Kopi TIMES

Mengembalikan Orisinalitas Agama

Kamis, 13 Juni 2024 - 19:31 | 21.39k
Eddy Aqdhiwijaya, Ketua Gerakan Islam Cinta (GIC)
Eddy Aqdhiwijaya, Ketua Gerakan Islam Cinta (GIC)

TIMESINDONESIA, SURABAYA – ​SALAH satu persoalan global yang masih menjadi PR masyarakat dunia yang belum terselesaikan hingga kini adalah mengatasi konflik agama. Jenis konflik yang satu ini memang amat mudah meretakkan struktur kebhinekaan masyarakat maupun bangsa, bahkan dapat memicu terjadinya kekerasan dalam skala yang lebih masif. 

Dunia mengenal istilah hate crime, sejak berbagai teror yang diduga didalangi oleh oknum-oknum bersenjata pembawa-bawa nama agama merusak dan menghantui ketenteraman masyarakat. Nama agama dikambinghitamkan setiap kali terjadi berbagai kerusuhan dan teror pengeboman, yang secara kejam telah merenggut banyak nyawa.

​Beberapa contoh kasus beberapa tahun lalu, yang hingga kini masih fenomenal dibicarakan di antaranya adalah teror yang dilakukan ISIS (yang mengklaim sebagai Negara Islam) di Paris pada November 2015 lalu. Setidaknya 128 orang meninggal dan 180 orang terluka dalam aksi penembakan dan serangan bom di kota tersebut. Tak lama setelah itu, terjadi serangan bom susulan di Bandara Brussels, Belgia, pada 22 Maret 2016 yang dilakukan oleh pelaku yang sama pada teror sebelumnya di Paris.

​Di belahan negara lainnya, pada 27 Maret 2016, sedikitnya 65 orang tewas dan 300 korban luka-luka akibat serangan bom bunuh diri oleh Taliban (dari Faksi Jamaat ul-Ahrar) yang terjadi di luar Taman kota sebelah Timur Pakistan, Lahore. Bom meledak di dekat tempat bermain anak-anak yang dipenuhi keluarga, dimana sebagian besar dari mereka adalah umat Kristiani yang sedang merayakan hari Minggu Paskah.

​Konflik agama bahkan menyentuh Indonesia yang semboyannya Bhineka Tunggal Ika. Pada Jumat malam, 29 Juli 2016, masyarakat Indonesia dihebohkan dengan kerusuhan yang terjadi di Tanjung Balai, Sumatera Utara. Kerusuhan yang diduga bermula dari protes salah satu warga akan volume pengeras suara di salah satu masjid ini pada akhirnya malah menimbulkan amukan massa. Hal tersebut akhirnya berujung pada tindakan massa yang merusak dan membakar sejumlah vihara.

​Dengan menjabarkan beberapa contoh konflik agama yang telah disebutkan di atas, tak pelak fenomena tersebut menimbulkan kesan bahwa agama memiliki wajah yang paradoks. Mengapa paradoks? Hal ini dijelaskan Sindhunata, dalam pengantarnya atas buku versi terjemahan dari When Religion Becomes Evil, karya Charles Kimball. Menurutnya, akan ada situasi yang paradoks di saat kita membicarakan tentang agama. 

Sejatinya, agama menawarkan jalan keselamatan, mengajarkan cinta dan jalan kebahagiaan manusia. Akan tetapi, realita yang terjadi sekarang justru menampilkan hal yang sebaliknya. Agama malah seringkali dilabeli dengan sifat kekerasan, kerusuhan, dan permusuhan.

Ketika Kimball mengomentari pembajakan pesawat yang berujung pada hancurnya dua menara dari gedung World Trade Center (WTC), pada 2001, dia mengatakan: “Tragedi 11 September 2001 seakan datang sebagai pesan dan sasmita awal, bahwa agama bakal membawa permusuhan dan kekerasan, dan atas nama agama, orang seakan-akan diperbolehkan untuk meniadakan sesamanya. Kini, atas nama agama, orang bisa saling menghancurkan.”

Melalui pernyataan Shindunata tersebut, kita dapat memahami mengapa konflik agama dapat berdampak pada retaknya atmosfer perdamaian dan keharmonisan. Pada umumnya, agama dikaitkan dengan aspek keyakinan kepada Tuhan sebagai sumber kebenaran mutlak. Hal tersebut kemudian menjadi dasar yang mutlak atas penilaian sah dan tidaknya suatu hal.

Oleh karena itu, pemahaman tertentu seseorang atas agama yang diyakininya akan memotivasinya untuk melakukan suatu hal sebagai suatu perwujudan yang ia pikir harus dan benar. Hal demikian berimplikasi bahwa mengakarnya kesadaran seseorang dalam memahami pesan-pesan agamanya, dapat menjadi faktor penentu bagi seseorang untuk memilih tindakan baik yang mengandung kekerasan dan intoleransi, atau toleran dan penuh cinta.

Sejak tahun 2015, saya dan banyak pihak dari berbagai kalangan yang terlibat bersama Gerakan Islam Cinta (GIC) yang terus konsisten sejak awal pendiriannya pada tahun 2012 hingga kini, berupaya memaparkan mengenai wajah agama yang pada orisinalitasnya diliputi cahaya cinta dan jauh dari aspek-aspek kekerasan, khususnya tentang agama Islam yang pada era ini acapkali diatribusikan sebagai agama teroris. Dengan mengambil perspektif agama cinta dari para mistikus Islam, tulisan saya ini, berupaya menghadirkan kembali wajah agama yang dilimpahi akan cinta dan kasih sayang.


Agama itu Cinta

Apalagi agama itu kalau bukan cinta? Kata Imam Ja’far Assadiq, cicit Sang Nabi Cinta, Muhammad Saw. Cinta ada dalam agama. Nabi mengatakan cinta adalah asas (ajaran agama)-ku. Cendekiawan Muslim Haidar Bagir selalu menegaskan bahwa bukan agama kalau bukan cinta, bahkan agama itu berawal dari cinta dan berakhir dengan cinta. Dalam agama A-Z nya adalah cinta. Tanpa cinta, agama akan kehilangan ruh-nya sebagai rahmat bagi alam semesta. 

Dalam buku karyanya, Semesta Cinta, Haidar Bagir mengatakan bahwa menurut Ibn ‘Arabi, sesungguhnya cinta adalah sifat hakiki Allah. Dia menekankan dalam al-Quran bahwa: Dia telah mewajibkan atas Diri-Nya kasih sayang (QS. Al-An’am:12).

Sejalan dengan itu, sifat atau nama-Nya sebagai Pembalas-dalam makna sifat yang melaluinya Dia menghukum orang-orang berdosa-justru hanya muncul sekali dalam al-Qur’an. Sementara sifat sebaliknya-Maha Pengampun- berulang sekitar seratus kali. “Allah adalah Yang Pemaaf, Yang Pencinta, Sang Pemilik Arasy. (QS. Al-Buruuj: 14-15).

Dalam ayat yang lain, Allah berfirman: “Dia lah Sang Pemilik Arasy. (QS. Thaha:5). Menurut Haidar Bagir, lebih jauh lagi, di Arsy-Nya itu terpatri firman-Nya, “Rahmat-Ku menundukkan murka-Ku.” Dengan kata lain, bahkan murka-Nya adalah manifestasi kasih sayang-Nya, karena tak ada yang tidak diliputi kasih sayang-Nya. Hal ini dipertegas oleh firman-Nya: “Kasih sayang-Ku meliputi apa saja”. (QS. Al-A’raf:156)

​Dengan demikian, agama cinta yang dilantunkan Ibn ‘Arabi tampak berupaya menampilkan betapa seluruh sifat/nama-nama Tuhan sesungguhnya adalah baik-itulah sebabnya kita mengenalnya dengan sebutan “Nama-nama yang  baik” (al-Asma al-Husna).

Bahkan pada sifat-sifat-Nya yang keras, menurut Haidar Bagir, bahwa dalam semua kekerasan-Nya itu, hakikatnya Allah hanya menginginkan kebahagiaan untuk makhluk-Nya. Seluruh prosesnya dalam kehidupan manusia yang berjalan dalam bentuk ketetapan-Nya akan selalu menjadi kebaikan bagi manusia, kendatipun Ia datang dalam “kemasan” murka-Nya dalam bentuk kesulitan, ujian, cobaan, bahkan musibah.

***

*) Oleh : Eddy Aqdhiwijaya, Ketua Gerakan Islam Cinta (GIC).

*)Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

*) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

*) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]

*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.

Advertisement



Editor : Hainorrahman
Publisher : Sholihin Nur

TERBARU

Togamas - togamas.com

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES