Kopi TIMES

Belajar Dari Sebuah Terompah

Sabtu, 22 Juni 2024 - 13:34 | 9.50k
Thoriq Al Anshori, Dosen Fakultas Agama Islam, Sekretaris Pesantren Kampus Ainul Yaqin Universitas Islam Malang (UNISMA).
Thoriq Al Anshori, Dosen Fakultas Agama Islam, Sekretaris Pesantren Kampus Ainul Yaqin Universitas Islam Malang (UNISMA).

TIMESINDONESIA, MALANG – Sepatutnya setiap orang selalu belajar berfikir secara luhur dan luwes meskipun itu berkaitan dengan terompah sekalipun. Pada suatu hari terompah Sahabat Besar Nabi SAW yaitu Abdullah Bin Mas’udtelah dicuri. Beliau kemudian bermunajat “Ya Allah jika memang pencuri itu butuh maka berkahilah terompah yang diambil, namun jika dia tidak membutuhkannya maka jadikanlah itu sebagai dosa terakhirnya.”

Dalam hal yang sama suatu ketiuka Mahatma Gandi lari mengejar kereta, ketika ia sudah berhasil naik, tiba-tiba terompah sebelah kanannya jatuh, melihat hal itu langsung saja dia berusaha mengambil terompahnya yang kiri dan melemparkannya di dekat sandal kanan yang jatuh itu. Saat ditanya mengapa melakukan hal demikian ia menjawab, “Aku berharap kedua terompahku itu bisa ditemukan oleh orang faqir miskin dan aku berharap bisa bermanfaat untuknya.

INFORMASI SEPUTAR UNISMA DAPAT MENGUNJUNGI www.unisma.ac.id

Kita belajar kejernihan hati, keikhlasan serta ketulusan dari Abdullah bin Mas’ud yang sadar benar bahwa terompahnya yang hilang juga atas kehendak Allah SWT maka beliau pun tidak ambil pusing. Sehingga dengan santai ketika kehilangan berdoa dengan doa yang menakjubkan. Untuk kebaikan yang mengambil terompahnya juga. Bukan semata karena emoso atau sejenisnya. Lalu kita belajar pula akhlak sosial yang luar biasa dari seorang Mahatma Gandi, betapa beliau tidak pernah melewatkan apapun dari kebaikan. Sekecil apapun celahnya. Karena hidup bukan hanya tentang mendapat namun juga berbagi, bergerak dan memberi dampak.

Kehidupan ini telah diatur oleh Allah SWT semuanya tanpa terkecuali. Dan perlu slelau diingat yang mengaturnya adalah yang maha Penyayang, maha Pengasih Maha Baik kepada diri kita bahkan melebihi diri kita sendiri. Jadi jika masih mengeluh apalagi hingga tak menerima kenyataan apalagi sampai putus asa itu berarti secara tidak langsung dalam diri masih ada rasa curiga bahwa Allah tidak benar dalam mengatur kehidupan kita. Allah telah melakukan kesalahan dalam mengurus kehidupan kita, wal iyaadhu billah. Hal ini disebut sebagai suudzon terhadap Allah SWT.

Mestinya kita yakin bahwa apa yang Allah tetapkan adalah yang terbaik. Dan Allah tak akan pernah membebani hambaNya sesuatu yang tidak mungkin untuk dilewati dan tidak mampu untuk dihadapi. Semua ada takaran masing-masing. Laa yukallifullaahu nafsan illa wus’ahaa. Andai saja tabir ghaib dibuka di hadapan kita, maka kita tak akan memilih kecuali kehidupan yang telah kita jalani. ***

INFORMASI SEPUTAR UNISMA DAPAT MENGUNJUNGI www.unisma.ac.id

*) Penulis: Thoriq Al Anshori, Dosen Fakultas Agama Islam, Sekretaris Pesantren Kampus Ainul Yaqin Universitas Islam Malang (UNISMA).

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi timesindonesia.co.id

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.

Advertisement



Editor : Dhina Chahyanti
Publisher : Rochmat Shobirin

TERBARU

Togamas - togamas.com

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES