Kopi TIMES

Hedonisme Guru

Sabtu, 15 Juni 2024 - 16:29 | 18.64k
Hery Setyawan, M.Pd., Guru di SMPN 42 Jakarta dan Guru Penggerak Angkatan 8 Jakarta Utara
Hery Setyawan, M.Pd., Guru di SMPN 42 Jakarta dan Guru Penggerak Angkatan 8 Jakarta Utara

TIMESINDONESIA, JAKARTA – Pemerintah secara resmi telah menerbitkan Peraturan Pemerintah No 14 Tahun 2024 yang mengatur tentang pemberian gaji 13 kepada aparatur sipil negara, pensiunan, penerima pensiun, dan penerima tunjangan. Harapannya setelah pencairan gaji 13 tersebut selain sebagai penghargaan atas kontribusi kepada ASN yang telah bekerja keras memberikan pelayanan kepada masyarakat. Serta upaya dari pemerintah untuk mendorong peningkatan kinerja yang dilakukan oleh ASN agar lebih baik lagi.

Hal itu tentunya disambut baik oleh berbagai kalangan termasuk guru yang berstatus PNS dan PPPK saja yang mendapatkan gaji 13 tersebut. Apalagi dalam waktu yang bersamaan pemerintah juga berjanji akan mengeluarkan tunjangan profesi guru (TPG) tentunya ini semakin menambah kebahagian guru. Ini sebagai komitmen pemerintah yang akan terus memperbaiki kesejahteraan guru.

Semakin meningkatnya kesejahteraan guru seharusnya menambah diiringi dengan perbaikan kinerja guru. Tetapi justru menjadikan guru lebih santai dan bahkan menjurus ke gaya hidup hedonisme. Kita sering melihat guru yang banyak menghabiskan waktunya di luar untuk belanja, atau sekedar menghabiskan waktunya untuk makan restoran yang cukup mahal. Padahal banyak yang bisa dilakukan oleh guru di sekolah. Bukan tidak boleh untuk melakukan berbagai kegiatan tersebut tetapi harus bisa dilakukan secara bijak tanpa harus meninggalkan tupoksinya sebagai seorang guru.

Presiden Joko Widodo sendiri seringkali mengingatkan kita untuk tidak bergaya hidup mewah. Hedonisme sendiri kita dapat melihatnya dalam konteks sosial dan profesional sering kali dilihat sebagai sebuah paradoks. Bagaimana seorang guru dapat menggabungkan keinginan untuk kebahagiaan pribadi dengan tanggung jawab profesionalnya? Pertanyaan ini menjadi semakin relevan dalam era dimana tekanan akademik, tanggung jawab sosial, dan keharusan memenuhi ekspektasi institusional semakin terasa kuat.

Istilah hedonisme itu sendiri  merujuk pada pandangan bahwa pencarian kebahagiaan dan kenikmatan adalah tujuan utama dalam hidup. Dalam konteks pendidikan, pendekatan ini dapat diinterpretasikan dalam berbagai cara. Secara umum, guru-guru yang mengikuti prinsip hedonisme mungkin cenderung mencari cara untuk meningkatkan kebahagiaan pribadi mereka dalam kehidupan sehari-hari mereka, baik melalui pencapaian akademik, penghargaan dari siswa, atau pengembangan diri secara pribadi.

Namun demikian menjadi tantangan seorang guru ketika realitas profesi seringkali menghadirkan tantangan yang memaksa mereka untuk menyeimbangkan keinginan pribadi dengan tanggung jawab profesional. Guru bertanggung jawab tidak hanya terhadap kemajuan akademik siswa mereka tetapi juga terhadap kesejahteraan sosial, moral, dan emosional mereka. Mereka juga harus mematuhi pedoman kurikulum yang ditetapkan oleh institusi pendidikan dan kebijakan pemerintah.

Integrasi hedonisme dalam konteks profesi guru bisa menjadi sebuah konflik batin. Bagaimana seorang guru mengejar kebahagiaan pribadi tanpa mengorbankan tanggung jawab profesionalnya? Salah satu pendekatan yang mungkin adalah dengan menciptakan ruang untuk pengembangan pribadi yang sehat di luar jam kerja, seperti hobi atau kegiatan rekreasi yang menyenangkan. Dengan memastikan bahwa mereka merasa bahagia dan puas secara pribadi, guru dapat meningkatkan kualitas pengajaran dan interaksi mereka dengan siswa.

Tidak dapat dipungkiri bahwa kebahagiaan pribadi seorang guru dapat berdampak langsung pada pengajaran mereka. Guru yang merasa terbebani atau tidak bahagia mungkin kurang mampu memberikan dukungan dan inspirasi yang diperlukan oleh siswa mereka. Namun demikian, kesadaran akan tanggung jawab mereka terhadap perkembangan dan kesuksesan siswa tetap menjadi prioritas utama yang tidak boleh diabaikan.

Sebagai solusi, penting bagi setiap guru untuk mengembangkan strategi penyeimbangan yang sehat antara kebutuhan pribadi dan profesional mereka. Ini dapat mencakup praktik meditasi, olahraga, atau waktu untuk merawat diri yang membantu mengurangi stres dan meningkatkan kesejahteraan secara keseluruhan. Dengan memiliki pendekatan yang seimbang, seorang guru dapat mencapai kepuasan pribadi sambil tetap efektif dalam peran mereka sebagai pendidik.

Guru merupakan profesi yang digugu dan ditiru oleh setiap siswanya oleh karena itu harus dapat mengembangkan strategi penyeimbangan yang sehat antara kebutuhan pribadi dan profesional mereka. Ini dapat mencakup praktik meditasi, olahraga, atau waktu untuk merawat diri yang membantu mengurangi stres dan meningkatkan kesejahteraan secara keseluruhan. Dengan memiliki pendekatan yang seimbang, seorang guru dapat mencapai kepuasan pribadi sambil tetap efektif dalam peran mereka sebagai pendidik.

***

*) Oleh : Hery Setyawan, M.Pd., Guru di SMPN 42 Jakarta dan Guru Penggerak Angkatan 8 Jakarta Utara.

*)Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

*) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

*) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]

*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.

Advertisement



Editor : Hainorrahman
Publisher : Sholihin Nur

TERBARU

Togamas - togamas.com

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES