serangan mematikan Israel. Tempat perlindungan sekaligus kota terakhir di Jalur Gaza itu mendapat perhatian seluruh dunia. Baru-baru ini tentara Israel meluncurkan dua serangan mematikan ke Rafah, Minggu-Selasa (26-28/5/2024).

Serangan itu memakan korban hingga 71 orang tewas termasuk wanita dan anak-anak serta 249 lainnya luka-luka. Lagi-lagi pihak Israel berdalih bila Rafah menjadi benteng terakhir pejuang Hamas. Kenyataannya penduduk sipil lah yang terbunuh dalam peristiwa yang mengiris hati dunia itu, hingga viral seruan All Eyes on Rafah di media sosial tidak hanya Indonesia, tapi juga dunia.

Slogan 'All Eyes on Rafah' yang berarti 'Semua mata tertuju pada Rafah' merupakan seruan bagi masyarakat dunia untuk tidak acuh terhadap genosida yang terjadi di Gaza. Seluruh dunia diminta untuk memantau perkembangan di Rafah, yang merupakan tempat pengungsian bagi warga Gaza yang menjadi korban. Bukan kalimat biasa, ini adalah sebuah panggilan kemanusiaan yang diserukan usai tragedi di Rafah, Gaza. Di media sosial Instagram, seruan ini sudah dipakai hingga 30 juta pengguna di seluruh dunia.

INFORMASI SEPUTAR UNISMA DAPAT MENGUNJUNGI www.unisma.ac.id

Rafah merupakan kota terakhir yang terletak di ujung selatan Jalur Gaza. Kota ini berbatasan langsung dengan Mesir dan terbagi menjadi dua bagian. Separuh bagian timur ada di wilayah Gaza dan separuh bagian barat ada di Mesir. Israel menggambarkan Rafah sebagai benteng terakhir Hamas usai perang berbulan-bulan.

Menteri Pertahanan Israel Yoav Gallant mengatakan bila Israel tidak punya pilihan selain bertindak di Rafah. Serangan akhirnya diluncurkan dan tidak menutup kemungkinan ada invasi lebih luas ke kota tersebut. Seruan "All Eyes On Rafah" menjadi salah satu ungkapan kemarahan warga online. Banyak kalangan mengunggah konten yang berkaitan dengan "All Eyes On Rafah" melalui media sosial masing-masing.

Tujuan dari aksi di jagat maya ini semata-mata untuk menarik perhatian seluruh dunia terhadap kekejaman yang terjadi di Gaza, termasuk Rafah. Seruan ini bukan hanya datang dari netizen Indonesia. "All Eyes On Rafah" juga menggema di Eropa, Australia dan berbagai belahan dunia. Seperti dikabarkan Forbes, seruan "All Eyes On Rafah" datang dari para aktivis dan kelompok kemanusiaan.

Sebagai sesama umat muslim, tentunya kita ingin membantu saudara yang ada di Palestina. Namun, dengan segala keterbatasan yang ada, kita hanya bisa mengirimkan doa kepada rakyat Palestina agar mereka selalu diberikan kekuatan dalam mengahadapi para zionis.

Qunut nazilah menjadi salah satu doa yang dapat dipanjatkan umat muslim saat tengah menghadapi isu-isu berat dalam kehidupan. Contohnya seperti masalah keamanan, pertanian, bencana, hingga krisis kemanusiaan. umat Islam di Indonesia telah sejak lama memanjatkan doa qunut nazilah untuk dibaca setiap salat lima waktu dalam rangka mendoakan Palestina. Qunut nazilah dipercaya dapat memperkuat batin antar umat Islam meski tidak pernah bertemu. ***

INFORMASI SEPUTAR UNISMA DAPAT MENGUNJUNGI www.unisma.ac.id

*) Penulis: Dr. Kukuh Santoso, M.Pd, Dosen Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Islam Malang (UNISMA).

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi timesindonesia.co.id

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.

Advertisement



Editor : Dhina Chahyanti
Publisher : Rochmat Shobirin

TERBARU

Togamas - togamas.com

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES