Kopi TIMES

Melayanai Duyufur Rahman dengan Cinta

Kamis, 06 Juni 2024 - 16:22 | 56.26k
Oleh: Ruchman Basori, Pemantau Haji dan Inspektur Wilayah II Inspektorat Jenderal Kementerian Agama RI
Oleh: Ruchman Basori, Pemantau Haji dan Inspektur Wilayah II Inspektorat Jenderal Kementerian Agama RI

TIMESINDONESIA, JAKARTA – "Peluklah dan bopong seperti layaknya nenek sendiri, ayo Mas", kata seorang petugas perempuan kepada temannya, yang sedang membantu seorang nenek turun dari bus, sesampai dari Bandara Jeddah ke hotel di sebuah sektor.

“Nenek jangan takut ya, ada saya. Nenek akan aku temani mencari kamar bergabung dengan teman-teman nenek”, kata seorang Pemantau Haji, ketika menjumpai seorang nenek, sedang menangis karena tersesat mencari kamarnya. Di sebuah hotel di Madinah, tempat jamaah haji Indonesia tinggal.

Sementara itu, kesibukan petugas haji, membantu tamu Alloh (Duyufur Rahman), juga terlihat di Terminal Bus Sholawat Syib 'Amir dan Jiad. Mengarahkan nomor bus, membantu jama’ah yang sudah beberapa lama terpisah dari rombongan, menaikan dan menurunkan jama’ah dan problem-problem lainnya.

Sebuah pemandangan cinta. Cinta seorang hamba dengan hambanya, tanpa melihat status sosial. Cinta seorang petugas haji dengan jamaahnya, yang akan berbuah kebahagiaan karena bisa beribadah di tanah suci dengan khusyu’ dan nantinya mencapai haji yang mabrur. 

Kasih sayang yang terbangun karena tugas suci dan mulia. Menjalani takdir Tuhan menjadi petugas haji, yang ditunjuk oleh Kementerian Agama. Tentu secara fisik dan mental sudah dipersiapkan, dengan pelbagai resiko yang akan dihadapinya. Orang yang bertugas telah melalui seleksi yang ketat, dengan kriteria tertentu dan pelatihan menjadi petugas haji yang tidak mudah.

Tulisan singkat ini akan sedikit memotret para petugas haji Indonesia yang telah memerankan diri menebarkan cinta-kasih di kota Makkah dan Madinah, dalam konstruksi penyelenggaraan ibadah haji.

Cinta dan Kemanusiaan

Pemerintah Arab Saudi, telah menetapkan kuota haji tahun 1445 H/2024 M untuk jemaah haji Indonesia sebesar 221.000 jemaah, terdiri atas 203.320 jemaah haji reguler, dan 17.680 jemaah haji khusus. Selain itu, Indonesia juga mendapat kuota tambahan sebesar 20.000 jemaah.

Tentu tidak mudah untuk mengawal agar penyelengaraan haji sukses dan memuaskan para jamaah. Dari tahun ke tahun penyelenggaraan haji semakin baik dan berkualitas. Data yang di rilis Badan Pusat Statistik, indeks kepuasan jemaah terhadap pelayanan ibadah haji tahun 1443 Hijriah/2022 Masehi naik 4,54 poin menjadi 90,45 dari 85,91 pada 2019.

Setidaknya para petugas melakukan layanan PPIH Arab Saudi, yang meliputi layanan, akomodasi, konsumsi, transportasi, bimbingan ibadah dan pengawasan KBIHU, SISKOHAT, kedatangan dan keberangkatan, Media Center Haji, Petugas PKPPJH, pelindungan Jemaah, pengawasan ibadah haji khusus, layanan jemaah lanjut usia dan penyandang disabilitas, kesekretariatan dan layanan kesehatan.

Elton Mayo dalam teorinya yang menjelaskan hubungan antar manusia, menegaskan bahwa budaya kerja yang membuat individu merasa dihargai adalah yang mampu menghadirkan rasa hangat dan kenyamanan. Karena itu, petugas akan lebih termotivasi dalam bekerja karena adanya perhatian secara pribadi, apresiasi dan dilibatkan dalam kelompok.

Abraham Maslow percaya bahwa manusia tergerak untuk memahami dan menerima dirinya sebisa mungkin. Teorinya tentang Hierarchy of Needs menyatakan bahwa manusia mempunyai lima macam kebutuhan, antara lain Psychological need, safety and security needs, love and belonging needs, esteem needs, dan self actualization. Pelayanan dengan pendekatan humanistik harus mempertimbangkan teori kebutuhan ala Abraham Maslow tersebut.

Sejalan dengan itu Aloni (2014) mengatakan bahwa pendekatan kemanusiaan (humanistic) mengutamakan pengembangan, kesejahteraan dan martabat manusia sebagai akhir dari seluruh pemikiran dan tindakan utamanya. Pemikiran dan tindakan ini melebihi batas dari cita-cita dan nilai-nilai agama, ideologi dan kebangsaan.

Pendekatan humanistik dalam konteks pelayanan haji adalah berkomitmen untuk memanusiakan manusia, termasuk relasi antara jamaah dengan petugas dengan semangat, kasih dam cinta. Menghormati otonomi moral keberagaman. Memberdayakan petugas untuk mengaktualisasikan potensi-potensi manusiawinya dan menjalani kehidupan mandiri, berkecukupan dan mencukupi.

Dalam banyak literatur yang mu’tabar, Ahli Psikologi memaknai cinta sebagai proses aktualisasi diri yang dapat membuat orang melahirkan beragam tindakan kreatif dan produktif. Sementara Ahli Sosiologi memaknai cinta sebagai interaksi antara laki-laki dan perempuan tanpa memandang status sosial. 

Pendekatan tugas yang hanya berorientasi pada administratif dan pelayanan formal akan terasa kaku (rigid). Oleh karena itu pendekatan cinta dan kemanusiaan menjadi keharusan. Karena sejatinya para jamaah, terutama Lansia adalah orang tua kita dan saudara yang sedang menaruhkan diri naik kelas, mencapai derajat haji mabrur.

Kemabruran seorang jamaah tentu tidak hanya di ukur dari gugurnya pelaksanaan rukun haji tetapi lebih dari itu adalah soal spirit kemanusiaan dalam nilai-nilai haji. Maka peran petugas yang menebarkan cinta dan kemanusiaan menjadi dambaan.

Ketulusan menjadi kata kunci. Jamaah yang berasal dari latar belakang geografis, social, ekonomi dan keagamaan di tanah air, harus secara adil dilayani dengan baik. Karena sejatinya para petugas haji adalah membawa misi keagamaan yang rahmatan lil alamin, misi kebangsaan dan kemanusiaan.

Nama baik bangsa akan dipertaruhkan. Sudah jamak dikenal, bahwa jamaah haji Indonesia adalah jamaah haji yang baik, ramah, dan disiplin. Itu tidak lepas dari tata kelola penyelenggaraan haji yang terus meningkat dari tahun  ke tahun. Momentum keberpihakan kepada jamaah haji lansia telah ditunjukan Kemenag di bawah Gus Men, Yaqut Cholil Qaumas.

Kita berharap para petugas diberikan kekuatan untuk melayani tamu Alloh dengan baik, layaknya melayani saudara dan orang tuanya sendiri. Menjadi petugas haji yang melayani dengan cinta adalah keniscayaan yang akan mendukung sukses haji di masa akhir pemerintahan ini. 

***

*) Oleh : Ruchman Basori, Pemantau Haji dan Inspektur Wilayah II Inspektorat Jenderal Kementerian Agama RI.

*)Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

*) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

*) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]

*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.

Advertisement



Editor : Hainorrahman
Publisher : Sofyan Saqi Futaki

TERBARU

Togamas - togamas.com

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES