Kopi TIMES

Fenomena Baru Pasar Keagamaan di Indonesia

Senin, 01 Juli 2024 - 11:53 | 13.84k
Muhammad Hafizh Renaldi, S.Sos., Magister Interdisciplinary Islamic Studies UIN Sunan Kalijaga
Muhammad Hafizh Renaldi, S.Sos., Magister Interdisciplinary Islamic Studies UIN Sunan Kalijaga

TIMESINDONESIA, YOGYAKARTA – Dalam perjalanan panjang umat manusia melalui kacamata evolusi sosial, masyarakat kita memulai kehidupan nomaden menuju agrikultur yang kemudian berlanjut kepada masyarakat industri dan pada akhirnya sampai ke tahap masyarakat informasi. Rentetan perjalanan sejarah ini kemudian di asimilasi ke dalam perjalanan panjang kemajuan di bawah bimbingan akal dengan sesekali berdoa kepada tuhan untuk berjaga-jaga. 

Saat ini kita sedang merasakan konsekuensi langsung sebagai bagian dari masyarakat informasi tersebut, dimana penemuan dan penyebaran teknologi bisa berdampak terhadap perubahan budaya, organisasi dan kelembagaan dalam sebuah negara (Castells, 2004). Tidak terkecuali dalam ranah keagaman, dengan majunya teknologi informasi beberapa penceramah menggunakan beragam cara untuk menarik kelompok, termasuk anak muda dalam proses penyemaian wacana keagamaan di Indonesia (Muthohirin, 2021).

Penyebaran konten dakwah di media sosial yang kreatif dan tata kelola kegiatan keagamaan yang lebih modern menjadi salah satu faktor yang mampu untuk menarik perhatian dan membentuk perilaku keagamaan anak muda muslim Indonesia. Pada tulisan ini, penulis ingin menelusuri lebih dalam mengenai fenomena kegiatan keagamaan yang dilakukan oleh Ustadz Hanan Attaki melalui event ‘Sharing Time UHA’. 

Kegiatan ini dikelola secara terorganisir dan kreatif oleh event organizer yang bernama ‘Ayah Amanah Event Organizer’ atau ‘am.event’. Menariknya kegiatan ini hanya dilangsungkan di beberapa kota besar pulau jawa dengan target audiens anak muda dan kelas menengah muslim perkotaan. Event ini, bagi penulis menjadi gelombang kedua dari perkembangan dakwah yang dilakukan oleh Ustadz Hanan Attaki setelah ia berhasil memimpin gerakan pemuda hijrah yang ada di Bandung. 

Dari Fragmentasi Membentuk Pasar Baru

Adanya fragmentasi seperti ini terjadi karena teknologi telah bekerja untuk melahirkan ‘pasar keagamaan baru’ yang ditandai dengan partisipasi individu dan kelompok, pluralitas suara yang memiliki otoritas yang sama serta terciptanya hubungan horizontal antara produsen dan konsumen pengetahuan (Moll, 2012). Kerangka kerja yang ada kemudian berada dalam formulasi terkuatnya dengan menyatakan bahwa teknologi telah berhasil melakukan demokratisasi dan individualisasi Islam yang membuat otoritas keagamaan tidak lagi berada pada lembaga tradisional, namun pada keyakinan individu seorang muslim yang mengarah kepada subjektifitas keagamaan baru dengan lebih menciptakan kembali tradisi daripada membawakannya secara utuh.

Melalui event ‘Sharing Time UHA’ ini, penulis melihat telah terjadinya pertemuan perilaku keagamaan baru dan karakter keagamaan anak muda, yang di satu sisi terlihat inklusif dengan tren perkembangan budaya, akan tetapi di sisi lain terlihat cenderung ekslusif dalam merespon sejumlah wacana-wacana sekuler dan berbagai isu negara serta kebangsaan seperti demokrasi, hak asasi manusia hingga liberalisme. 

Beberapa audiens yang pernah mengikuti event ini menyatakan bahwa kehadiran mereka hanyalah untuk mengisi kekosongan spiritual dan menyikapi permasalahan hidup yang kian kompleks, tidak sampai kepada ingin mendiskusikan mengenai keputusan dan ketetapan hukum islam hingga problematika kebangsaan. Segala bentuk pertanyaan mereka dijawab dengan model penalaran diskursif yang bisa membuat nyaman para jama’ah dan ini sejalan dengan apa yang dinyatakan oleh (Moll, 2012) bahwa bukan otoritas yang diklaim dimiliki oleh para dai, melainkan ketulusan.

Dalam konteks ini, penulis juga melihat fragmentasi lainnya, dimana telah terjadinya pergeseran dan negosiasi ulang antara dakwah islam tradisional dengan dakwah anak muda. Dakwah anak muda telah mengalami beberapa perubahan jika dibandingkan dengan dakwah anak muda yang telah ada sebelumnya. 

Sebelumnya, dakwah anak muda cenderung monolitik atau dipengaruhi oleh salah satu pola pikir tokoh yang berpengaruh dalam gerakan dakwahnya. Sedangkan dakwah anak muda saat ini menuju ke arah yang lebih hybrid yang memiliki pandangan ideologi dan afiliasi yang beragam serta mengarah kepada wacana keagamaan pasar (Rosidi, 2022).

Hal ini dikarenakan telah terjadi perubahan sosial yang begitu cepat dengan adanya industrialisasi, urbanisasi dan modernisasi, sejalan dengan apa yang dinyatakan (Ismail, 2003) bahwa kondisi ini kemudian melahirkan gagasan-gagasan mengenai ketercabutan dan kekecewaan di antara segmen masyarakat tertentu, termasuk anak muda yang mengalami frustasi untuk mobilitas sosial dan melawan cara hidup yang modern.

Pasar Baru Keagamaan 

Audiens yang pernah mengikuti event ini juga mengatakan bahwa, tidak ada permasalahan ketika event yang dilaksanakan berbayar, karena dianggap sesuai dengan apa yang didapatkan seperti materi yang bagus dan tempat nyaman yang sangat berpengaruh dalam proses belajar dan membuat kesan tersendiri pada setiap orang yang datang. Hal ini menunjukkan bahwa adanya sebuah fenomena berdakwah sekaligus berbisnis yang merupakan etika kapitalisme pemasaran bisnis di era dakwah populer saat ini atau dalam istilah protestan hal ini disebut sebagai ‘semangat kapitalisme’, semangat yang menyatukan antara semangat ibadah dan kewirausahaan (Romadi, Irham, & Saputra, 2022).

Dengan adanya proses modernisasi, agama memiliki hubungan yang intim dengan ekonomi pasar melalui sebuah ‘alur rasional’ dimana kegiatan dakwah telah dikembangkan menjadi komoditas yang diproduksi, didistribusikan lalu dikonsumsi melalui mekanisme ekonomi pasar, yang pada akhirnya melahirkan dimensi krusial dalam pembentukan aspek sosial, budaya dan keagamaan di Indonesia saat ini.

Meretas Batas Komunitas

Fenomena lainnya yang dapat dilihat dari event ‘Sharing Time UHA’ ini, bahwa adanya keinginan dari event organizer ‘am.event’ untuk membangun komunitas yang saling mendukung, berbagi pengetahuan dan menjunjung tinggi nilai-nilai kebersamaan serta kebaikan, seperti yang tertuang dalam misi mereka. Meminjam istilah (Anderson, 2006) melalui kacamata ‘kapitalisme cetak’ yang bisa membuat semakin banyak orang untuk berpikir mengenai diri mereka sendiri dan menghubungkan diri mereka dengan orang lain menggunakan cara-cara yang baru. Namun dalam hal ini  komunitas pada dasarnya mempunyai batasan tertentu dan pada saat yang sama tidak memiliki hubungan secara kebetulan dengan batas-batas politik yang ada.

Formasi sosial yang dibentuk melalui komunitas/gabungan audiens ‘am.event’ ini tentu berbeda dengan komunitas yang didefinisikan oleh (Anderson, 2006). Komunitas ini terkesan eklektik, pluralistik dan sinkretik. Ia belum mampu untuk menciptakan kesatuan dan keintiman dalam komunikasi. Komunitas ini berusaha untuk meretas batas ‘komunitas yang dibayangkan’ dan menghadirkan entitas sosial yang heterogen. Di tengah perubahan yang terjadi, terdapat hubungan antara aktivitas keagamaan offline dan online yang berkaitan erat dengan kegiatan dan pasar keagamaan baru yang ada di Indonesia. 

Bagi (Lengauer, 2018), istilah komunitas menurut Bahasa Indonesia yang digunakan dalam konteks ini, bukan ‘masyarakat’ yang merupakan penerjemahan dari kata ‘komunitas’ dikarenakan secara analitis, istilah ini berupaya untuk menjauhkan diri dari pendefinisian klasik mengenai komunitas yang memiliki ikatan secara fisik atau ‘komunitas yang dibayangkan’ dengan sarat akan emosi dan secara empiris ‘komunitas’ yang dimaksud mencoba untuk menangkap kehadiran sosialitas kontemporer pada konteks internasional bersama dan konteks spesifik lapangan pada pertemuan online dan offline.

Catatan Akhir Penulis

Perubahan praktik beragama di Indonesia saat ini bukan lagi hanya didorong oleh semangat keagamaan, namun juga melalui formasi sosial baru, ambiguitas budaya dan transformasi teknologi yang begitu cepat. Kegiatan keagamaan kontemporer dijadikan sebagai tempat berlabuh secara sosial untuk mengisi kekosongan emosional dan pengalaman spiritual melalui fenomena baru pasar keagamaan di Indonesia. 

***

*) Oleh : Muhammad Hafizh Renaldi, S.Sos., Magister Interdisciplinary Islamic Studies UIN Sunan Kalijaga.

*)Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

*) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

*) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]

*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.

Advertisement



Editor : Hainorrahman
Publisher : Ahmad Rizki Mubarok

TERBARU

Togamas - togamas.com

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES