Advertisement
Kopi TIMES

Segudang Masalah Sidoarjo, Bupati Profesional jadi Solusi?

Kabupaten Sidoarjo, seperti yang kita ketahui penuh dengan kekayaan dan potensi, baik alamnya maupun manusianya. Lama kita tahu, bagian utara Sidoarjo ditutupi dengan ham ...

TIMES Indonesia,
Segudang Masalah Sidoarjo, Bupati Profesional jadi Solusi?
Zahni Hafizh Atsari, Mahasiswa dan Politisi Muda
A-AA+

Ruang Menulis untuk Indonesia

Kopi TIMES adalah ruang kolaboratif bagi siapa saja yang ingin menyuarakan ide, pengalaman, dan pemikiran kepada publik luas. Di sini, tulisan lahir dari beragam latar belakang: akademisi, mahasiswa, guru, santri, profesional, pelaku UMKM, pegiat komunitas, aktivis, birokrat, politisi, seniman, hingga warga biasa yang peduli pada isu di sekitarnya.

SIDOARJO Kabupaten Sidoarjo, seperti yang kita ketahui penuh dengan kekayaan dan potensi, baik alamnya maupun manusianya. Lama kita tahu, bagian utara Sidoarjo ditutupi dengan hamparan tambak penghasil udang dan bandeng yang telah menjadi ikon tersendiri bagi Kabupaten Sidoarjo. 

Tak kalah menarik, Kota Delta juga memiliki potensi industri manufaktur yang begitu besar, letak Sidoarjo yang langsung berbatasan dengan Kota Surabaya, Kabupaten Gresik, Kabupaten Mojokerto dan Kabupaten Pasuruan membuat Kota Udang ini memainkan peranan penting dalam berbagai sektor, baik industri manufaktur, transportasi dan logistik maupun pariwisata.

Advertisement

Kendati ribuan potensi terletak di dalamnya, selama dua dekade terakhir ini pembangunan di Sidoarjo terkesan amat lambat, bahkan dalam beberapa sektor malah jalan di tempat. Setidaknya ada tiga poin utama yang menurut hemat saya perlu menjadi perhatian besar; industri manufaktur dan infrastruktur, pariwisata, serta pendidikan. Kita melihat bagaimana potensi Industri Tas dan Koper (INTAKO) di Tanggulangin kian terbengkalai, pariwisata tak diperhatikan, apalagi pendidikan-jauh tertinggal.

INTAKO atau Industri Tas Kulit dan Koper yang terletak di Kecamatan Tanggulangin sempat menjadi sorotan publik sebab keberhasilannya dalam menggapai pasar internasional. Pusat industri yang dulunya mampu memproduksi ribuan olahan tas dan koper kulit itu kini terancam tutup. 

Banyak faktor menjadi pendukung mangkraknya pusat industri tersebut, mulai dari pandemi Covid-19 hingga kurangnya wawasan dan kewaspadaan terhadap dinamika dan kemungkinan kemelut pasar dalam negeri maupun luar negeri. 

Di sinilah peran Pemerintah Kabupaten Sidoarjo sangat diperlukan, pemerintah harus bisa melakukan intervensi terhadap variabel di atas. Banyak hal dapat dilakukan dengan political will yang cukup, mulai dari perancangan perda, insentif, edukasi dan pelatihan para pelaku usaha hingga memfasilitasi pemasaran dan market matching.

Tak kalah penting, sektor pariwisata juga menawarkan daya tarik yang luar biasa dan dapat menjadi sarang PAD (Pendapatan Asli Daerah) untuk Kabupaten Sidoarjo. Potensi wisata Sidoarjo yang tak dapat dihitung dengan jari itu selama ini kurang diperhatikan dan kerap dianggap tidak sexy oleh para pemangku kepentingan. 

Advertisement

Sebagai sebuah contoh, Pulau Lusi yang terletak di Kecamatan Jabon, Kabupaten Sidoarjo diabaikan begitu saja. Pulau kecil hasil endapan sendimentasi lumpur lampindo telah santer diketahui karena keindahannya, di Pulau Lusi para wisatawan dapat berkeliling dengan kapal nelayan atau jet ski dan melihat hiu paus di lepas pantai Sidoarjo. 

Hiu paus yang tengah banyak digandrungi milenial dan generasi Z itu juga ada di Sidoarjo. Dapat kita bayangkan, jika potensi Pulau Lusi dapat dimanfaatkan dengan baik, berapa banyak PAD akan diperoleh Sidoarjo.

Setelah membahas Industri Tas dan Koper Sidoarjo dan Pulau Lusi, sekarang saatnya mengulik mengenai dunia pendidikan. Sebuah kenyataan pahit bagi kita warga Kota Bandeng, dari 18 kecamatan di seluruh Sidoarjo, hanya ada 13 SMA Negeri yang tersebar di 11 kecamatan saja. Balongbendo, Sedati, Tanggulangin, Tulangan, Prambon, Sukodono dan Candi adalah kecamatan-kecamatan kurang beruntung yang tak memiliki SMA Negeri. 

Data untuk SMK Negeri jauh lebih memprihatinkan, hanya ada lima unit SMK Negeri yang tersebar hanya di tiga kecamatan saja. Padahal, menurut data Badan Pusat Statistika Kabupaten Sidoarjo pada tahun 2020 ada sekitar 180.457 jiwa anak usia 15-19 tahun, anak-anak ini adalah anak usia SMA. Jika hal ini tak segera diperbaiki, nasib Sidoarjo yang berada pada generasi mudanya menjadi taruhannya.

Setelah mengulik sedikit dari setumpuk gambaran besar tentang kondisi Kabupaten Sidoarjo, kini saatnya kita berkontemplasi bersama. Apa yang benar-benar dibutuhkan oleh Bumi Jenggala ini? Tahun 2024 ini menjadi tahun yang krusial untuk masa depan kita semua, setelah memilih para legislator dan senator serta Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia februari lalu, dalam waktu dekat ini juga kita akan segera memilih eksekutif tingkat kabupaten/kota dan provinsi, yaitu bupati/wali kota dan gubernur. Kriteria seperti apa kira-kira figur yang cocok untuk memimpin Kabupaten Sidoarjo?

Dalam merumuskan hal tersebut, saya mendapati setidaknya tiga hal yang perlu kita amati dan pertimbangkan dalam memilih calon pemimpin Kota Lumpur: 

Pertama, ia haruslah paham mengenai topografi dan demografi Sidoarjo, nantinya pemimpin kita juga harus paham perencanaan kota, manusia dan desain serta arah dan tujuan pembangunan Sidoarjo. 

Kedua, ia haruslah orang yang paham mengenai pembangunan dan konstruksi kota, membangun kota, baik fisiknya maupun ekosistem pendukungnya tak boleh asal-asalan, harus dipikirkan matang-matang konsep dan eksekusinya. 

Ketiga, harus paham mengenai aturan dan hukum, sehingga selain pembangunannya pesat, Sidoarjo juga harus tertata dan tertib dari segi administrasi hingga legislasi. 

Dalam simpulan saya, latar belakang keilmuan calon yang akan kita pilih harus benar-benar diperhatikan, pengalaman kerja yang nyata dan empiris juga harus menjadi acuan kita. Kira-kira siapakah yang akan mengemban amanah memimpin dan memperbaiki Kabupaten Sidoarjo?. (*)

***

*) Oleh : Zahni Hafizh Atsari, Mahasiswa dan Politisi Muda.

*)Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

*) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

*) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]

*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia