Kopi TIMES

Pemulihan Sempadan Sungai: Pilar Utama dalam Mitigasi Banjir dan Konservasi Lingkungan

Kamis, 04 Juli 2024 - 08:38 | 16.24k
Rahmi Awallina, S.TP., MP., Dosen Departemen Teknik Pertanian dan Biosistem Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Andalas.
Rahmi Awallina, S.TP., MP., Dosen Departemen Teknik Pertanian dan Biosistem Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Andalas.

TIMESINDONESIA, PADANG – Pertumbuhan populasi yang pesat telah menyebabkan ketidakseimbangan antara jumlah penduduk dengan ketersediaan lahan, terutama untuk keperluan pertanian dan permukiman. Akibatnya, banyak masyarakat yang terpaksa mengembangkan permukiman dan lahan pertanian di area yang seharusnya dilindungi, seperti sempadan sungai. 

Sayangnya, pemanfaatan sempadan sungai tanpa memperhatikan prinsip konservasi membuat kawasan tersebut menjadi rentan terhadap erosi dan tanah longsor, yang pada akhirnya meningkatkan sedimentasi di bagian hilir sungai. Selain itu, pembukaan hutan untuk pertanian juga meningkatkan aliran permukaan air hujan, memperbesar debit sungai, dan mengurangi kemampuan tanah untuk menyerap air, sehingga debit sungai melonjak pada musim hujan dan turun drastis saat kemarau, meningkatkan risiko banjir dan kekeringan.

Sungai adalah bagian vital dari lingkungan hidup yang memberikan banyak manfaat, termasuk sebagai sumber air dan habitat bagi ikan serta biota lainnya. Oleh karena itu, melindungi sungai dari pencemaran dan kerusakan sangatlah penting. Sungai berfungsi menampung air hujan dan mengendalikan debit air yang turun ke tanah, sehingga tanpa keberadaan sungai atau dengan sungai yang dangkal, air hujan akan menyebar dan menyebabkan banjir. 

Menurut Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, salah satu penyebab utama banjir adalah penggunaan sempadan sungai sebagai pemukiman. Penggantian lahan alami dengan bangunan dan permukaan kedap air tanpa antisipasi yang memadai mengurangi infiltrasi air hujan ke dalam tanah, meningkatkan aliran permukaan yang menyebabkan banjir. Selain itu, hilangnya sempadan sungai juga mempercepat erosi tebing sungai, mengancam bangunan atau fasilitas umum lainnya karena arus sungai.

Berdasarkan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia, sempadan sungai berfungsi sebagai penyangga antara ekosistem sungai dan daratan untuk mencegah gangguan antara fungsi sungai dan aktivitas manusia. Lebar sempadan sungai ideal yang ditetapkan sering kali sulit ditemukan, terutama di daerah perkotaan, dan kondisi ini juga jarang terlihat di wilayah Sumatera Barat.

Peningkatan erosi tebing menyebabkan sungai menjadi lebih lebar, dangkal, dan landai, mengurangi kapasitas alirannya, dan membuatnya lebih rentan terhadap banjir. Kondisi ini berdampak negatif pada kehidupan akuatik, dengan banyaknya spesies yang mengalami penurunan populasi atau bahkan punah karena kehilangan vegetasi di sempadan sungai. Dengan lebih banyak paparan sinar matahari, area sekitar sungai menjadi lebih panas, meningkatkan suhu air dan menurunkan kadar oksigen terlarut, yang mengganggu habitat biota air dan mengurangi keanekaragaman hayati di sungai dan sekitarnya.

Pemulihan sempadan sungai adalah langkah penting untuk memperbaiki dan mempertahankan fungsi sungai. Perbaikan sempadan sungai membawa manfaat besar, termasuk pemulihan keseimbangan ekosistem dan pelestarian daerah resapan air, yang membantu mengurangi risiko banjir dan kekeringan. Untuk keberlanjutan jangka panjang, pengendalian sempadan sungai diperlukan guna menciptakan keseimbangan yang harmonis dan berkelanjutan antara fungsi sungai dan kehidupan manusia. 

Salah satu cara efektif untuk mengendalikan kondisi sempadan sungai adalah melalui konservasi, termasuk penanaman vegetasi. Penelitian menunjukkan bahwa jenis bambu seperti Gigantochloa atter dan Bambusa vulgaris, dengan sistem perakaran yang rapat dan kanopi yang lebat, sangat efektif sebagai tanaman konservasi tanah dan air di sempadan sungai.

Namun, konservasi tidak akan berhasil tanpa partisipasi aktif masyarakat. Oleh karena itu, dibutuhkan inisiatif “KONDUKSI: Konservasi Sempadan Sungai Berbasis Edukasi Spasial,” yang melibatkan edukasi masyarakat dengan menggunakan konsep spasial. Edukasi ini menekankan bahwa sempadan sungai harus dilindungi dan ditanami tumbuhan di sepanjang sisinya untuk menjaga ekosistem perairan.

Sempadan sungai berfungsi sebagai zona pelindung yang menjaga ekosistem sungai, memastikan fungsinya berkelanjutan dalam jangka panjang. Diharapkan konsep spasial ini dapat meningkatkan pemahaman masyarakat tentang batasan, fungsi, dan pentingnya sempadan sungai dalam melestarikan lingkungan.

Keberhasilan pengelolaan konservasi sempadan sungai sangat bergantung pada partisipasi masyarakat. Ketika masyarakat terlibat dalam konservasi, ini menunjukkan pemahaman dan kesadaran mereka tentang pentingnya sempadan sungai. Tanpa paksaan, masyarakat akan mengetahui batasan dan tindakan yang tepat untuk mendukung kelestarian sungai.

Sempadan sungai memainkan peran vital dalam ekosistem. Sebagai zona transisi antara daratan dan aliran air, sempadan ini membantu melindungi kualitas air, mengurangi erosi, dan menyediakan habitat bagi berbagai spesies. Namun, dengan meningkatnya aktivitas manusia seperti pembangunan permukiman dan pertanian di sepanjang sempadan sungai, fungsi alami ini sering terganggu. Kegiatan konservasi sempadan sungai menjadi sangat penting untuk memulihkan dan mempertahankan fungsi-fungsi ini.

Kegiatan konservasi sempadan sungai memiliki beberapa tujuan utama yang sangat penting untuk ekosistem dan kesejahteraan manusia. Pertama, kegiatan ini bertujuan untuk menstabilkan tebing sungai dengan mengurangi erosi dan tanah longsor melalui penanaman vegetasi yang kuat dan tahan terhadap aliran air. Kedua, konservasi berupaya memulihkan habitat alami dengan mengembalikan vegetasi asli yang dapat menyediakan tempat hidup bagi flora dan fauna lokal, sehingga meningkatkan keanekaragaman hayati di sekitar sungai. 

Selain itu, vegetasi di sempadan sungai berperan penting dalam menyaring polutan dari air hujan sebelum memasuki aliran sungai, yang pada gilirannya meningkatkan kualitas air. Upaya konservasi ini juga bertujuan mengurangi risiko banjir dan kekeringan, di mana vegetasi dan tanah di sempadan sungai berfungsi sebagai penahan dan penyimpan air yang membantu mengatur aliran air selama musim hujan dan kekeringan. Terakhir, kegiatan konservasi sempadan sungai mendorong partisipasi masyarakat lokal, dengan melibatkan mereka dalam berbagai aktivitas konservasi untuk meningkatkan kesadaran dan partisipasi dalam menjaga kelestarian lingkungan.

Upaya konservasi sempadan sungai melibatkan berbagai strategi penting yang bertujuan melindungi dan memulihkan ekosistem sungai secara holistik. Salah satu langkah utama adalah penanaman vegetasi lokal, termasuk jenis bambu seperti Gigantochloa atter dan Bambusa vulgaris yang memiliki sistem perakaran rimpang kuat, efektif dalam menstabilkan tebing sungai dan mengurangi erosi. Selain itu, penanaman pohon dan semak lokal juga berperan dalam meningkatkan stabilitas tanah serta menyediakan habitat bagi satwa liar.

Pengelolaan erosi dan sedimentasi dilakukan melalui pembangunan struktur bioengineering, seperti dinding hidup, yang membantu mengendalikan erosi tebing. Teknik pengendalian sedimen juga diperkenalkan untuk mengurangi pengendapan di hilir sungai, sehingga memperbaiki aliran dan kualitas air. Untuk meningkatkan kesadaran dan keterlibatan masyarakat, kampanye edukasi dan pelatihan diadakan untuk mengedukasi tentang pentingnya konservasi sempadan sungai. Selain itu, program partisipatif dirancang untuk melibatkan masyarakat dalam proyek penanaman dan pemeliharaan vegetasi, memastikan keberlanjutan jangka panjang dari upaya konservasi ini.

Pemantauan dan evaluasi juga merupakan bagian penting dari strategi konservasi. Pemantauan dilakukan secara berkala terhadap kondisi sempadan sungai untuk menilai efektivitas upaya konservasi, sementara evaluasi dampak dilakukan untuk mengukur perubahan yang terjadi pada kualitas air, stabilitas tebing, dan keanekaragaman hayati akibat kegiatan konservasi ini.

Upaya konservasi sempadan sungai merupakan langkah penting dalam menjaga stabilitas ekosistem sungai dan memitigasi dampak negatif dari degradasi lingkungan. Strategi yang diterapkan meliputi penanaman vegetasi lokal, pengelolaan erosi dan sedimentasi, serta edukasi dan partisipasi masyarakat.

Upaya konservasi sempadan sungai melibatkan beberapa strategi penting. Pertama, penanaman vegetasi lokal, seperti bambu Gigantochloa atter dan Bambusa vulgaris, efektif dalam menstabilkan tebing sungai dan mengurangi erosi. Selain itu, penanaman pohon dan semak lokal berperan penting dalam meningkatkan stabilitas tanah dan menyediakan habitat bagi flora dan fauna, yang pada gilirannya meningkatkan keanekaragaman hayati.

Kedua, pengelolaan erosi dan sedimentasi dilakukan melalui metode bioengineering, seperti pembangunan dinding hidup, serta pengendalian sedimen, yang membantu mengurangi sedimentasi di hilir sungai. Langkah-langkah ini berkontribusi pada perbaikan aliran dan kualitas air, serta mengurangi risiko banjir dan kekeringan. 

Ketiga, edukasi dan partisipasi masyarakat merupakan kunci keberhasilan jangka panjang. Dengan kampanye edukasi dan pelatihan, masyarakat diberdayakan dan dilibatkan dalam proyek konservasi, yang meningkatkan kesadaran dan partisipasi dalam menjaga kelestarian sempadan sungai. 

Keempat, pemantauan dan evaluasi dilakukan secara berkala untuk menilai efektivitas upaya konservasi. Hal ini memungkinkan penyesuaian strategi berdasarkan dampak terukur terhadap kualitas air, stabilitas tebing, dan keanekaragaman hayati, memastikan keberlanjutan upaya konservasi yang telah dilakukan.

Secara keseluruhan, pendekatan konservasi ini tidak hanya melindungi sempadan sungai dari degradasi lebih lanjut tetapi juga memulihkan fungsinya sebagai penyangga alami, membantu dalam pengendalian banjir, penyediaan habitat alami, dan peningkatan kualitas lingkungan. Dukungan dan keterlibatan masyarakat lokal sangat krusial dalam memastikan keberlanjutan dan efektivitas dari upaya konservasi ini.

***

*) Oleh : Rahmi Awallina, S.TP., MP., Dosen Departemen Teknik Pertanian dan Biosistem Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Andalas.

*)Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

 

____________
**) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]

**) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.

Advertisement



Editor : Hainorrahman
Publisher : Lucky Setyo Hendrawan

TERBARU

Togamas - togamas.com

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES