Kopi TIMES

Kehidupan Sempurna Adalah Kemustahilan

Jumat, 21 Juni 2024 - 15:33 | 8.37k
Thoriq Al Anshori, Dosen Fakultas Agama Islam, Sekretaris Pesantren Kampus Ainul Yaqin, Universitas Islam Malang (UNISMA).
Thoriq Al Anshori, Dosen Fakultas Agama Islam, Sekretaris Pesantren Kampus Ainul Yaqin, Universitas Islam Malang (UNISMA).

TIMESINDONESIA, MALANG – Ungkapan dalam pepatah B. Arab menyatakan:

الحياة لا تصفو لأحد

Yang berarti kehidupan tak selalu mulus seperti yang diinginkan oleh seseorang. Semua tergantung yang menata dan menciptakan kehidupan. Kehidupan juga tidak akan mungkin bersih dari problem atau masalah. Bahagia itu sebenarnya sederhana. Ketika tidak ada banyak hal dalam fikiran kita, maka kebahagiaan kita akan semakin banyak meskipun atas sesuatu yang sederhana. Al Imam Ibnu Athoillah As Sakandari mengatakan :

لِيِقِلَّ مَا تَفْرَحُ بِهِ يَقِلَّ مَا تَحْزَنُ عَلَيْهِ
“Tatkala berkurang apa yang membuatmu bahagia, maka berkurang pula apa yang membuatmu sedih”. (Al-Hikam : hlm 45)

Mata anak kecil memandang banyak sekali wanita, namun di matanya hanya ibunyalah yang paling cantik meski ibunya buruk rupa. Maka ibunyalah satu satunya sosok yang benar-benar mendapatkan tempat utama di hatinya. Lalu banyak orang yang pernah dilihat olehnya sama sekali memiliki arti baginya. Ini adalah rahasia kebahagiaan hati anak kecil. Sepatutnya kita belajar dari anak kecil. Yang dapat menikmati kebahagiaan dari hal-hal sederhana yang sudah dimiliki yang tentu sangat istimewa.  

Al Habib Ali al Jufri pernah berkata seputar cara mensyukuri nikmat yang kita miliki; “sebelum kalian meminum seteguk air coba bayangkan di    Afrika sana setiap harinya ribuan orang mati karena tidak menemukan air bersih. Maka lihatlah mereka yang memiliki nikmat yang lebih sedikit dari kalian dan janganlah melihat mereka yang diatas kalian. Dengan begitu kalian tak akan meremehkan nikmat-nikmat Allah atas kalian”. 

INFORMASI SEPUTAR UNISMA DAPAT MENGUNJUNGI www.unisma.ac.id

Jika dapat mensyukuri hal hal sederhana yang dimiliki maka ridha Allah aakan dengan sangat mudah kita gapai. Bagaimakah cara mengetahuinya? Jika ingin tahu apakah Allah ridha atau tidak maka hendaknya kita melihat pada diri sendiri apakah diri ini juga ridho kepada setiap ketetapanNya? Karena sesungguhnya seberapa ridha diri kita kepada ketetapanNya sebesar itu pula Ridha Allah kepada diri. Semua bergantu pada diri sendiri.

Rasa tidak ridha atas ketentuan dan ketetapan Allah SWT sangat berbahaya bagi kehidupan seorang hamba karena dapat mengakibatkan seseorang tidak terima atas apa yang diperbuat oleh sang maha pencipta. Bahkan dengan tegas dalm satu hadith qudsi dijelaskan Allah berkata “barangsiapa yang tidak ikhlas dan ridha atas apa yang sudah ku tetapkan maka hendaknya keluar dari kerajaanku dan mencari tuhan selain aku.” Maka siapa diantara kita yang dapat keluar dari alam semesta ini sementara alam semesta ini adalah ciptaanNya.

Sikap tidak terima atas ketetapan Allah ini rawan dimiliki oleh orang yang kurang menyadari bahwa kehidupan pasti tidak sesempurna yang dikira. Pasti ada bumbu-bumbu kehidupan yang kurang menyenangkan. Maka mensyukuri hal hal yang swederhana yang kita miliki menjadi kunci utama hidup Bahagia. ***

INFORMASI SEPUTAR UNISMA DAPAT MENGUNJUNGI www.unisma.ac.id

*) Penulis: Thoriq Al Anshori, Dosen Fakultas Agama Islam, Sekretaris Pesantren Kampus Ainul Yaqin, Universitas Islam Malang (UNISMA).

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi timesindonesia.co.id

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.

Advertisement



Editor : Dhina Chahyanti
Publisher : Rochmat Shobirin

TERBARU

Togamas - togamas.com

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES