Kopi TIMES

Menyelami Politik Uang dalam Kompetisi Politik

Jumat, 14 Juni 2024 - 09:42 | 14.12k
HM Basori M.Si, Direktur Sekolah Perubahan, Training, Research, Consulting, and Advocasy.
HM Basori M.Si, Direktur Sekolah Perubahan, Training, Research, Consulting, and Advocasy.

TIMESINDONESIA, JAKARTA – Entah siapa yang memulai, terus entah siapa yang salah, di negeri se elok dan sebagus Indonesia ini rakyatnya begitu bernafsu dan senang kalau urusan pilih memilih pasti bertanya uangnya ada apa tidak, berapa, ambil ke siapa, kapan? Namun inilah realita politik. Politik sebenarnya sangat mulia dan penting, karena semua kebijakan pemerintah dilakukan melalui proses politik. Namun saat semua dihitung dengan uang, maka jadinya semua kacau. 

Keluguan rakyat dan kejujuran rakyat merasa dikhianati oleh wakilnya di legislatif dan eksekutif yang ternyata menampilkan hidup mewah, penampilan perlente, mobil bagus dan melakukan KKN dengan terbuka. Perilaku pejabat selalu dipantau dan dinilai oleh rakyat apapun itu, maka setelah dia tahu apa yang mereka lakukan tidak benar, pelan pelan kepercayaan itu hilang. 

Rakyat melihat dan memahami jika urusan mendapatkan jabatan dan kekuasaan mulai Pilkades, pilihan Anggota  DPR-DPRD-DPD, Bupati dan semua jabatan di birokrasi kuncinya adalah uang. Mereka mendapatkan jabatan dengan membeli, terus ingin mengembalikan modal, dari modal yang dikeluarkan berharap mendapat tambahan atau untung. Pendapat seperti itu sudah mendarah dan men daging dalam kehidupan masyarakat kita. 

Cara Berfikir Menentukan Pilihan 

Dalam pilihan apa saja, masing masing orang pasti mendapatkan amplop minimal 2 orang bahkan lebih. Jika hak pilihnya hanya satu, maka mereka mesti membagi suara dengan rata, atas nama kemanusiaan, kasihan dan perasaan tidak enak. Program yang diberikan oleh anggota DPRD incumbent tidak menjadi pertimbangan strategis. Karena realitanya dia dapat amplop lebih dari satu, yang memberi harus diberi dukungan sebagai bentuk tanggungjawab. 

Kecuali calonnya memang sangat baik, maka jurus dewa mabuknya adalah mendukung orang yang telah berbuat dan memang loyal dengan pemilihnya. Uang dalam setiap pemilihan telah menjadi panglima, maka banyak calon yang kecewa bahkan gagal karena pemilih memang sudah cerdas. Begitukah psikologi pemilih saat ini. 

Teori politik dan strategi konsultan pemenangan tidak mampu merubah pola pikir masyarakat. Konsultan pemenangan hanya memetakan keinginan pemilih, memetakan kecenderungan memilih dan memastikan dia memberikan dukungan dengan pasti saat amunisi diberikan.

Politik beserta daya dukungan lainnya sudah menjadi sebuah komuditas (seperti barang dagangan) yang bisa dijual dan dibeli. Maka keroposnya idealisme sebuah kelompok masyarakat sangat membahayakan kelangsungan demokrasi yang sebenarnya sangat baik dalam sebuah kompetisi politik. 

Kekecewaan Politik

Kalau kita mau menyelami pikiran rakyat mengapa cara berpikirnya seperti itu? Semua karena ada yang di tiru, diajari tidak jujur dan diajak bersama sama membohongi diri sendiri. Perilaku politik rakyat tersebut sebenarnya buah kekecewaan terhadap para wakil yang mestinya memberikan contoh dan tauladan yang baik. 

Maka, kita perlu waspada dan berhati hati, kekecewaan politik akan melahirkan solidaritas bersama untuk melawan kebijakan yang merugikan kepentingan mereka. Desa memiliki kekuatan riil untuk mengkonsolidasikan agenda dan gerakan massa. 

Teori Mao Zedong yang dilakukan oleh rakyat kecil Partai Komunis Cina untuk melawan penjajahan Jepang, semua dilakukan dengan diam diam baik aspek ekonomi maupun lainnya terkonsolidasi dengan baik dan silen. Setelah penggalangan kekuatan mereka siap, maka mereka melawan kekuatan yang dianggap telah menjajah kemerdekaan rakyat kecil. 

Gerakan Mao awalnya usaha bersama mengusir penjajah Jepang, namun karena keroposnya aparat yang akut, maka sebagian aparat diam diam membelot mendukung  gerakan rakyat menuju perubahan yang lebih baik. Akhirnya bangkitlah gerakan revolusioner untuk melakukan reformasi total terhadap pemerintahan yang telah rusak. 

Kita semua berharap negeri ini baik baik saja, namun perilaku korup dan menjadikan politik sebagai komoditas memang sangat berbahaya untuk masa depan bangsa. Maka mulai dari diri kita, saatnya berfikir positif dan berbuat baik pada bangsa dan negara untuk kelangsungan NKRI. Semoga memberikan pencerahan kita semua 

Potret Politik Uang Dalam Pilkada 2024

Nuansa politik uang dalam Pilkada 2024 kelihatannya belum bergeser dengan Pemilu Legislatif Tahun 2024. Hal itu bisa kita dengar dari desas desus para pemilih yang berfikir sederhana tapi rasional. Calon Bupati yang kita pilih besok akan memiliki kekuasaan untuk mengatur uang dan juga ingin mendapatkan uang. Maka jika nanti tidak memberi uang maka tidak akan dipilih, tidak berhenti sampai disitu, nanti jika semua memberi uang yang kita pilih yang memberikan terbanyak. Perilaku pemilih yang seperti ini harus menjadi perhatian bagi semua calon yang akan ikut dalam kompetisi.

Ungkapan di atas adalah realita yang terjadi di masyarakat, maka siapapun yang mencalonkan harus berfikir serius, jika tidak punya uang tidak usah maju dalam Pilkada. Pilkada bukan urusan ego sektoral untuk memenangkan kader yang dianggap baik, hasil istikharah, waktunya kader  sebuah organisasi tertentu yang mimpin, kecewa karena dulu kader yang menjabat diganti tanpa koordinasi atau alasan lain klasik lainnya. 

Politik kekuasaan syarat kepentingan global yang menyangkut aspek ekonomi dan agenda membangun infrastruktur. Maka jangan bermain setengah setengah, mengedepan emosi dan ego kelompok untuk mengusung seorang calon. Kasihan nanti warga organisasi yang akan menjadi korban salah perhitungan dan keangkuhan pribadi. 

Kepada rakyat pemilih yang cerdas, saatnya menggunakan kemerdekaan hak pilihnya untuk menentukan calon yang bermanfaat bagi kemajuan yang kita cintai. Kita butuh Manajer Birokrasi yang handal, berpengalaman dan tahu masalah rakyat, bukan yang coba coba!

***

*) Oleh : HM Basori M.Si, Direktur Sekolah Perubahan, Training, Research, Consulting, and Advocasy.

*)Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

 

____________
**) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]

**) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.

Advertisement



Editor : Hainorrahman
Publisher : Lucky Setyo Hendrawan

TERBARU

Togamas - togamas.com

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES